Curhat | Health | Kesehatan Jiwa

Rendah Hati Dan Segala Tantangan Menjadi Orang Baik

March 16, 2018

045

Hari ini saya melakukan kontemplasi panjang tentang kehidupan saya. Saya menemukan banyak sekali hal buruk yang saya lakukan. Mau tak mau, saya harus bilang diri saya adalah orang yang punya sifat jauh dari baik. Saya menyadari satu hal pasti, saya suka menyombongkan entah diri, pengalaman, atau orang lain, hingga mengarang cerita tentang hal hebat hanya agar kelihatan keren. Lalu apakah saya puas? Sama sekali tidak. Saya malah menemukan diri saya semakin sombong dan meremehkan orang lain. Ini adalah hal yang enggak bagus. Ketika kamu meremehkan orang lain, kamu kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Menjadi lebih baik itu bukanlah perkara gampang. Kita adalah manusia yang pada hakekatnya ingin dianggap penting. Media sosial membuat segalanya menjadi tambah buruk. Kita kerap menyaksikan bagaimana teman-teman kita yang jauh lebih beruntung dari kita menjalani hidup. Saya menyadari hal ini, saya berteman dengan banyak sekali orang keren di Instagram yang setiap waktu memposting insta stori mereka dengan hal-hal keren. Habis jalan ke luar negeri, habis makan di resturan mahal, habis nonton konser, habis bersih-bersih rumah yang mewah, habis menikmati hidup. Sementara itu, saya sendiri sedang memandang smartphone saya sambil berpikir dalam hati kapan saya bisa seperti mereka. Hal tersebut membuat saya meremehkan diri dan menganggap enggak bisa apa-apa. Cukup berpengaruh, saya menjadi malas melakukan apapun. Untung saja, saya sadar akan perubahan itu dan mulai berhenti terpaku pada instagram. Awal Febuari, saya mencoba lepas dari instagram dan facebook dan berhasil jauh dari mereka selama 3 minggu.

Melepaskan diri dari media sosial bukanlah hal yang mudah, apalagi seorang yang sudah kecanduan seperti saya. Minggu pertama adalah minggu sulit, tapi kemudian segala hal berjalan baik. Setelah lepas dari sosial media selama 3 minggu, saya merasa saya lebih bijak dalam membuat status. Kemudian saya berpikir, kenapa sih media sosial begitu membuat seluru perhatian saya terpaku di situ? Maksud saya, berhenti main sosial media selama 3 minggu dan memikirkannya benar-benar membuang waktu. Saya memutuskan untuk lebih mengenal diri saya. Saya membuat buku stres, tempat saya menulis stres yang saya alami sepanjang hari dan mencari tahu bagaimana saya memecahkan. Saya terkejut menyadari bahwa saya kebanyakan stress karena orang lain lebih hebat dari saya dan saya enggak bisa membuat saya lebih hebat dari mereka. Saya stres karena saya enggak keren.

Menjadi keren dan penting dan hebat adalah hal-hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Namun kalau kita bekaca pada orang hebat macam Bill Gates atau Mark si pecipta facebook, mereka tampak biasa saja dan alih-alih menyombongkan mereka keren, mereka sibuk beramal. Bill Gates menyumbang 10% dari kekayaan untuk amal. 10% dari triliunan dolar loh. Namun dia enggak pernah berusaha menunjukkannya. Di sinilah saya sadar satu hal penting. Saya ini sangat egois. Saya ingin menjadi hebat, tetapi di satu sisi saya menyombongkan diri saya. Tidak ada orang hebat karena sombong. Kemudian di kampus saya punya Profesor bernama Prof Yani. Beliau adalah orang terrendah hati yang pernah saya kenal. Menyapa orang dengan baik, selalu tersenyum, dan yang terpenting mendengarkan orang lain. Ini salah satu kekurangn saya, saya jarang sekali mendengarkan orang lain dan suka memberi praduga kepada mereka. Saya pikir , sudah saaatnya saya berubah. Saya tidak ingin hidup di dunia ini penuh dengan kesia-siaan. Saya ingin berguna bagi orang lain dan cara paling sederhana untuk mewujudkan itu adalah dengan menjadi rendah hati.

Menjadi rendah hati merupakan hal yang sulit. Apalagi kalau ego kita sangat kuat. Untuk menjadi rendah hati, hal pertama yang harus kita ketahui adalah diri kita. Kelemahan kita, kelebihan kita, bagaimana kita menghadapi stres, sifat-sifat kita. Ketika kita sudah bisa menerima diri keukurangan kita, maka kita akan bisa menerima kekurangan orang lain. Jadi ingat perkataan orang bijaksana. Ubahlah dirimu maka dunia akan berubah. Mari ubah diri kita jadi lebih baik dan biarkan dunia ikut berubah

 

Only registered users can comment.

  1. Iya benar. Menjdi orang baik itu gampang bila sudah paham indikator baik sehingga hanya menjalankan komitmen saja, kemudian jadi dgn sendirinya sbagai orang baik.

  2. Yap mbak, ga semudah membalikkan telapak tangan memang kalo mai jadi rendah hati. Tapi, bukan berarti mustahil, selagi masih ada kesempatan, disana kita berjuang. Rintangan itu biasa, bumbu kehidupan.

  3. Menjadi rendah hati terkadang memang susah ya mbak, padahal menurut kita sudah rendah hati ternyata belum atau malah jauh dari rendah hati. Tantangan memang

  4. Semangat Mbak Ajen. Orang yang paling baik adalah orang yang menyadari kesalahannya lalu memperbaikinya. Saya sendiri juga punya banyak sifat buruk yang harus dibuang, semoga bisa terus berkontemplasi seperti Mbak Ajen.

  5. Betul sekali, untuk jadi orang baik itu gak mudah.

    Setahu saya, Kak Ajen bukanlah orang pertama yang lepas sejenak dari media sosial. Ada salah satu teman juga memilih untuk berhenti aktif di instagram. Alasannya sama dengan Kak Ajen, terlalu banyak lihat postingan orang yang serba wah…padahal kita sendiri gak tau sebenarnya mereka seperti apa, bukan? Bisa aja hanya pencitraan hehehe…

    Saya juga lebih memilih stalking status fb atau postingan IG teman-teman yang satu profesi. Malah banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya ambil. Dari pada lihat status para seleb yang memamerkan kekayaan mereka.

    Lebih baik kita sibuk menjadi orang baik dan berusaha bisa menjadi orang yang selalu rendah hati. Dan itu PR terbesar, bagi saya.

  6. Mau berubah menjadi lebih baik itu memang tidak mudah. Butuh komitmen dan tekad untuk melakukan perubahan. Aku pun pernah mengalami hal itu mbak. Ternyata harus bertahap dan pelan2 untuk berubah.

  7. saya berusaha rendah hati
    tp kadang ada ego yg membuat lepas kendali
    sehingga kadang agak meninggi
    apalagi klu merasa dilecehkan
    mmg perlu menata hati dan ikhlas

  8. I can relate a lot right now. Ketika, aku sedang berada di bawah dan melihat teman-temanku menceritakan hidupnya yang serasa bahagia di IG story, aku pun mulai terasa iri dan kontemplasi dengan apakah langkah hidupku sebenarnya. Tapi, mungkin saja ada orang yang di sana juga merasa iri dengan kesuksesanku.

    Menjadi orang yang sedang di posisi bawah mulai membuatku tersadar akan bagaimana roda kehidupan itu berputar. Kita bisa bertingkah baik dan mungkin seolah-olah baik jika sedang berada di atas, namun bagaimana jika kita di bawah? Banyak cara buruk yang bisa dilakukan untuk kembali ke atas lagi, ya we all know lah.

  9. Aku jg kadang gitu. Ingin berbuat baik tp share jg ke sosial media. Jatuhnya pamer. Dan kalau org lain keliatan hebat, kadang aku iri….

    Makanya skrg kalau lg melakulan hal baik, simpen dalam hati, gak perlu langsung share. Begitu jg pas lg keadaan krg baik. Aku jg mau sehat pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *