Toxic Masculinity dan Betapa Susahnya Menjadi Pria dengan Standar yang Keliru

8710ba29423289a06c0e25733d4a1977

Saya tertarik menulis ini karena membaca komentar tentang iklan Gillete terbaru di berbagai forum di Facebook. Iklan itu menekankan toxic masculinility yang berkembang pesat pada pria belakangan ini. Iklan itu menggunakan slogan “We Believe: The Best Men Can Be” untuk mempertegas tesis mereka tersebut. Berbagai reaksi muncul dari masyarakat online terutama pria. Iklan itu bahkan memiliki lebih dari 1 juta dislike di youtube. Saya sendiri termasuk yang suka dengan konten iklan itu, karena menyadari sejak lama bahwa laki-laki memiliki masalah dengan maskulinitasnya.

Apa itu toxic masculinity? Pada tahun 2005, American Psychological Asociation (APA) mengeluarkan panduan praktik psikologi untuk anak laki-laki dan pria dewasa (APA Guidelance for Psycological Pratice with boys and Man) yang berisi sepuluh masalah yang sering dialami pria salah satunya toxic maskulinitas. Toxic maskulinitas adalah pemahaman yang salah tentang maskulinitas. Beberapa penelitian melihat bahwa para laki-laki percaya maskulinitas berarti
1. Tidak memperlihatkan emosi saat bersedih
2. Menjaga penampilan agar selalu kuat.
3. Kekerasan sebagai indikator kekuatan.

Dengan kata lain toxic masculinity berarti mengajarkan pria untuk tidak mengekspresikan emosinya dan selalu kuat sepanjang waktu. Ketika mereka lemah dan memperlihatkan emosi maka mereka lemak dan feminim. Hal tersebut menurut APA dapat menyebakan agresifitas dan kekerasan, tidak disiplin di sekolah, masalah akademi, dan kesehatan seperti masalah jantung dan penyalagunaan obat-obatan. Menurut Oneil 2008 dalam penelitiannya tentang konflik pada gender pria, persepsi yang salah tentang maskulinitas dapat membuat pria mengalami depresi dan masalah kesehatan mental lainnya. Menurut APA bunuh diri lebih banyak terjadi pada pria, karena menceritakan masalah menunjukan kelemahanmu. Oleh karena itu perlu adanya kerja sama yang serius untuk mengatasi hal ini terutama pola asuh orangtua pada anaknya.

Saya sering mendapati orangtua menanamkan label laki-laki harus kuat pada anak laki-lakinya. Beberapa waktu lalu seorang teman dengan tgeas berkata pada anak laki-lakinya “laki-laki tidak boleh umet.” Umet adalah istilah dalam bahasa Manggarai yang berarti gaya kemayu. Dan seketika saya sadar toxic masculinity juga ada di dalam budaya Manggarai. Beberapa waktu lalu saya membaca cerpen Ka Armin Bell berjudul “Perjalanan mencari Ayam” dalam cerpen itu si tokoh utama tidak diterima orangtua kekasihnya karena miskin, kalian bisa baca ulasan saya tentang itu di sini. Mau tidak mau harus saya akui bahwa sedari kecil pria Manggarai telah ditanamkan keyakinan bahwa mereka akan menjadi kepala keluarga karena itu maskulinitas seorang laki-laki ditentukan dengan pekerjaanya. Bisa dibayangkan kemudian masalah yang muncul ketika seorang laki-laki tidak bekerja, stres dan tekanan dari masyarakat bertambah dengan keputusasaan tidak mencapai maskulinitas seperti seharusnya pria sejati. Dia mungkin akan menganggap dirinya bukan pria sejati dan memunculkan stres baru bahkan depresi. Selain itu ada kecendrungan ketika laki-laki sudah bekerja dan jadi kepala keluarga mereka enggan untuk membantu pekerjaan rumah meringankan beban istri walau istri mereka bekerja. Untuk hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di Manggarai, tetapi salah satu efek dari toxic maskulinitas adalah laki-laki menganggapnya dirinya superior dan melakukan pekerjaan rumah adalah feminime atau tidak laki banget. Oleh karena itu toxic masculinity adalah masalah yang perlu dipikirkan bersama-sama dan dijelaskan sejak dini pada anak-anak.

Orangtua memiliki peran penting untuk itu. Perempuan dan laki-laki hendaknya diperlakukan dengan sama terutama dalam membantu mereka menyampaikan masalah. Menangis adalah hak perempuan dan laki-laki sama seperti pendidikan bagi perempuan. Mengajarkan anak laki-laki untuk menghargai dirinya sendirii dan bersyukur sejak kecil menjadikan dia pria dewasa yang lebih toleran. Membiasakan anak laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah tanpa embel-embel pekerjaan di dapur hanya untuk anak perempuan saja. Yang jelas ini masalah yang harus menjadi perhatian kita bersama.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *