Pengalaman membaca Perjalanan Mencari Ayam…

15343174409891781373342

Membaca Kumcer perjalanan mencari ayam (PMA) merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ada 17 Cerpen yang penuh dengan cerita kehidupan, gerakan selamatkan alam, dan keserakahan manusia.

Dari semua cerpen itu, saya memfavoritkan perjalanan mencari ayam, yang juga adalah cerpen pertama dan judul Kumcer ini.

Sebelum membahas tentang Perjalanan mencari Ayam, saya ingin mengucapkan selamat dan bangga pada Ka Min, aka Armin Bell yang kembali membuat buku. Tidak gampang menulis apalagi menulis tulisan yang bagus. Namun kita tidak perlu membahas Ka Min panjang lebar. Yang jelas dia sudah menulis sejak lama sekali dan saya adalah salah satu penggemarnya sekaligus berguru padanya dulu, ketika saya rajin menulis fiksi (Sekarang saya kebanyakan menulis tugas kuliah atau postingan blog review) Toh perjalanan mencari ayam sudah membuktikan kehebatan ka Min.

Di postingan blog ini saya lebih khusus membahas Perjalanan mencari Ayam. Dari semua cerpen yang ada, cerpen ini yang memberi saya kesan mendalam dan membuat saya membaca lebih dari sekali. Setiap kali membaca, saya selalu akan mengikuti para Tokoh. Di cerpen ini tokoh kita Leon dan Daria adalah 2 tokoh yang saling jatuh cinta. Plot dari cerpen ini sederhana. Leon jatuh cinta pada Daria, Leon tidak punya pekerjaan tetap sehingga orangtua Daria lebih suka Daria menikah dengan pria lain yg jauh lebih tua dan jauh lebih kaya. Leon yang patah hati dihadiahi ayam pedaging (semacam ayam potong) oleh teman-temannya. Ayam itu bertumbuh besar dan dapat berkokok (padahal ayam pedaging jarang bisa berkokok). Suatu ketika Ayam itu hilang.
Kemana ayam itu? Kalian bisa membeli Kumcernya seharga Rp.65000 di Ka Min…

Ada banyak hal yang saya pelajari dari cerpen ini, terutama sebagai orang Manggarai..
1. Isu Maskulinitas
Bukan hanya perempuan yang tumbuh dengan masalah gender, laki-laki juga. Hanya saja maskulinitas tidak semasif isu femenim. Sejak kecil laki-laki Manggarai tumbuh dengan sadar bahwa dia harus bekerja, dia adalah kepala keluarga, kalau dia belum bekerja sebaiknya tidak usah menikah karena pasti tidak akan mampu membiaya istrinya, dan sebagainya. Laki-laki Manggarai tumbuh besar dengan tanggung jawba besar di kepalanya. Hal ini membuat kebanyakan laki-laki Manggarai memiliki harga diri tinggi jika mapan dan sebaliknya. Ada banyak Leon di Manggarai. Sebagai laki-laki yang “takdirnya” adalah pencari nafkah, memiliki pekerjaan adalah kunci. Itulah mengapa dia tidak mengikuti permintaan Daria yg mengajak kawin lari. Dia laki-laki tapi belum bekerja, sok-sokan mau bawa kabur anak perempuan orang.

Menurut saya pribadi inilah lambang dari ayam pedaging milik Leon yg mampu berkokok itu. Laki-laki di sini digambarkan sebagai ayam jantan. Ayam jago. Namun ada ayam pedaging seperti Leon yang kastanya rendah karena tak punya pekerjaan. Ayam yang hilang adalah simbol bagi Leon untuk mencaritahu makna dirinya sebagai laki-laki. Maskulinitasnya yang telah bercampur baur dengam gengsi dan ekonomi. Di sinilah yang membuat saya mengangumi cerpen ini. Sederhana saja kisahnya, tapi membuat saya berkontemplasi

2. Menikah butuh uang
Barang siapa yang bilang menikah hanya butuh cinta, bisa jadi dia adalah seorang yang tidak menikahi cintanya tetapi seseorang yang banyak uang. Menurut berbagai penelitian di Lembaga survey Amerika, kebanyakan pernikaham kandas karena masalah ekonomi. Dalam sebuah buku psikologi pernikaham yang saya baca baru-baru ini. 10 tahun adalah masa terlama seseorang jatuh cinta sisanya adalah penerimaan. Bayangkan selama 10 tahun pernikaham tidak ada uang? Leon sadar akan hal tersebut, makanya dia cuma bisa memeluk tiang bambu mendengar Daria akan menikah. Dia sadar dia tidak punya uang untuk menikah dan alih-alih merebut kekasihnya dari pria lain, dia memilih menangisi nasibnya yang miskin… Zaman Now nikah enggak ada uang? Bayar Make Up saja kau rogoh kocek 4juta…

3. Keyakinan bahwa kalau kau menikah dengan orang kaya maka kau akan bahagia….
Orangtua Daria adalah jenis ini. Mereka menikahkan Daris dengan Duda tua kaya raya dengan harapan anak mereka akan bahagia. Memang menikah tanpa uang bikin kita tidak bahagia, tetapi lantas menikah karena uang pun tidak membuat kita bahagia. Bahagia itu relatif dan relatif itu sederhana. Intinya berkecukupan. Tidak kurang, berlebih syukur-syukur.

4. Orangtua bukan Tuhan dan bahkan kita pun punyak kebebasan untuk tidak mengikuti kehendak Tuhan..

Menjadi orangtua tidak lantas menjadikan kita punya hak untuk mengatur anak-anak kita. Mereka memiliki kebebasan untuk menentukan nasib mereka termasuk dengan siapa mereka menikah. Kita hanya bisa mengarahkan mereka untuk mencari pria seperti apa. Ada banyak orangtua seperti orangtua Daria. Mereka menentukan sendiri kebahagian anak mereka tanpa menkonfirmasi apakah betul itu kebahagian yang diinginkan si Anak. Saya pikir di sinilah pentingnya untuk memikirkan kembali keinginan untuk nikah muda. Menjadi orangtua itu susah sekali. Kalau kita tidak terlebih dahulu berdamai dengan ego kita, maka kita cemderung lebih egois baik terhadap pasangan maupun anak-anak kita.

Secara keseluruhan saya menikmati membaca Kumcer ini. Saya menyadari bahwa banyak hal telah berubah terutama di Manggarai. Saya pikir gaya menulis Ka Min mungkin terpengaruh oleh Eka Kurniawan dan Haruki Murakami. Ada banyak hal yang diulang-ulang dan jika kau bukan pembaca tekun akan membosankan. Yang jelas itulah pengalaman membaca perjalanan mencari Ayam. Selain PMA, ada beberapa cerpen yang menurut saya menarik yaitu Radiogram dan Tugu di Tengah Kampung.. Ini Kumcer bagus untuk mengingat hal-hal penting dalam hidup yang mungkin terlupakan.
Sukses untuk Ka Min..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *