Perhentian 1B – Khotbah Romo Tampan tentang kesengsaraan…

IMG_20180831_073458

Cerita sebelumnya

Mereka duduk di bangku keempat dari altar.  Atas kemauan  sang Ibu tentu saja. Vero  menghempaskan pantat dengan enggan, menatap kosong ke arah altar yang putih. Duduk di depannya satu keluarga, Ayah yang berperut sangat gendut dengan lemak di dagu yang besar. Ibu yang tubuhnya berlemak di sana-sini terutama di perutnya yang berlipat tiga. Ia ngeri membayangkan mereka bercinta setiap malam. Mereka pasti bercinta dengan posisi misionaris, karena membayangkan perempuan itu mengangkang di atas suaminya membuatnya teringat akan kali ciliwung.

Dua anak perempuan yang berusia SD atau SMP yang juga tak kalah gendut, duduk di antara kedua orangtuanya itu. Keluarga gemuk. Mereka pasti sering makan daging atau tak pernah olahraga.
Dia mulai merasa gerah. Begini mungkin perasaan lusifer, bila berada di dalam gereja. Dia merilik ke samping. Ibunya tampak menutup mata dan khusuk berdoa.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Ibunya, Melinda memintanya ke gereja bersama,
“Hari ini tiga tahun kematian Ayahmu, Vero. Tolong temani Ibu ke gereja.” Suara Melinda memelas dan penuh harap tadi pagi di meja makan.

Vero memandang ke mana saja selain mata Ibunya.  Dia benci bagaimana dia selalu jahat pada semua orang, tapi selalu tak bisa tega melihat Ibunya memelas.

“Selama tiga tahun ini, Ibu tak pernah maksa kamu, Ver. Hari ini temanilah Ibumu ini!” Suara Melinda semakin memelas.

Vero mendesah.
“Baiklah! Tapi jangan pernah paksa aku lagi ke gereja. Cukup hari ini saja.”

Ia melihat ada kelegaan di mata Melinda. Dia kesal sekaligus senang membuat Ibunya senang.

“Kamu pindah agama, Ver?” tanya Ibunya lagi.

Vero mendesah lagi. Dia tahu pertanyaan itu akan muncul. Dia tidak pindah agama, dia memutuskan untuk tidak beragama. Agnostik. Namun menjelaskan hal itu pada Ibunya akan menjadi hal rumit.

“Vero masih Katolik, Ma. Vero lagi nggak ingin gereja aja.”

“Tiga tahun, Ver. Tiga tahun kamu nggak gereja. Kamu butuh Tu….”

“Mama masih pengen aku ke gereja?”

Melinda menatapnya lama kemudian berlalu.

Mereka – kedua orangtua Vero maksudnya, menamainya Veronika karena mereka pertama kali bertemu saat jalan salib tepat di perhentian Veronika mengusapi wajah Yesus.  Ayah dan Ibu Vero saling menatap dan jatuh cinta di saat pehentian Veronika mengusapi wajah Yesus.
Mereka kemudian bertemu lagi di luar gereja, bertukar nomor telepon rumah, dan seterusnya adalah sejarah yang tak pernah bosan Ayahnya ceritakan.

“Sebenarnya bukan hanya itu saja alasan kami menamaimu Veronica,” ujar Ayahnya. Lima tahun pernikahan mereka bisa dibilang adalah tahun-tahun sulit.  Ibunya tak kunjung-kunjung hamil. Usia mereka menginjak kepala tiga.

“Kami novena. Kami minta diberi anak perempuan dan akan menamai dia Veronika. Kami juga berjanji akan mendukung anak perempuan kami menjadi biarawati.”

Kini ketika usianya duapuluh lima tahun perkataan Ayahnya selalu jadi bahan tertawaan. Dia tak pernah membayangkan dirinya Veronika Novena akan menjadi seorang biarawati. Setidaknya kalau ingin menjadi biarawati kau harus perawan. Vero melepaskan keperawanannya setahun setelah kematian Ayahnya.

Ayahnya Agustinus adalah laki-laki paling katolik yang pernah dia temui. Setiap malam dia membacakan kitab suci sebagai pengantar tidur. Favorit Vero adalah ketika Yesus lahir. Dia senang membayangkan seorang malaikat muncul dari langit dan menampakkan diri pada para gembala. Ayahnya punya bakat menceritakan sesuatu menjadi begitu hidup. Agustinus akan mengepakkan kedua tangannya dan menyanyikan Gloria in ex celcis deo dengan suara merdu dan sungguh-sungguh. Membuat Vero percaya ayahnya adalah malaikat. Kemudian Agustinus mengambil sarung, mengalungkan di bahu, membungkuk dan bilang.
“Yesus juru selamat telah lahir.”
Membuat Vero percaya dia berubah menjadi gembala.  Vero seperti menonton sebuah pertunjukan drama natal. Sejak kecil dia selalu dekat dengan Ayahnya. Agustinus senang sekali mengajaknya ke gereja pada hari minggu pagi pukup enam. Hanya mereka berdua. Ibu lebih senang gereja pukul delapan.

“Tuhan itu baik, Ver. Dia memberi Ayah dan kamu banyak berkah. Mintalah padanya. Apapun. Pasti akan terwujud.”

Vero tumbuh menjadi gadis yang percaya Tuhan akan mengabulkan semua hal yang dia minta. Dan memang Tuhan selalu mengabulkan yang dia minta. Selama duapuluh satu tahun apapun yang veronica minta selalu dikabulkan termasuk ketidakinginannya menjadi biarawati.

“Ayah mau kamu masuk biara, Ver,” ujar Agustinus saat Vero kelas tiga SMA.

Dia mendesah dan membayangkan rumitnya biara dan muka muram para suster.

“Ayah sudah janji pada Tuhan, Ver. Ayah sudah janji kau akan jadi suster.” Suara Agustinus bulat dan pasti.

Veronica berdoa pada Tuhan setiap malam selama tiga bulan.

“Aku tidak ingin bekerja di ladangMu! Tolong aku!”

Saat dia hendak lulus SMA, Agustinus tiba-tiba memanggilnya dan berkata.

“di mana kau ingin kuliah?”

Vero menduga Tuhan tidak akan memanggil orang yang tak ingin menjadi pekerja di ladangnya.  Itu adalah saat-saat dia dekat dengan Tuhan. Dia berdoa setiap pagi dan malam. Selalu ke gereja di misa pukul enam pagi bersama Agustinus. Hingga hari itu tiba hari di mana untuk pertama kalinya Tuhan tidak menjawab doanya

Veronica berusia duapuluh dua tahun. Sedang akan mengerjakan skripsi, ketika Melinda menelepon.

“Ver, Ayah masuk rumah sakit!”

Agustinus tidak pernah sakit. Dia rajin berolahraga. Dia juga jarang makan daging. Paling penting dia rajin berdoa.  Agustinus mengalami Aneurisma, pecah pembuluh darah otak. Dia koma selama satu minggu. Itu adalah satu minggu terbanyak yang Veronica habiskan dengan berdoa. Dia janjikan begitu banyak pada Tuhan.

“Kalau Ayah hidup aku akan menjadi salah satu pekerja di ladangMu.” Salah satunya.

Agustinus mati di hari kedelapan dan menghancurkan hubungan Veronica dengan Tuhan. Dia tidak pernah menyentuh gereja. Dia tidak pernah berdoa. Dia perang dingin dengan Tuhan

“Ayo berdiri!” Suara cempreng perempuan gemuk pada ananya di depan mereka mengagetkan Vero. Mengembalikannya pada masa sekarang.
Seluruh umat termasuk Ibunya berdiri. Vero ikut berdiri. Paduan suara menyanyikan lagu. Dari pintu altar Imam, misdinar,  dan lektor berjalan. Sesuatu pada Imam itu menarik perhatian Vero. Dia cukup tinggi. Kulitnya cokelat. Struktur wajahnya keras tetapi matanya lembut.

“Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” Suara Imam itu mengingatkannya pada suara ombak yang tenang.

“Bapak, Ibu, Saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Hari ini kita merayakan hari Minggu biasa ke 23. Injil hari ini akan mengisahkan tentang Simon Petrus yang dipanggil Tuhan untuk menjadi salah satu muridNya.” Suara Imam itu tenang dan damai.

Sesuatu berdesir di dalam hati Vero. Untuk pertama kalinya dia memandang Altar  lebih sering dari biasanya.

“Romonya cakep, yah!” Seorang di belakangnya berbisik.

Vero mengiyakan dalam hati. Dipandangnya laki-laki di depannya itu. Kulit cokelat, rahang tegas, suara yang lembut dan dialek yang baku. Ia menduga laki-laki itu mungkin dari Indonesia timur. Ambon mungkin. Dia pernah punya teman orang Ambon. Badan dan stamina mereka bagus. Hatinya tergelitik memikirkan stamina Romo di depannya itu.

“Jiwaku memuliakan Tuhan…..” nyanyian pemazmur mengagetkan Vero.

Dia berdiri dan mendengarkan Romo tampan itu membacakan injil. Injil berkisah tentang pertama kali Simon Petrus dipanggil Yesus sebagai murdNya. Untuk pertama kalinya dia menyimak dengan baik bacaan injil.

“Simon Petrus dalam injil dikisahkan sebagai nelayan yang hebat. Dia selalu pulang dengan membawa berbarel-barel ikan. Untuk pertama kalinya, hari itu tak ada satu pun ikan yang ditangkap Simon….” Romo itu mulai khotbahnya.
Vero duduk menatap mimbar tanpa berkedip.

“Simon merasa frustasi, marah, dan mungkin malu. Bayangkan untuk pertama kalinya dia tidak memperoleh satu ikan pun padahal dia nelayan yang hebat.

Vero memikirkan dirinya sendiri. Ketika Ayahnya meninggal, dia merasa frustasi dan marah yang hebat. Untuk pertama kalinya Tuhan tidak mendengarkan doanya, padahal dia kesayangan Tuhan. Padahal doanya selalu dikabulkan.

“Saat seperti itu Simon merasa kecil. Merasa tak berguna. Merasa butiran debu. Merasa aku mah apa atuh….” Tawa terdengar di antara umat-umat. Vero tersenyum kecil. “Hingga kemudian yesus datang dan menyuruhnya ‘bertolaklah ke tempat yang dalam!'” Romo itu berdehem sebentar.

“Orang gila mana yang menangkap ikan di siang hari? Begitu mungkin pikiran Petrus saat mendengar hal itu. Namun dia percaya dan melakukan apa yang diperintahkan.  Hasilnya dia memperoleh banyak kelimpahan.” Romo itu terdiam sejenak.

“Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian apa yang menimpa Petrus juga menimpa kita. Dalam hidup kita akan mengalami masalah. Bangkrut, kehilangan orang yang disayang, patah hati. Masalah-masalah itu membuat kita merasa tak berarti. Masalah itu membuat kita kecil. Masalah itu membuat kita mendekatkan diri pada Tuhan. Namun ada juga yang sama sekali tidak mendekatkan diri pada Tuhan. Masalah membuat mereka lari dan balik membenci Tuhan. Namun Tuhan itu adil dan tak pernah melepaskan kita. Kepada mereka yang mendekatkan diri padanya dia memberi peneguhan. Kepada mereka yang lari padanya dia memberikan hal-hal yang membuat mereka tersadar betapa Tuhan mencintai mereka. Seperti Petrus yang disuruh Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam. Kita juga demikian. Saat masalah Tuhan meminta kita untuk melihat kembali ke dalam diri. Mempertanyakan hal yang paling dasar. ‘Tuhan apa yang Kau inginkan untukku kerjakan. ‘ maka kau akan menerima kelimpahan penuh. Amin.”

Romo itu melanjutkan dengan doa aku percaya.

Vero kehilangan kata-kata.  Dia mulai merasakan matanya berkaca-kaca. Dia menutup matanya dan berseru dalam hati.
“Tuhan mengapa kau mengambil Ayahku? Apa yang Kau inginkan dariku? Berbicaralah!”

Dia membuka mata dan muncul keinginan untuk berbicara dengan romo itu.

***

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *