book

What I Talk, When I Talk about Three Great Books I Read in 2016

What I Talk, When I Talk about Three Great Books I Read in 2016.

Tahun lalu, aku hanya membaca duapuluhan buku. Aku sangat malas membaca, karena banyak hal dari lebih suka tidur sampai lebih suka jalan-jalan. Namun satu yang pasti di awal tahun  2016, aku berjanji akan membaca buku motivasi dan filsafat lebih banyak, terutama tentang eksistensialism. Dari duapuluhan buku yang kubaca itu, ada beberapa buku yang menurutku,  sangat keren dan patut dibaca semua orang. Tiga buku tersebut adalah  The Art Of Loving by Erich Formn, Last Lecture by Randy Pausch dan Man searching for life by Victor E. Frankl .Mengapa buku-buku ini perlu dibaca semua orang? Nah aku kasih tahu alasan.

art of loving

Aku memulai  2016 dengan membaca buku Erich Fromm yang berjudul “The Art of Loving” Buku menarik yang membuat aku mengerti tentang konsep hubungan. Dalam bukunya, Erich bilang bahwa love is art dan seperti seni yang lainnya, kita harus mempraktikannya agar kita bisa mahir. Yaps mencintai berarti mempelajari orang yang kita cinta, mempraktikan cinta, sehingga cinta kita semakin dalam. Membaca buku ini membuat Aku tersadar bahwa kadang kita mencintai orang yang kita anggap pantas menerima cinta kita. Karena hal tersebut kita cenderung buta akan perasaan orang tersebut, karena kita merasa dia pantas menerima cinta kita. Padahal cinta adalah seni untuk membuat sebuah hubungan berjalan lancar, dua orang harus saling mempraktikan cinta. Bukan hanya kamu atau dia.  Hal inilah kemudian yang membuat aku mengambil kesimpulan, mengapa sebuah hubungan bisa kandas? Salah satunya adalah dua orang itu berhenti untuk saling mempelajari satu sama lain, berhenti mempraktikan cinta. Karena itu yang namanya pujian perlu banget dalam setiap hubungan. Jadi berikan banyak pujian pada pasangan Anda.

last lecture

Buku berikutnya yang kubaca adalah The Last Lecture by Randy Pausch. Dia adalah seorang professor di bidang computer yang mengalami kanker Pankreas stadium akhir. Dalam buku ini dia coba untuk menggambarkan hal-hal yang mesti dilakukan sebelum meninggal. Salah satu point penting yang digaris bawahi dari buku ini adalah tentang mewujudkan mimpi masa kecil. Apakah kamu masih ingat mimpi masa kecilmu? Randi mengisahkan bahwa salah satu mimpinya adalah masuk ke pesawat NASA. Baca buku ini membuatku bertekad untuk berani bermimpi dan percaya alam semesta akan berusaha mewujudkannya.  Aku ingat tahun 2012, setelah ujian skripsi, aku pengen ambil S2, 5 tahun kemudian. Keinginan itu terus kupelihara setiap hari dan akhirnya berjodoh sama beasiswa LPDP. Kamu juga jangan pernah berhenti bermimpi, yah!

man searching for meaning

Buku terakhir dibaca adalah Man Searching for Meaning dari Victor E. Frankl. Dia adalah seorang dokter jiwa yang menulis biografinya. Buku ini mengisahkan kisah hidupnya dan bagaimana dia menemukan arti hidup. Victor adalah seorang yahudi dan dikurung di kamp konsentrasi bersama ratusan ribu orang yahudi lainnya di Jaman Nazi. Dia menyadari bahwa seseorang akan menemukan arti kehidupan ketika tidak dihargai dan mengalami pengalaman nyaris mati. Membaca buku ini membuat aku menyadari betapa pentingnya menghargai hidup ini. Salah satunya cara adalah dengan bersyukur. Ah yah kekerasan juga tidak akan menyelesaikan masalah, terutama kekerasan pada anak. Victor dalam buku ini bilang, ketika orangtua senang memukul anaknya, anak tersebut akan menyimpan dendam, dendam bukan karena sakit fisik tetapi karena ketidak berdayaan melawan pukulan tersebut. Dendam yang kemudian berubah menjadi kepribadian yang buruk. Yaps, semua orang menginginkan penghargaan. Semua orang ingin dihargai. Maka marilah kita saling menghargai. Jangan pernah merendahkan orang lain.

Demikianlah tiga buku paling menarik yang aku baca tahun lalu. Jika kamu ingin mencari buku bacaan bernas, buku-buku di atas bisa menjadi pilihan.

 

19 thoughts on “What I Talk, When I Talk about Three Great Books I Read in 2016

  1. Bukunya english semua Mbak Ajen? Saya sgt tertarik utk membaca The Last Lecture. Isinya pasti sangat pas sbg bahan renungan di antara riuhnya hidup hari ini.

  2. Apaaa…dua puluhan buku…?? Hebaat bangeet..
    Saya hanya itungan jari, Mbak 🙁
    Sepertinya butuh buat resolusi, harus baca buku lebih banyak lagi tahun ini. Dan saya lebih suka buku tentang motivasi dan parenting. Eh…tiga buku yang direkomendasi-in Mbak Ajen kayaknya musti dibaca juga, nih…

  3. Buku yang pertama agak nyambung kayaknya sama apa yang aku sampaikan di postingan baruku muehehe
    Buku yang kedua gak terlalu tertarik sepertinya. Tapi yang ketiga… duh, mau baca deh. Mau banget baca. Ebook-nya ada gak, sih, Kak? Pengin banyak buku tapi keadaan belum memungkinkan untuk beli ya gini nih hahaha

  4. aku selalu bertekad untuk lebih banyak membaca buku nonfiksi mbak. tali syusyaaah.. kalo baca buku fiksi, semisal novel, pasti deh cepet banget selesainya. giliran baca buku motivasi ato nonfiksi lainnya, nggak selesai selesai hahhahaha

  5. bacaan lo berat amat jen. eh tapi sesuai sama karakter sih, tergantung kalo bcaan buku mah.
    buku yang menurut gue bagus tahun lalu itu….
    asal muasal pelukan sama bapak republik yang dilupakan. muarajangkung juga berhasil sih bikin gue berkata AAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK. sisanya komik conan. wakakaka.

  6. Buku yang pertama kayaknya bagus yah. Aku tergugah untuk mencari buku ini. Gak bikin jenuh kan?
    Jangan berhenti mempelajari satu sama lain dan saling memberikan pujian.
    Banyak yang bilang “pujianku tak akan habis tentangmu”

  7. Hmm soal buku yg aku baca di tahun 2016, kebanyakan itu buku novel mbak jen haha buku berat yg terakhir dibaca itu pun masuknya masih sejenis novel.
    Kayak Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder tuh, belum kelar eh bukunya ketinggalan di rumah. Ada pula buku Madilog-nya Tan Malaka, ya sama belum kelar juga…
    Entah kenapa kalo baca buku yg agak menjurus ke sebuah materi agak sulit untuk diselesaikan segera, inginnya tuh itu buku dibaca perlahan, dinikmati, dipahami, dan diresapi maksudnya. Niatnya baik, tapi ya itu waktu yang lama, kadang bisa memancing setan malas X)

    Target 2017 ini mau baca buku tetralogi buru-nya Pramudya Ananta Toer, semoga bisa terwujud sebelum ganti tahun..

  8. Jen.. bacaannya berat semua .. tahun ini saya malah cuma sempet baca flayer doang yang tiap hari mampir depan rumah.. kan jadinya mau ga mau baca, ngeselin banget. Tapi jadi tahu lho harga2 katering saat ini #eh.. hahaha

    Pokonya tahun ini saya ga bisa janjiin mau baca berapa buku.. sesempetnya aja..

  9. buku2nya berat juga ya Ajen… pinjem aja boleh? *gak modal* tapi baca2 buku seperti ini bisa membantu kita mengenal diri lebih baik sih, IMHO.

  10. Moral from the above books: (according to my opinion, of course :D)

    1. Jangan pelit memberi pujian, pujian tulus, tentu saja!
    2. Kerahkan semua kekuatan untuk mencapai tujuan dan semesta akan membantu mewujudkan
    3. Selalu saling menghargai hindari menjatuhkan orang lain.

    Well done, Ajen!

    Good job!

    Thank you for this awakening!

  11. Duh, staminaku baca buku sekarang menurun.
    Cuma baca novel-novel ringan yang enggak pake mikir.

    Apa karena baca buku udah jadi kerjaan sehari-hari ya..
    Jadi sampe rumah, pasti udah males baca. 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *