Being 27 | Curhat

Mengapa Perempuan yang Belum Menikah pada Usia 30an tahun ke atas bukan Urusan Andà

December 28, 2017

images


Sebagai Existentialist, saya tahu betul semua orang memiliki kebebasannya masing-masing termasuk untuk belum menikah. Namun sayang tidak semua berpikiran seperti saya, terutama mereka yang tinggal di Indonesia tercinta ini. Belum menikah di usia seharusnya sudah menikah dan beranak pinak seumpama jerawat yang baru tumbuh, gatal banget untuk dipegang-pegang.

Berbagai ucapan terlontar dari sopan “Belum menemukan jodoh yang tepat” sampai ekstrim “Kalau belum nikah-nikah sebelum usia menikah kandungan kering dan susah punya anak ” lalu bagaimana dengan perempuan yang hamil di usia 45 tahun? Yah mungkin resiko mereka besar, tetapi hal itu mematahkan premis kandungan kering itu. Logika yang bikin saya pusing, lantaran tak bisa menemukan sebab musabab.

Saya sendiri mengakui pertanyaan kapan nikah lebih seumpama basa-basi. Saya pernah menyinggung seorang kakak dengan bertanya, “Anaknya sudah berapa, Ka?” Kaka itu menjawab nggak sopan tanya begitu karena dia belum menikah. Jujur saja saat itu saya terjebak pada pola pikir masyarakat kebanyakan usia sedia harusnya sudah menikah. Duh..

Lalu kenapa ini semua terjadi?
Jawabannya jelas, kita selalu berusaha untuk mencampuri orang lain. Batas antara simpati dan ikut campur tipis banget hingga nggak bisa dibedakan. Menurut kita, orang harus menikah di umur segini dan ketika mereka belum nikah, ada yang salah dengan mereka dan mereka pasti nggak bahagia karena tidur sendirian di malam hari yang dingin, makanya tugas kita merecoki hidup mereka dengan pertanyaan dan pernyataan soal menikah sebab menikah adalah kebahagian haqiqi.

Kita mendefenisikan kebahagian dengan salah sekali. Bagi kita bahagia berarti menikah. Padahal saya yakin ada ribuan alasan menikah membuat kita tidak bahagia. Jadi ingat kata Soren Kiggegraad
“Menikahlah maka kau akan khawatir, tidak menikahlah maka kau pun akan khwatir. Menikah atau tidak menikah kau akan selalu khawatir.”
Vice versa. Menikah atau tidak kekhawatiran selalu ada.Jadi jelas banget yah! Menikah dan tidak menikah memiliki kebahagian dan ketidak bahagian masing-masing. Karena pernikahan dibuat manusia, kita manusia yang dibuat Tuhan saja tak sempurna, apalagi pernikahan yang dibuat kita manusia yang tak sempurna ini.

Kebahagian itu berasal dari diri kita sendiri. Mereka yang menggantungkan kebahagiannya pada orang lain kelak akan mengalami sakit hati yang mendalam ketika orang lain itu berubah. Pada dasarnya manusia akan selalu mengutamakan dirinya, kecuali Ibumu, tidak ada yang bisa menerima dirimu apa adanya. Jadi cara terbaik untuk bahagia bukan untuk menikah tetapi menemukan kebahagianmu sendiri. Berdamailah dengan masa lalumu, berdamailah dengan kekuranganmu, bacalah banyak buku, bergaulah dengan orang positif, perhatikan kesehatan mentalmu sama seperti kesehatan fisikmu. Saya yakin kalau orang fokus pada dirinya sendiri, dia akan mengurangi fokus pada diri orang lain.

Orang yang repot pada urusan orang lain adalah orang yang gagal berdamai dengan diri sendiri. Mereka enggan berkaca pada diri sendiri dan suka mencari kesalahan orang lain. Begitu pun dalam menikah. Dalam membangun rumah tangga ada banyak hal yang mesti kau lakukan seperti memastikan kesehatan fisik dan mentalmu baik-baik saja menghadapi sifat “nyata” suami dan anak-anakmu, membaca banyak buku perkembangan anak, mengatur keuangan, menemukan resep masakan, membersihkan rumah, dan sesekali menengok facebok.

Ada beberapa orang yang tidak memang tidak cocok sama konsep menikah, bukan karena nggak laku atau pilih-pilih. Mereka tidak cocok saja. Toh menikah  adalah pilihan, tidak ada benar atau salah jika kau memilih menikah atau tidak menikah selama keputusan itu berasal dari diru sendiri. Beda kalau kau menikah karrna paksaan lingkungan atau tidak menikah karrna ditentang orang lain. Itu baru salah.

Kalau kau habiskan waktumu mempertanyakan dan menyindir orang yang belum nikah, jangan heran jika anak-anakmu tak terurus atau memiliki sifat jelek sepertimu. Karena anak-anak meniru tingkah laku kita bukan mendengarkan ucapan. Jadilah manusia bahagia sebelum menikah, sehingga kau tahu bahwa wanita yang belum menikah bukan urusanmu, karena kau sibuk menikmati waktumu mengurus keluarga..

Only registered users can comment.

  1. Bukan urusan kita ya? Tapi kdg yg reseh mendalam malah org terdekat kita lho 😀😀 asyeeemmm itu kataku.
    Udah nikah n punya anakpun jadilah urusan mereka pula, suruh nambah, kenapa ga nambah? Pernah pula aku emosi dan marah2 ke suami gara2 saudaranya reseh ngatain akubga oerbaya kebesaran Tuhan gara2 aku ga mau program anak lagi.

  2. Aku rasa, simpan energi baper pertanyaan kapan nikah buat persiapan mental komentar2 tentang anak kita. Lebih menyakitkan rasanya T.T

    Mulai dari orok udah dikomentarin. Warna kulit, BB, cara menggendong, ASI Ekslusif, udah bisa apa, dll.

    Duh, berasa gagal jadi Ibu kalo dah dibanding2in sama anak lain. Sebel mau ketus tapi kok ga enak hati juga.

    Ih… jadi curcol. Hehe

  3. Yasss, kujuga kesel sama orang-orang yang mendewakan menikah sebagai ujung tombak kebahagiaan. Bagiku menikah bukan life goals, tapi masalah baru untuk orang-orang yang siap menghadapinya. Dan aku sendiri belum termasuk yang siap itu.

    Paling tinggal kuatin diri dan batin aja sih kalo dapetin pertanyaan-pertanyaan kek gitu.

  4. Apapun yang kita lakukan akan ada saja yang berkomentar. Mulai dari belum menikah, masalah kapan punya anak, jumlah anak, sekolah anak, pergaulan anak, dan lainnya yang tak akan henti-hentinya. “Kata orang” akan datang menghampiri kehidupan kita, tinggal bagaimana kita mau menyikapinya.

  5. Kadang orang ngucapin itu buat basa-basi tapi yg dikomen atau ditanya anggep basi 😀
    Sepupu2ku cewek banyak yg belum nikah walau usia di atas 30.
    Nikah bukan perlombaan, lebih baik menunda sampai ketemu yg tepat ketimbang cepet2an tapi malah nikah ma yg salah. Krn kalau bisa menikah itu sekali aja. TFS

  6. trus Ajen kapan menikah?? hahahaha
    Sebenarnya mengapa orang bertanya seperti itu, artinya mereka malah care / perhatian terhadap diri kita mba. Itu mereka bertanya agar orang yang belum menikah segeralah menikah, apalagi udah pacaran lama.
    Sebenarnya tergantung pembawaan diri kita sih mba, gampang baper apa gak hehee

  7. Postingan kece, Ajen, memang bener nih zaman sekarang kekepoan dan ikut campur urusan lain di negeri kita sangat besar, dulu pun pas belun punya anak pasti ditanyain ini itu, dijudge ini itu kuga, dan disuruh ke sana sini untuk berobat, lama-lama capek juga

  8. Pertanyaan kapan menikah memang sangat sensitif mbak, aku ingat dulu sewaktu belum menikah ditanyainnterus kapan nikah. Pas pulang langsung baper hehe

    Menikah itu pilihan tapi menikah memang lebih baik daripada tidak menikah (menurutku)

  9. ya begitu lah jen, kadang kebiasaan yang kurang baik yang malah sering dilakukan, kayak mempermasalahkan orang yg blm nikah. kadang aku malah khawatir kalo ada yg nanya kapan nikah, khawatirnya mulutku ini gak bisa ngerem, dan ngejawab pertanyaan mereka dengan bahasa yang gak seharusnya.
    suka gitu da, gajah dipelupuk mata gak keliatan tapi semut di sebrang lautan diurusin muluuu,, senengnya ngurusin urusan orang lain.

  10. Tl sy bersyukur dinyinyirin krn jd nikah. Klu ga ..munkin msh larut dlm patah hati hahaha.
    Mmg dinyinyirin itu sakit, tp ketika kita tahu maksud mereka baik, jd yg perlu direhab adalah hati yakni berbaik sangka. Krn ketika org memberikan nasehat krn mrk peduli.

  11. Aku suka quotenya… “Orang yang repot pada urusan orang lain adalah orang yang gagal berdamai dengan diri sendiri” , hahaha ini bener banget.

    Been there, sepupu2ku nikah di usia awal 20an, tiap kali ketemu dengan uwak2 yang ada, pasti aku selalu ditanya kapan nikah.

    Dan ketika aku udah nikah, pertanyaan kapan punya dll selalu menghampiri. Pengen deh kujawab “uwak kapan dipanggil Tuhan?”

  12. Hihihi… kadang kita memang menemukan orang-orang yang sibuk dengan urusan orang lain. Sampai-sampai urusannya sendiri jadi terbengkalai.

    Untuk yang belum nikah, dipertanyakan kenapa belum menikah? Untuk yang sudah menikah, masih ada pertanyaan lagi, kapan punya anak? Lah, udah punya anak pun, masih ada yang mempertanyakan, gak nambah lagi? Deeuh …jadi kapan berhentinya??? Belum lagi urusan, kapan nikahin anaknya? Kapan punya cucu? Naaah …panjang kan?

    Kapan berhenti mencampuri urusan orang lain, atuh, yaa… ??
    Mending tutup kuping, kalau ketemu dengan orang seperti itu. Anggap angin lalu, aja, Kaak ..hehehe

  13. Semoga setiap kuta memilih dengan sadar apapun yang kita ingin ambil… selalu sehat dan berbahagia selalu… menikah atau belum… memiliki momongan atau belum… atau apapun hal yang tak perlu di dengar dari luas sana…

  14. Sebenarnya memang ga semua hal di dunia ini harus dipertanyakan. Memang lebih baik menjaga perasaan daripada menuntaskan rasa penasaran. Soal nikah mah memang biar waktu yang menjawab aja ya mbak 🙂

  15. Setelah pertanyaan kapan nikah, akan muncul pertanyaan kapan punya momongan? dan aku mendapat pertanyaan itu selama 7 tahun, nggak hanya bertanya sampai ikut campur masalah pasutri, kepo, dan suka soktahu, hehehe

  16. Betul.. tak baik menjudge orang lain. Aku sepakat, bukan urusan orang, pasti ada banyak faktor pertimbangan, dan, kalau dia itu siapa kamu pun, kerabat dll, ya bukan urusanmu! Doakan aja yang terbaik, dan belum tentu kawin di umur tertentu adalah hal yang terbaik. Mungkin jodohnya bukan di umur itu, dan seterusnya. Ga usah dipikirin.

  17. Faktanya, sudah menikah atau belum.jadi urusan bersama.kayaknya. terutama keluarga besar. Yang merasa tahu banget ttg kita. Segala nanya pake nyumpahin jangan jadi perawan tua. Emangnya kalo gue nikah lu mau nyumbang apa woy, ketring gitu kek. Hih. Kzl.
    Pake segala bilang cewek ada masa kadaluarsanya, emangnya susu bubuk apa.

    Beruntungnya aku, punya orang tua yang mengerti. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *