Artikel, Kesehatan Jiwa

Negative Self-Talk : Langkah-langkah untuk Menghentikan Kritik dari Dalam Dirimu

insecurity-1306280_640

Kebanyakan dari kita sangat familiar dengan “kritik negatif dalam diri.” Apalagi ketika kita akan melakukan suatu hal baru. Seketika berbagai suara negatif dari dalam diri berkumandang di pikiran. Saya misalnya, sudah sejak lama saya ingin menuli novel, tapi ketika ingin menulis suara itu bermunculan: “Kamu nggak mungkin bisa menyelesaikannya.” “Kamu terlalu malas untuk melakukannya.” “Mending kamu nonton drama korea aja daripada melakukan hal itu.” “Kamu jangan bermimpi jadi penulis, jadi penulis itu susah tahu nggak.” Dan sebagainya. Apakah kalian pernah mendengar suara negatif itu di dalam hidup kalian selama ini, ketika kalian akan melakukan sesuatu yang baru? Kalau Iya, jangan bersedih, kamu nggak sendirian, semua orang pernah mendengarkan suara negatif itu. Namun ada yang mengacuhkannya, ada yang membiarkannya. Mereka yang mengindahkan suara berisik itu kemudian akan menjadi sukses. Yang membiarkan, mungkin akan sukses tetapi secara batiniah tidak, malah akan timbul penyakit jiwa macam depresi sampai halusinasi. Mengerikan bukan?

Baru-baru ini saya mengantar mahasiswa saya ke sebuah klinik jiwa. Di sana saya bertemu seorang pasien yang mengalami halusinasi, sering mendengar suara yang mengatakan dia jelek. Setelah diusut awal mula dia mengalami hal tersebut karena dia terlalu mendengar kritikan negatif dalam dirinya. Tadi malam saya berpikir tentang diri saya sendiri. Astaga saya sering sekali mendengarkan kritikan dari dalam diri itu. Saya percaya bahwa saya tidak bisa dan hasilnya saya menghabiskan waktu bermalas-malasan dan di akhir mengutuk diri sendiri karena tidak melakukan apa-apa. Mengerikan Bukan? Makanya saya memutuskan membuat tulisan ini. Selain untuk mengingatkan saya yang suka mendengarkan suara berisik dari dalam diri ini, saya berharap tulisan ini juga sedikit membuat kamu yang baca mulai waspada pada suara yang penuh kritikan itu.

Pada hakikatnya kritikan dari dalam diri dibentuk untuk melindungi kita, terutama saat kita masih kecil. Suara kritik tersebut melindungi kita saat melakukan hal-hal yang kita tidak mampu. Misalnya anak kecil berumur lima tahun ingin mengambil toples kue di lemari yang lebih tinggi. Suara kritikan melindungi dia agar tidak mengambil toples itu “Jangan, kamu belum bisa melakukannya.” Dan memang saat itu dia belum bisa melakukannya. Namun ketika kita beranjak dewasa, suara kritik itu tidak ikut menjadi dewasa. Dia tetap berpikir kita adalah anak kecil umur lima tahun yang tidak bisa apa-apa. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana suara kritik itu berkuasa. Setiap kita akan melakukan sesuatu, dia akan mengkritik kita tidak bisa, karena kita selalu dianggap anak kecil. Padahal kita sudah dewasa dan banyak hal yang bisa kita lakukan termasuk bikin skripsi, move on setelah patah hati hebat, dan sebagainya.

Suara kritikan dari dalam negeri memiliki pola yang sama dengan pikiran negatif dalam membentuk perilaku maladaptive seseorang. Sama seperti pikiran negatif, suara kritikan bukanlah suara yang sebenarnya, tetapi merupakan pikiran yang meragukan kemampuan kita dan membuat kita menjauh dari tujuan kita. Pikiran ini tidak hanya di pekerjaan atau karir tetapi juga di dala hubungan. Pikiran tersebut bisa sangat kejam dan sadis. “Kamu pikir kamu siapa?” “Kamu nggak akan bisa sukses.” “Nggak ada yang sayang padamu.” “Nggak ada yang akan peduli padamu.” “Orangtua kamu nggak pernah peduli padamu.” “Pacar kamu tak sayang padamu.” “Suamimu sudah tak nafsu lagi padamu. Bisa juga tenang dan merayu: “Kamu baik-baik saja dengan mengandalkan dirimu.” “hanya kaulah yang peduli pada dirimu.” “Kau harus menghadiahkan dirimu dengan kue atau pakaian mahal.” “Ayo rokoklah sebatang lagi, itu akan membuatmu tenang.”

Tak peduli kejam atau lembut, pikiran-pikiran tersebut akan membuat kita tidak mendapatkan tujuan yang kita inginkan. Pikiran untuk membuat kita belanja atau makan kue misalnya membuat kita tidak bisa mengontorl diri. Jadi bagaimana cara menghilangkanya? Saya membaca banyak sekali artikel dan buku untuk menjawab pertanyaan ini, Saya kemudian sampai pada sebuah tulisan dari seorang psychologist dan penulis  Robert Firestone. Dia mengembangkan sebuah terapi bernama voice therapy. Terapi ini berusaha untuk mengidentifikasikan dan memisahkan kritikan dari dalam diri dengan cara mengerti asal dari kritik dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Langkah Pertama : Identifikasikan apa yang dikatakan oleh suara kritik dalam dirimu

Hal pertama yang dilakukan untuk menghentikan suara krritik dari dalam dirimu adalah mengetahui apa yang dikatakan kepadamu. Setiap kali  kita sedang berhadapan dengan hal baru atau ingin melakukan sesuatu, misalnya mengerjakan skripsi atau mendapatkan tawaran kerja baru. Perhatikan betul apa yang dikatakan pikiranmu. Ingatkah bahwa perkataan seperti “Kau tak bisa menulis skrpips.” “Teman-teman kerjamu akan membencimu.” Adalah pikiran yang tidak benar. Ketika tahu apa yang dikatakan, kita cenderung lebih waspada.

Langkah Kedua: Menyadari darimana suara kritikan itu berasal

Setelah mengetahui apa isi suara dalam dirimu, saatnya menyadari darimana suaramu berasal. Setelah mengetahui apa yang terdengar suara dalam diri kita, kita akan lebih sadar bahwa suara itu tidak berasal dari diri kita yang sebenarnya.Suara itu berasal dari masa lalu, dari ayah atau ibu yang tidak suka atas tindakan kita di saat kita kecil. Perkataan “Kau tidak bisa melakukannya,” sering kita dengar saat masih kecil, ketika kita meminta sesuatu pada Ibu atau ayah kita. Mengetahui dari mana asal suara itu membantu kita mengembangkan rasa cinta pada diri sendiri.

Langkah Ketiga: Memberikan respon untuk suara kritikanmu.

Langkah ketiga dari voice therapy  ini adalah menjawab kembali setiap kritikan yang dilontarkan pikiran. Jika kita memiliki pikiran seperti “Kamu itu bodoh, kamu tidak bisa menyelesaikan skripsmu, pergi saja ke mall untuk bersenang-senang.” Respon pikiran ini dengan “Saya tidak bodoh. Saya akan menyelesaikan skripsi ini. Saya akan bersenang-senang jika skripsi ini selesai.” Setelah memberi respon, sangatlah penting agar kita ,membuat pikiran rasional terhadap jawaban kita. “Saya bisa menyelesaikan skripsi ini, buktinya saya bisa menjalankan kuliah selama empat tahun dengan penuh semangat. Tidak ada orang yang tidak bisa menyelesaikan skripsi kalau dia berusaha.”  Hal yang sama bisa terapkan pada suara kritikan lain.

Langkah empat: Menngerti bahwa suara dari dalam dirimu mempengaruhi tingkah lakumu.

Setelah memberi respon kepada suara kritikan, kita akan menyadari bahwa tingkah laku kita selama ini terjadi karena kita selalu mendengar suara kita. Misalnya, seseorang yang pikriannya selalu mengatakan dia malas membuat skripsi, akhirnya sadar tingkah laku dia yang malas membuat skripsi, memilih menonton atau maind ari apda skripsi, rasa bosan dan enggan menulis skrpisi itu adalah karena pikirannya itu. Memiliki kesadaran bahwa tingkah laku negatif selama ini terjadi karena mendengarkan pikrian negatif membantu kita untuk mengubah pandangan tentang hal-hal yang isa kita lakukan. Bahwa kita bisa melkukan hal besar. Yah, kamu bisa melakukan hal-hal besar.

Langkah Kelima : Mengubah perilaku

Ketika seseorang menyadari bahwa dia mampu melakukan hal-hal besar tanpa terhalang oleh kritikan dalam diri sendiri. Dia kemudian mulai mengibah perilakunya menjadi postif. Mulai mengerjakan skripsi. Mulai mengerjakan novel dan sebagainya. Saya sendiri setelah mempraktikan langkah ini selama seminggu, mulai pelan-pelan menulis novel saya. Setiap kali suara kritikan itu datang saya coba hentikan dengan lima langkah dari Dr. Robert ini. Hasilnya lumayan saya mulai semangat menulis lagi.

Demikian artikel blog saya ini. Ingatlah kau lebih besar dari pikiranmu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, karena alam semesta adalah batasanmu. Hentikan suara kritikan dalam dirimu yang menyatakan kau tak bisa apa-apa, karena kau bisa apapun yang kau mau.

 

 

48 thoughts on “Negative Self-Talk : Langkah-langkah untuk Menghentikan Kritik dari Dalam Dirimu

    1. dan sepakat bahwa suara dari dalam diri akan mempengruhi langkah. Bahkan menurut saya suara dalam diri itu juga bisa berkomunikasi dengan suara dalam diri orang lain. Sehingga sering saya menemukan kejadian kalau lagi menyimpan rasa ga enak di hati pada seseorang, maka orang tersebut juga begitu. “Hati timbal balik.” maka solusinya ya menjauhkan diri dari suara negatif. 🙂

  1. Hal ini juga terjadi sm aku mb, aku pengen banget bisa buka usaha sndirk tp bisikan2 negatif selalu mendahului sebelum niat saya beralih di coretan rencana.
    Ahh semoga aku bisa mengusir semua pikiran buruk itu dgn cara yg positif, thanks sharingnya.

  2. bena pribadi, kalau udah denger2 bisikan setan kritik macem gitu, langsung buru2 mengalihkan. mengalihkan dengan cara apapun. baik makan, nonton, nyanyi, denger lagu. tujuannya biar nggak kebawa sama kritikan setan itu -_- karena sebenernya mengkritik itu mudah, membenahinya yang sulit. ada kritik ada pembenahan. yha.
    yha,
    yah.

  3. Aku lupa baca di buku mana, suara-suara negatif dalam diri kita diberi istilah Kadal. Yang aku ingat di bab buku itu dikasih judul “Kalahkan Kadal dalam Dirimu”.
    Aku masih sering banget kalah sama suara-suara sumbang dalam diriku. Meski rasanya jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
    Harus banget mengalahkan suara negatif itu. Karena kalau ga akan membuat kita depresi.

  4. Wah, saya harus menerapkan voice theraphy sepertinya. Karena saya pun mendengarkan banyak kritikan dari diri dan kepada diri saya sendiri. Apakah kritik dari dalam diri ini juga termasuk apa yang disebut “otak kadal” ya, Mbak Ajen?

  5. Gue suka paragraf terakhir, Jen. Memang benar, kadang yang membatasi diri kita itu lebih banyak suara-suara yang berasal dari dalam diri daripada kritikan dari luar. Ah, kadang gue juga merasakan hal yang sama. Sepertinya gue harus mencoba langkah-langkah yang lo tulis.

  6. Pengaruh negatif yang datang dalam diri biasanya diawali dengan keraguan. Semakin ragu ragu maka akan semakin banyak bisikan negatif. Pokoknya mantap kan hati dan selalu berfikir positive. Serta berdoa yang banyak

  7. Jadi ingat sama jargon salah satu apparel olahraga, tentang perihal segala suatu tindakan yg awalnya hanya ada di benak saja, namun tanpa aksi yg nyata. Jadi untuk melaksanakan dalam aksi nyata ya itu tadi, ingat jargonnya salah satu apparel olahraga, JUST DO IT! 🙂

  8. Kalau untuk kasus terlalu pede gimana nih mb? Saya malah terlalu banyak bisikan positif. . jadi kadang terkesan terlalu pede gitu. .

    Duh maaf. . malah jd curhat. ..

  9. Wow, negative self talk terkadang membuat kita tidak percaya diri & lupa akan hakikatnya diri kita.

    Semoga kita bisa mengatasi hal ini & mampu menginspirasi orang lain.

    Thanks jen,

    Best,

    Kandida

  10. Setuju banget Mbak Ajen, tapi kadang2 malah menyalahkan orang lain atau keadaan kalau tidak berhasil mengalahkan kritikan dalam diri sendiri.

    Kalau saya Yang paling sering sih niat banget mau bikin blogpost tapi nanti2 tau-tau udah pagi aja. 🙂

  11. Hidup itu pilihan. Hidup itu bagaimana menghadapi semua hal yang menghampiri. Termasuk bisikan-bisikan negatif.

    Tentunya semua hal di dunia inipun memiliki sisi negatif dan positif. Kiranya kritikan negatif yang muncul dalam diri juga ada baiknya, yaitu menjadi pagar perilaku yang kadang keluar batas. Tapi ya kembali lagi, kritikan pada diri sendiri harus dibelokkan ke arah intropeksi, bukannya malah dibawa emosi dan baper hehehehe.

  12. Bener banget mbak, saya juga pernah merasakan hal seperti itu, ketika mencoba untuk menulis novel dan draftnya sudah jalan beberapa halaman, tiba2 berjalan setengah jalan gara-gara kritikan negarif di diri sendiri.

    Cara seperti itu kira2 bisa hilang selamanya gak ya mbak?

  13. Betul Mbak, suara yang berasal dari dalam diri, bisa berpengaruh pada tingkah laku kita. Kayak sugesti tersendiri. Oleh karenanya, saya lebih memilih untuk selalu mengatakan yang positif-positif aja, sekaligus bisa dijadikan motivasi untuk diri sendiri.

  14. Saya….
    Selalu mendengar kritik negatif dari orang. Dan itu yang sering membuat saya bimbang dengan apa yang sudah saya putuskan.

    Tapi sejak ikut NLP,
    Terasa lebih ringan dalam menyikapi setiap kritikan.

    Saya hanya perlu memilah, ini kata-kata yang powering (membangun) atau unpowering (melemahkan)…?

    Kalau melemahkan, akan saya buang jauh-jauh dari pikiran saya.

  15. bs dibilang itu intuisi bukan ya mba ajen?

    setuju, ” membuat pikiran rasional thd jawaban pertanyaan yg sering mengganggu pikiran”
    berulang kali bilang “saya bisa”!!

  16. Walah saya sendiri juga pernah mengalami suara-suara negatif, bukan sekali atau dua kali sih pernah sampai beberapa kali. Tapi dimana saya sedang merasa takut akan satu hal tertentu, malah hal yang biasa saya takutkan bisa sampai seminggu untuk tidak dilakukan dan malah menghindar dari yang ditakutkan itu.
    Tapi sekarang saya malah bisa menghadapinya dengan mudah, bisa dengan rasa iri kepada teman yang bisa melakukannya sedangkan saya tidak bisa, dari situ saya malah bisa menyelesaikan permasalahannya karena efek motivasi dari rasa iri itu. Bisa juga dengan cara yang langkah 5, itu yang saya sering lakukan sekarang-sekarang, cukup dengan mengubah perilaku.
    Memang menakutkan kalo dipikir-pikir sekarang, Kalo kita tidak bisa melawan suara-suara negatif itu malah bisa membuat perilaku kita jadi malas, yang harusnya kita bisa lakukan malah tidak dilakukan dan akhirnya menghambat hidup juga mba, malah bisa membuat kita jadi tidak bisa berkembang yang inginya main zona aman saja.
    saya bookmark deh, supaya inget juga 🙂

  17. Beberapa Kali aku juga pernah merasa minder, down, pesimis, kalau dlu aku sangat tertutup dan g pernah cerita jadi merasa terbebani banget. Tapi kalau sekarang, aku udh lebih terbuka berani blak blakan dengan teman dekat yg dirasa pas. Dan ini membantu banget sih buat aku.

  18. aku masih sering kalah sama suara-suara negatif begini mba, ujung-ujungnya apa yang udah direncanakan gagal semua gara-gara pesimis, makasih banyak mba aku mau coba praktekin voice therapynya juga semoga berhasih bisa mengurangi suara-suara negatif yang sering muncul nih

  19. Wah… keren banget kak Ajen, bermanfaat banget nih buat aku.
    Biasanya kalo ngerasa dapet bisikan yg jelek dari dalam hati, aku cerita sama Ibu atau temen deket aku, dari situ biasanya lebih tenang dan ketemu solusinya.
    Pikiran pengaruh banget sih ke kehidupan kita, kayak misalnya lagi patah hati, kecewa atau banyak pikiran buruk bisa berpengaruh banget sama kesehatan.

  20. Ini semacam skizofrenia bukan ya?

    Termasuk mendidik anak, kita harus hati2 dalam berucap. Kemarin aku dateng seminarnya bu Elly Risman, beliau bilang.. mengkritik dan mengancam anak efeknya jangka panjang. Besok dewasa anak bakal seperti yg udah ditulis ini tadi.. Termasuk bisa kena skizofrenia.

  21. Setuju. Bagaimanapun, ketika kita sendiri yang berpikiran negatif terhadap diri sendiri. Ya, pasti jadi bikin ‘ribet’ sendiri.

    Tapi, kalau ‘positif self talk’ nya terlalu tinggi. Bisa jadi sombong dan over confident ga sih?

  22. Mantap mbak.. itu guwe banget.. makanya aku tumbuh jd orang minderan. Kl udh gitu, biasanya aku ngomong ke temen dekat or suami. Aku gendut ya? Aku jelek ya? Bla bla bla.. biasanya mereka akan bilang kalo aku ga seperti yg kupikirkan. Hehe

  23. Keren mbak, hal sederhana yang sering kita abaikan… terima kasih sarannya mbak, semoga kedepannya aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap punya banyak waktu buat nonton drama korea 😊😊

  24. Termasuk dalam menulis skrip-sweet ehh skripsi. Waaahh, terimakasih banyak inspirasinya kak! Mudah-mudahan diri ini jadi bisa melawan sifat pesimis dari dalam diri. Aamiin! ^^/

  25. Aku pun sering begitu Kak ajen. Awal2 udah optimis. Eh dalam perjalanan adaaa aja yg bikin nggak yakin. Kayak tulisanku di Storial, sampe sekarang mentok di bab 2. Karena emang tersugesti, ga bakal kelar. Sekalipun kelar, ya jadi kek tulisan alay. Hahhaha

  26. wah, keren bgt tan,
    bener banget, tiap aku mau ngelakuin sesuatu selalu ada omongan dalam diri yang melemahkan hingga aku pesimis dan ga yakin apakah aku bener-bener bisa.
    dan biasanya mendengarkan suara sekitarku yang menyemangatiku jadi bikin aku termotivasi lagi,
    tapi kayaknya aku juga harus nyoba cara2 yang tante ajen tulis.

  27. Pernah ngerasain betapa kritikan negatif dalam diri itu mempengaruhi diri banget mbak. Tulisannya membuat widya semakin termotivasi buat terbebas dari jeratan kritik dalam diri. Oh iya, widya nyadar banget kadang kritikan itu bisa datang dalam bentuk rayuan yang bikin kita ga bisa ngontrol diri. Widya pernah ngerasain itu waktu ada diskonan produk fashion wkkwkwk “Ayolaaah wid, belii aja.. kapan lagi cobaaa? lagian kan diskonnya ga tiap hari. Sesekali kamu perlu membahagiakan diri kamu, wid. Kamu kerja juga perlu ada hasilnya dengan cara beli barang-barang branded” kira-kira gitu suara kritiknya mbak. Bener – bener bahaya ya 🙁

  28. wah, keren mbak.
    saya sering merasakan itu. tadi juga merasakan ada suara2 seperti itu.
    sering kali punya ide untuk melakukan sesuatu, tapi sering memilih ikut dengan suara itu.
    dengan penjelasan yang mbak sampaikan, saya bisa tahu bagaimana menghadapi suara2 ini.
    yang paling mengena, yang bagian sadari suara itu dari mana. itu membuat saya tahu bahwa bukan diri saya yang berbicara.
    semoga saya ada perubahan, karena untuk menulis di blog juga jadi jarang sekarang 😀

  29. Banyak yg bilang katanya kritikan itu datangnya dari syaitan. Jadi, cara menjauhinya adalah dekat-dekat dengan sang pencipta. Minta petunjuk, agar hati dicerahkan lagi dan dijauhkan dari pengaruh buruk. Bismillah, semangat!

  30. Rata2 banyak yg pernah ngalamin bisikan2 batin ya. Gue juga pernah..
    Dan ujung2nya malah ngikutin bisikan2 itu. Tapi kebanyakan bisikan2 ini lebih cenderung ke down motivation ya Jen atau justru negatif..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *