Artikel, Being 27, Curhat

Usia Duapuluh Tujuh dan Pertanyaan Kapan Nikah yang Bertubi-tubi

index

Memasuki usia 27 tahun merupakan salah satu hal luar biasa tertutama kalau kamu belum menikah.

Hai-hai, sudah lama rasanya Aku enggak  posting hal absurd di kehidupanku. Aku memutuskan membuat blog post ini setelah berbincang-bincang dengan beberapa temanku yang nggak mau disebutkan namanya takut terkenal, tentang susahnya bertahan hidup dari serangan pertanyaan kapan nikah dari keluarga dan masyarakat. Salah satu dari temanku itu punya Mama yang setiap hari ada kali nyebut kapan nikah (Secara terang-terangan bilang “Kapan kamu nikah?” atau secara implisit dengan menyebutkan “Pengen cucu” atau “Kamu tahu teman Mama, dia cape banget loh urus cucunya, tapi senang banget sampe awet muda.”) sepuluh sampai duapuluh kali setiap harinya. Bayangkan tekanan batin yang dia hadapi.

            “Aku sampai  pacaran sama orang yang aku nggak begitu  sreg, agar, supaya, sehingga, mama aku nggak banyak tanya. Untung aja kami sudah putus  dan kini pacarku bukan karena tuntutan itu lagi,” curhat temanku itu.

            Duh, kasihanlah temanku ini, tapi ada banyak loh yang akhirnya terdesak dan menerima siapa pun yang mendekat tanpa tahu sifatnya asalkan segera menikah, karena tututan lingkungan. Orang kaya gini akan berubah mnejadi dua tipe. Tiper pertama selalu memberi nasihat bijak agar memilih pasangan dengan saksama jangan seperti dia yang tidak mengenal baik pasangannya, syukur-syukur kalau pasangannya baik kalau nggak.. Tipe kedua, menjadi jadi salah satu pasukan nyinyinr tukang tanya kapan nikah, karena dia juga mau kamu segera menikah karena terdesak sama pertanyaan itu, sama seperti dirinya..

Namun kalau kita kembali ke pertanyaan kapan nikah secara umun,  ada beberapa tipe manusia yang tukang tanya kapan kita nikah; berdasarkan pengalaman pribadi dan teman-teman.

  1. Yang Tanya kapan kamu nikah karena peduli, macam orangtua dan keluarga dekat. Mereka bertanya semata-mata demi pengen gendong cucu.
  2. Yang Tanya kapan kamu nikah karena basa-basi, biar ada pembicaaran aja gitu, siapa tahu kamu mau nikah dan bingung cari catering dianya ada usaha catering. Klop deh.
  3. Yang Tanya kapan kamu nikah karena kesel kamu masih single dan bahagia, padahal menurut survey dia pribadi lajang dan belum menikah itu seharusnya enggak bahagia.
  4. Yang tanya kapan nikah karena dia mau jodohin kamu dengan seseorang yang udah siap nikah hahaha.
  5. Yang tanya kapan nikah karena pengen cari gebetan di pesta nikah

Dan tipe-tipe lainnya.

Aku sendiri termasuk sellow. Pacar ada, rencana nikah ada, tetapi tetap saja tak luput dari bombardir pertanyaan ini karena dinilai sudah layak menikah.. Padahal yah aku pribadi punya seribu satu alasan mengapa belum mau  nikah di umur yang menurut masyarakat sudah memasuki usai menikah banget ini. Salah satunya adalah aku masih malas mengurus orang lain,  meski kemudian dibalas dengan penuh bijak.

“Kalau kamu nikah, kamu pasti dengan sendirinya akan bisa mengurus suami, Kok.” Dilanjutkan dengan contoh diri sendiri yang dulunya pecicilan sekarang karena menikah bisa jadi keren.

Sampai di sini aku merenung. “Apakah seorang menikah agar menyempurnakan dirinya?” Jadi kalau nggak nikah itu nggak sempurna, nggak normal, Duh! Yang lebih lucunya lagi justru sesama perempuan lah yang membicarakan perempuan lain yang belum menikah. Maksudku,  buat apa menyerukan kesetaraan gender dengan pria, sementara untuk hal sekecil nikah pun kita masih suka nyinyir-nyinnyiran. Inilah kukira salah satu point penting dari ajaran feminism. Menghormati perempuan mulailah dengan menghormati diri sendiri dan teman perempuan lainnya. AKu percaya manusia nggak punya hak menghakimi orang lain, apalagi dengan banyak dosa yang dia sembunyikan.

Kembali ke soal belum menikah di usia duapuluh tajuh tahun ini. Beberapa waktu lalu kau ketemu seorang Tante, kenalan mama. Berikut percakapan kami

Tante   : Kamu belum nikah?

Saya    : Belum, Tan

T          : Kamu sudah 27 tahun kan tahun ini, Kok belum nikah? Misalnya kamu nikah 28 tahun terus nggak langsung ada anak kan, yah palingan setahun lagi. Resiko tinggi loh hamil di atas 30 tahun. Itu baru anak sulung, kapan mau anak kedua. Masa pengen punya anak 1 saja, sih.

f2726e02-e79e-45cf-8c0b-84d990593c9d

Aku cuma tersenyum simpul sambil minta doa agar segera nikah.  Untung saja aku anaknya nggak lagi baper atau bahkan nih depresi karena belum nikah. Kebayang nggak kalau perkataan itu diucapkan pada seseorang yang dia itu lagi depresi karena belum nikah-nikah juga. Bisa bunuh diri karena kepikiran.

Dari contoh di atas aku mau belajar untuk tidak terlalu mempertanyakan status pernikahan pada wanita dewasa saat aku sudah tua nanti. Biarlah mereka menikmati hidup mereka tanpa harus diberi label bahwa kalau kau belum juga menikah kau tidak bahagia. Aku bersyukur punya orang tua yang sellow soal menikah dan memberikan cucu. Mereka juga nggak memaksakan aku untuk segeram menikah dan melanjutkan DNA mereka di dunia ini. Mama aku malah berpesan untuk mempelajari sifat pacarku baik-baik sebelum akhirnya memutuskan menikah. Papaku lebih sellow lagi. Suatu hari dia pernah bilang.

“Nanti kalau kau tidak nikah-nikah, kau tinggal sama Papa mama saja. Nanti kami kasih tanah dan uang bulanan untuk rawat kami berdua.”

Yang jelas nikmati hidupmu hai wanita usia duapuluhan akhir yang belum menikah. Sesungguhnya hidup ini menyenangkan, dengan catatan kau menganggap hal-hal menganggu yang sering kau dengar sebagai batu pijakan untuk melangkah dan menjadi keren. 😀

4 thoughts on “Usia Duapuluh Tujuh dan Pertanyaan Kapan Nikah yang Bertubi-tubi

  1. Tenang Ajen… Saya percaya kamu akan menjalani hidupmu apa adanya… Lagi single ya dinikmatin… udah merit juga dinikmatin… sekolah juga dinikmatin 🙂

  2. Bener diusia segitu pasti banyak sekali pertanyaan yg bertubi tubi soal pernikahan , apalagi bentar lagi lebaran.. hehe.. semoga dapat di berikan kemudahan dalam menjawab soal” yang sama dan terus d ulang ulang seperti..

    Kapan nikah ?? jawab ajah.. kalo gk sabtu ya minggu heehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *