Tentang Perasaan Tak Suka pada Orang Lain

quote-all-of-us-admire-people-we-don-t-like-and-like-people-we-don-t-admire-malcolm-muggeridge-126-16-57

Perasaan tidak suka pada orang lain itu wajar, seperti juga beberapa orang tak suka kepada kita. Saya seketika menyadari ada beberapa orang di dalam lingkaran pergaulan yang tidak saya sukai. Alasannya sederhana saja, ternyata mereka tak terlalu asik menurut pengertian asik saya.

Saya ingat beberapa dari mereka sempat saya favoritkan, tetapi seiring dengan berjalannya waktu sikap mereka berubah. Barangkali memang sifat mereka sejak awal begitu, hanya saja saya menganggap mereka berbeda. Entahlah. Namun tetap rasa tak suka itu makin membesar saja. Sama seperti rasa suka, rasa tak suka itu menghantui kita. Kita jadi malas melihatnya muncul, agak kesal jika dia berulah dan anehnya membuat kita sering mencari tahu tentang aktivitasnya. Hal itulah yang membuat saya menulis blogpost ini. Betapa perasan tak suka pada seseorang itu tak sehat sama sekali dan tak bagus buat kejiwaan kita.

Perasaan tak suka pada seseorang itu wajar. Manusia pada dasarnya memiliki ekspetasi dan cita-cita tentang kehidupan salah satunya adalah menentukan siapa saja dan bagaimana watak orang yang bisa dekat dengannya. Berteman juga memiliki kriteria tertentu seperti jodoh. Kriteria jodohmu apa? *Ehgimana.. Kebanyakan sih orang lebih suka berteman dengan mereka yg memiliki watak sama dengan dirinya dan cenderung menjauhi orang yg berbeda dengan dirinya. Hal inilah yang Kemudian yang menjadi trigger rasa tak suka pada seseorang. Bisa dibilang karateristik watak yang menjadi pemicu ketidaksukaan.

Selain watak, perilaku merupakan hal yang juga menjadi dasar kita tidak menyukai seseorang. Fawcet, seorang profesor keperawatan jiwa menulis bahwa respon perilaku manusia atas suatu masalah dibagi empat:

cmec0501

  1.  Perilaku assertif
    Ini adalah perilaku positif. Orang lebih cenderung menerima keberagaman, positif terhadap kehidupan, menghargai orang lain, tidak terlalu peduli pendapat orang lain. Kita akan jarang membenci orang seperti ini, tetapi tetap saja yah ada yg membenci
  2.  Perilaku Pasif/non asertif
    Berkebalikan dari assertif orang seperti cenderung pendiam, merasa rendah diri, dan tidak mudah mengambil keputusan. Kalau dalam sinetron contohnya tokoh utama yang teraniaya misalnya bawang putih. Yah pasif gitulah
  3.  Perilaku Agresif
    Agresif adalah perilaku mereka yang cenderung ingin mendapatkan apapun dengan cara apapun terutama kekerasan. Mereka suka membentak dan bahkan tak segan menganiaya orang lain. Tokoh antagonis dalam sinetron contohnya
  4.  Pasif agresif
    Ini adalah salah satu perilaku yg menjengkelkan. Perilaku munafik. Mereka akan baik di depan kita dan jahat di belakang kita. Jadi omongan mereka tidak bisa dipegang. Kita pasti tidak menyukai orang ini.

Difference-Between-Aggressive-Passive-and-Assertive-Behavior

Perilaku yang paling baik tentu saja perilaku assertif. Diharapkan setiap kita memiliki perilaku tersebut. Yang kurang baik adalah tiga sisanya. Saya sendiri menyadari kadang-kadang saya pasif agresif. Membicarakan orang lain dengan buruk di belakang mereka walau mereka sebenarnya buruk sih, Ayu Ting Ting mislanya. Astaga, kelakuan si Ubul ini benar-benar yah. Beberapa waktu lalu dia bahkan kedapatan nempel ke Peak, ah sudahlah. Saya juga memutuskan untuk berhenti bergosip, karena lumayan mengganggu kejiwaan saya. Yaps membenci seseorang sangat tidak baik, bahkan hanya membenci artis. Kasihan kejiwaan saya baca berita ATT setiap waktu. Saya memutuskan untuk berhenti dan belajar memaafkan.

Saya memaafkan orang yang tidak saya sukai. Mulai dari memaafkan Ubul yang sudah rebut Peak dari Nagita, kemudian memaafkan orang-orang menjengkelkan di sekitar saya. Intinya sih setiap orang punya motif untuk melakukan sesuatu, kita hanya perlu mengerti motif itu. Untuk menutup tulisan ini, saya ingin bilang janganlah lagi membenci orang. Percayalah itu tak baik. Berubahlah menjadi assertif. Mari bersikap positif pada semua orang, maafkan merrka dan sifat mereka yang jelek itu. Kau tidak akan mendapatkan apapun dari membenci. Yang terpenting,  dengarkan suara hatimu. Mengutip Opa Pram,

“Kau terpelajar bersetialah pada kata hati”

28 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *