Artikel, Being 27, Health, Kesehatan Jiwa

Pikiran Negatif adalah Awal dari Kebiasaan Negatif

 

negative-thinking

Hari ini adalah hari ke-7 saya kembali mengecap bangku kuliah. Setelah lulus di Prodi Magister Keperawatan FIK UI beberapa bulan lalu, kini tiba saatnya saya memulai perkuliahan. Menjadi seorang perawat jiwa adalah hal menarik, setidaknya itu yang saya rasakan setalah satu minggu berlalu. Saya kelak akan mempelajari beberapa therapy untuk pasien jiwa berat maupun ringan macam depresi dan ansietas. Salah satu Theraphy yang baru-baru ini saya pelajari adalah CBT atau Cognitive Behaviour Therapy

CBT adalah sebuah terapi yang menggabu.ngkan (Pikiran) cognitive dan (Perilaku) behavior. Intinya CBT ini fokus mengembangkan strategi koping (cara seseorang menghadapi masalah) yang dapat menyelesaikan masalah sekarang dan juga mengubah pola pikir. CBT pertama kali ditemukan oleh Aaron Beck, seorang psikiatrik yang menyadari bahwa manusia senang berdialog dengan diri sendiri. Bagaimana mereka menanggapi dialog itu akan sangat mempengaruhi emosi mereka. Misalnya seorang perempuan mengirim SMS ke pacarnya, satu jam berlalu tak ada balasan. Akan ada dua dialog di dalam pikirannya.

  • Dialog pertama :“Ah paling juga dia sibuk, ya sudah tungguin aja,” pasti mood dia akan lebih aman.
  • Dialog kedua :“Ih dia kemana? Jangan-jangan dia lagi sama cewek lain.” Seketika pikirannya tidak tenang dan akan membuat dia kalut dan mulai galau.

Kedua dialog tersebut di atas membuat Beck menyadari bahwa pikiran seseorang akan sangat mempengaruhi emosi dan juga perilakuknya. Untuk itu penting untuk menjaga pikiran kita. Saya akan akhiri sesi tentang CBT sampai di sini karena saya juga masih belum ngeh betul dengan terapi ini. Namun pengantar tentang CBT ini membekas betul dalam ingatan saya. Saya menyadari bahwa selama ini, hampir 27 tahun hidup, saya selalu diperbudak pikiran saya. Saya menyadari saya sering sekali menciptakan dialog kedua. Membiarkan pikiran saya beransumsi. Saya merasa orang lain  membenci saya hanya karena mereka mengacuhkan saya, beberapa teman masa lalu yang tiba-tiba cuek  membuat saya berpikir saya nggak becus dalam bersikap. Bahkan saya bisa-bisanya tersinggung karena status FB teman saya. Pikiran saya membuat saya berpikir saya bukan orang baik dan tak bisa memelihara hubungan dengan orang lain hanya karena beransumsi negatif.  Di sinilah saya menyadari hal paling penting dalam hidup ini adalah mengendalikan pikiran kita. Ah pantaslah orang paling bijaksana adalah mereka yang dapat berdamai dengan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara mudah, mesti ditanam sejak dari dalam kandungan. Hal tersebut adalah alasan perempuan harus berpendidikan. Bukan hanya dari bangku formal tapi juga informal dengan banyak membaca. Banyak membaca akan membuat kita tahu akan segala hal dan membuat kita lebih bijaksana dalam bersikap pada anak-anak kita. Banyak sekali permasalahan pikiran yang beransumsi negative seperti pada dialog kedua karena seseorang jarang dipuji dan bahkan sering dikritik oleh orangtua mereka. Saya kira menikah memang paling bagus di usia matang, karena saat itu diharapkan seseorang bisa berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan pikiran negatif di dalam diri.

Pikiran negatif dalam diri bisa menjadi senjata pembunuh karakter.  Pada awal mulanya pikrian negative beransumsi bahwa kita tidak mampu lama-lama seluruh diri kita tidak percaya dan bahkan menciptakan karakter tertentua yang benar-benar tidak mampu. Kemudian berkembang menjadi pikiran yang menganggap hidup tak berarti. Mengerikan memang, makalah mari jaga pikiran kita agar berpikir baik saja. Bagaimana caranya?

Salah satu tujuan metode CBT adalah mengembalikan pikiran negative dengan rasional. Misalnya, kamu ingin ke luar negeri. Namun otak kamu berpikir tidak bisa sama sekali karena kamu nggak punya uang dan miskin. Ganti pikiran itu lebih realistis. Tidak apa-apa saya tidak ke luar negeri tetapi saya bisa jalan-jalan di Indonesia saja. Yaps mulailah mengganti pikiran negative dalam diri kamu dengan hal-hal yang lebih realistis. Contoh lain. “Saya tak bisa menulis blog setiap hari, karena saya tidak mampu.” Dan ternyata pikiran itu membuat kamu enggan menulis blog sampai akhirnya tidak mampu benaran dan menjadikan blog kamu sarang laba-laba. Ganti pikiran itu dengan

“Saya menulis tidak setiap hari tetapi saya akan selalu menghasilkan tulisan blog yang baik.”

Sekian dulu tulisan panjang ini. Jangan lupa bahagia yah!

3 thoughts on “Pikiran Negatif adalah Awal dari Kebiasaan Negatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *