Artikel, Health

Tumbuh Kembang Anak Pra Sekolah Usia 3 sampai 6 Tahun

girls-462072_960_720

(Sumber : Pixbay)

Anak Pra Sekolah adalah anak yang berumur antara 3-6 tahun, pada masa ini anak-anak senang berimajinasi dan percaya bahwa mereka memiliki kekuatan. Pertumbuhan anak usia pra sekolah cenderung lambat, tetapi pada usia ini kemampuan kognitif dan sosial yang terjadi selama masa toddler mengalamii penyempurnaan. Pada usia pra sekolah, anak membangun kontrol sistem tubuh seperti kemampuan ke toilet, berakaian, dan makan sendiri (Potts & Mandeleco, 2012) Anak pra sekolah juga dapat berjauhan lebih lama dengan orang tua dan dapat berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan dan pertumbuhan anak pra sekolah

Perkembangan Fisik, sosial dan psikologi anak manurut Potts & Mandleco (2012)

1. Pertumbuhan Fisik

Selama usia sekolah pertumbuhan dan perubahan fisik lebih lambat dibandingkan saat anak berada di usia bayi dan toddler. Anak-anak akan bertambah rata-rata 2,3 kg setiap tahun dan bertambah7,5cm setiap tahun (Potts, 2012). Bentuk tubuh anak usia pra sekolah juga berubah anak akan lebih tinggi dan postur tubuh lebih tegak dibandngkan dengan postur tubuh lordosis saat todler. Pada usia ini sistem tubuh juga lebih matang. Indra penciuman berfungsi baik dan maksimal. Anti bodi juga terus meningkat dan membantu anak dalam melawan penyakit. Anak-anak sudah mendapatkan 20 gigi bungsu pada usia 3 tahun dan saat di usia akhir pra sekolah gigi permanent mulai tumbuh. Otot dan tulang terus bertubuh tetapi belum maksimal. Aktifitas yang berlebihan dan terlalu banyak dapat merusak sel-sel  pertumbuhan. Pada masa ini, anak pra sekolah harus dibekali dengan tidur yang cukup, nutrisi, dan olahraga untuk meningkatkan perumbuhan tulang dan otot. Anak pra sekolah sudah dapat menahan pipis dan buang air besar.

2. Kemampuan Motorik

Anak Pra sekolah

(Anak sdah bisa mengikat sepatunya sendiri)

Masa pra sekolah merupakan masa ketika kordinasi mata dan otor mengalami penyempurnaan. Pada masa ini anak dapat berlari, jalan, dan melompat dengan baik. Pada umur 3 tahun anak-anak dapat mengendarai sepeda roda tiga, seimbang dengan satu kaki dan dapat melompat dan naik turun tangga. Saat berumur 4 tahun anak dapat melompat dengan satu kaki, berjalan dengan baik, dah menangkap bola dengan dua tangan. Saat berumur lima tahun dapat melompat dengan ketinggian 10cm, melempar dan menangkap bola dengan baik, berjalan ke belakang, dan mulai berlajar berbagai kemampuan motorik seperti berenang dan menari.

Kemampuan motorik berkembangan ke kemampuan yang lebih baik. Kemampuan ini dapat ditest dengan menggunakan Screening pekembengan Denver (Denver II). Pada tes ini anak berusia 3 tahun dapat membangun menara dari 9 atau 10 kubus, membuat jembatan dengan balok, dapat membuat lingkarang dan dapat memakai abju sendiri. Saat berumur 4 tahun anak dapat memakai gunting, mengambbar tongkat,membuka kancing baju, dan menggambar segi empat atau belah ketupat. Pada saat berumur 5 tahun anak bisa mengikat sepatu, menggambar segi empat dan segi tiga, dan menggambar manusia dengan 6 bagian. Pada usia 5 tahun kemampuan anak-anak menggunakan gunting dan menggambar meningkat.

3.  Perkembangan Psikoseksual

Selama usia pra sekolah, anak mulai penasaran tentang tubuhnya dan mulai belajar tentang perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Freud mendeskripsikan masa ini sebagai masa Phallic. Saat masa ini anak mengalami konflik bawah sadar dan lebih tertarik dan mencintai orangtua yang berbeda jenis kelamin. Karena hal tersebut anak-anak merasa ada kompetisi dengan orangtua yang sama jenis kelamin dalam mendapatkan perhatian dan cinta dari orangtua beda jenis kelamin. Misalnya anak perempuan yang cemburu pada Ibunya.  Pada masa ini orangtua dapat diyakin bahwa masalah tersebut normal, tetapi perlu dibantu dalam mengatasi kecemburuan anak.

Selama masa ini, anak-anak dapat membedakan jenis kelaminya laki atau perempuan dan mulai mencontoh perilaku orangtua yang berjenis kelamin sama. Contoh anak perempuan senang meniru ibunya dandan atau anak laki-laki yang meniru Ayahnya mencukur.  Saat ini anak-anak mulai penasaran dengan perbedaan tubuhh antara jenis kelamin. Saat usia ini anak juga suka bermain peran dan bertanya banyak hal, Jika tidak dijawab mereka akan menemukan jawaban seniri yang biasnaya salah. Saat usia ini orangtua diharapkan mulai mengajrkan tentang bagian tubuh dan juga berusaha untuk menjawab semua pertanyaan.

4. Perkembangan Psikososial

ps

Erikson menjelaskan anak-anak pada usia pra sekolah mulai mengembangkan insiatif vs rasa bersalah. Pada masa ini anak sangat semangat dan penuh energi dalam belajar dan melakukan aktifitas. Hal tersebut meningkatkan kemampuan untuk melakukan inisiatif, tetapi ketika berlebihan anak-anak akan merasa bersalah. Perasaan akan adanya masalah akan muncul ketika anak menyadari telah berperilaku buruk. Pada masa ini anak juga mulai menyadadari perasaan bersalah atau tidak berprilaku sebagaimana menstinya. Perasaan bersalah muncul ketika anak menyadari aksinya tidak diperbolehkan orangtua. Ketika anak dapat membedakan perasaan inisiatif dan bersalah, anak-anak mulai membangun hati nurani (Super Ego). Belajar benar dari yangs alah dan salah dari yang benar merpakan permulaan perkembangan moral. Namun demikian anak usia pra sekolah tidak mengerti alasan sesuatu diterima dan tidak dapat diterima. Anak pra sekolah mengerti perilaku yang tidak dapat diterima dengan punishments dan rewards handed  yang diberikan oleh orangtua.

5.  Perkembangan Sosial

psekolah

(Senag berteman dan penasaran)

Usia pra sekolah adalah usia kritikal dalam pengembangan kemampuan sosialisasi, baik kemampuan untuk mengurus diri sendiri (Memakai baju, mandi, makan, bertingkah baik di depan umum) maupun kemampuan untuk bersosialisasi dnegan orang lain. Usia pra sekolah sedikit egosentrik tetapi lebih mudah untuk berbagi, dan dapat menikmati bermain dalam grup. Masa pra sekolah merupakan juga merupakan masa yang dramatis, imajinatid dan kreatif. Pada usia ini anak-anak cenderung menggunakan kekerasan ketika hal yang dia sukai tidak dapat diterima. Perilaku ini normal dan seiring dengan bertambahnya usia anak secara bertahap akan menjadi kurang berontak dan berengkar hingga akhirnya tahun-tahun pra sekolah, akan lebih bersemangat untuk menyenangkan orang lain dan mengambil tanggung jawab. Anak juga akan mulai terbiasa dengan aruran dan suka bermain secara berkelompok.

Stres dan Adaptasi pada anak usia pra sekolah

Beberapa penelitian mengemukan tingkatan stress pada anak usia pra sekolah dan sekolah yaitu postif, dapat ditoleransi, dan racun (Shonkoff at al, 2012; Marie at al, 2011)

Stres postif

Stres positif sangat pentig dalam meningkatkan fungsi ketahanan dalam menghadapi stres dan ancaman. Stres positif bisa juga disebut stress baik yang muncul dari petermua yang dipikir mengancm yang sementara seperti bertemu teman baru atau hari pertama sekolah. Stres posti juga dapat berasal dari pengalaman buruk singkat yang dapat menyebabkan pelajaran beharga misalnya pergi ke dokter unutk imunisasi atau dihukum karena melakukan kesalahan. Jenis stres ini menyebabkan sedikit perubahan fisiologis dan hormonal pada anak meliputi peningkatan denyut jantung dan perubahan kadar hormon kortisol. Stress positif merupaka stres normal terjadi pada masa anak. Peran orangtuan adalah mendukung anak-anak agar dapat mengambil pelajaran dari pengalaman buruk

Stres yang dapat ditoleransi

Stres yang dapat ditolensi datang  pengalaman buruk yang lebih intens tetapi terjadi di waktu singkat dan dapat diatasi. Respon tubuh terhadap stres lebih aktif karena stresor lebih berat. Beberapa contoh dari stres ini adalah kematian anggota keluarga atau kecelakaan pada anggota keluarga Stresor tersebut dapat diatasi jika diatur dengan baik. Stres ini dapat berubah menjadi stres positif jika orang dewasa mampu membimbing anak agar dapat mengatasi stres. Namun demikian jika dukungan orang dewasa renda maka stres akan menjadi toxic stres

Toxic stress/ Racun

Toxic stress dapat terjadi jika anak mengalami kejadian buruk dalam waktuk yang lama dan secara intend. Anak membutuhkan asuhan dan suport dari orang dewasa untuk membantu mereka menghadapi masalah. Respon stres ini bisa terjadi berminggu. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Contoh dari oxic stres adalah anak yang mengalami kekerasan verbal, non verbal, maupun seksual secara terus menerus. Akumulasi dari toxic stress akan menyebabkan kesehatan fisik dan mental.

Nah demikian lah tulisan sederhana tentang perkembangan anak Pra Sekolah. Semoga berguna yah. Intinya adalah selalu menemani anak Anda bermain dan terutama cobalah untuk menjawab setiap pertanyaan yang dia berikan agar dia tidak mencari jawaban sendiri yang salah. Karena anak pada usia ini perkembangan otaknya sedang bagus-bagusnya, silakan ajarkan dia kemampuan baru seperti bahasa inggis atau musik. Namun ingatlah bahwa anak usia ini senang bermain dan berlari-larian. Perlu diingat bahwa banyak masalah kejiwaan terjadi karena trauma yang di alami saat usia preskolah dan sekolah. Jadi penting banget orangtua untuk selalu memperhatikan kesehatan jiwa dan mental. Beberap penelitian sih bilang bahwa mengajarkan anak mengucap syukur setiap malam sangat baik untuk perkembangan dirinya kelak.

Referensi

Compas, B. E., Jaser, S. S., Dunbar, J. P., Watson, K. H., Bettis, A. H., Gruhn, M. A., & Williams, E. K. (2014). Coping and Emotion Regulation from Childhood to Early Adulthood: Points of Convergence and Divergence. Australian Journal of Psychology66(2), 71–81. http://doi.org/10.1111/ajpy.12043.

Potts., N.L., & Mandleco B.L (2012) Pediatric Nursing: Caring for children and  family. 3th ed. Newyork : Edlmar Learning.

Poulsen, Marie K., and Karen M. Finello. “Foundations of Early Childhood Mental Health: Public Health & Life Course Perspectives.” Preventive Medicine 583 Lecture. University of Southern California, Los Angeles. 25 Aug. 2011.

Shonkoff, J.P.; Garner, A.S.; Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health; Committee on Early Childhood, Adoption, and Dependent Care; Section on Developmental and Behavioral Pediatrics (January 2012). “The Lifelong Effects of Early Childhood Adversity and Toxic Stress” (PDF). Pediatrics. 129 (1): e232–46. PMID 22201156. doi:10.1542/peds.2011-2663.

Zimmer-Gembeck, M. J., & Skinner, E. A. (2014). The development of coping: Implications for psychopathology and resilience. Developmental Psychopathology, IV(May), 485–545. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

22 thoughts on “Tumbuh Kembang Anak Pra Sekolah Usia 3 sampai 6 Tahun

  1. Tulisannya bermanfaat banget. Kadangkala kita suka abai dengan stres-nya anak-anak. Memaksakan mereka untuk melakukan ini-itu. Berteriak di depannya, dll. Padahal mereka itu sama seperti kita, bisa stres juga. Semoga aku bisa lebih memperhatikan kebutuhan psikologis anakku..

  2. Mudah mudahan semakin banyak keluarga yang sadar dengan perkembangan ini sehingga didikan yang diberikan tepat dan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal sesuai umur. Cocok buat persiapan membangun rumah tangga

  3. Udah lama nggak baca-baca kayak ginian neh … kalau dulu buku psikologi anak numpuk buat referensi nulis bacaan anak. Baru tahu ini lengkap banget. Makasih yeeesss

  4. jadi ingat waktu masih kecil dulu, masa pra sekolah memang mulai muncul rasa bersalah, ga enakan dll. kalau diingat-ingat lagi kok lucu ya mbak

  5. Karena stres bukan hanya monopoli orang dewasa yang bisa mengalaminya, anakpun bisa mengalaminya. Orang tua dan anggota keluarga perlu mengetahui hal bermanfaat ini. Serasa membaca bahan perkuliahan psikologi yang singkat, padat, dan bermanfaat.

  6. Fakta yang ada sekarang ini, kadang anak-anak umur 3-6 tahun malah usah disuruh belajar dengan segala bentuk les dan kurang waktu bermain dan berfantasi.. apalagi orang tua sibuk bekerja, pasti anaknya mending di masukkan ke play group dan jadinya kurang kasih sayaang juga mba.. padahal saya dulu sampe SD malah isinya maen doank hehee

  7. Aku baru tahu kalo stress ada tingkatannya. Beneran, tahunya stress itu hanya tekanan yang berakibat negatif. Ternyataaa… ada tiga tingkatan stress ya.

    Makasih kak Ajen postingannya. Nambah ilmu banget nih. Dah lama nggak belajar psikologi anakm

  8. Informatif banget mba..
    Makasih ya, kebetulan anakku mau masuk usia 3 tahun.. jadi emang terulang melatih syaraf motorik..dan interaksi sosial yang bagus dilingkungan…

    Suka banget dengan artikel keparentingan..kaya gini..

  9. Anak merupakan manusia dalam bentuk mini. Mereka sama seperti orangtuanya. Memiliki kecenderungan mengalami stress. Dan yang paling dihindari yaitu sumber stres anak, justru berasal dari orangtuanya sendiri. Semoga semakin banyak orangtua yang bisa mengenali stres pada anaknya ya …

  10. Usia 3-6 tahun memamg usia rentan banget ya mba untuk tumbuh kembang anak2. Jadi perlu perhatian ekstra. Dan saya baru tahu lho ada stress positif juga. Ini semacam stimulus, dan dorongan yang membuat dia lebih berkembang kali ya… hmm jadi catatan nih buat mantau tumbuh kembang anak2..

  11. Aku baru tahu ada stress positif ini. Meski masih ingat juga, bagaimana masa kecil dulu kadang merasakan ketakutan/kekecewaan yang bisa mempengaruhi perasaan. Hormon kortisol ini bisa jadi kawan juga jika kadar stress kecil. Begitu kan?

  12. Aku juga sedang mempelajari ini kebetulan buat persiapan Alma nanti. Semoga ilmunya ini mudah dipraktekan. Soalnya memahami ilmu ini bisa jadi jembatan memahami anak sendiri.

  13. Anak2 pun bisa stres ya 🙁
    Ternyata ada juga stress positif yg emang harus diajarkan ke anak.
    Ini reminder banget sbg ortu utk lbh memperhatikan kejiwaan anak2. Tengkyu ulasannya mbak 🙂
    Btw mbak Ajen aku kepoh kok dirimu bikin artikel ini?
    Berkaitan dengan materi kuliah kah? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *