Select Page

“Tahun 2016, angka kejadian kekerasan pada perempuan mencapai 250.000 lebih.  Urutan ketiga adalah kekerasan saat pacaran.”

Aku tertegun mendengar perkataan Mas Maman, seorang kriminolog yang hadir di acara Netizen Gathering dengan tema  menciptakan Konten Kreatif Berbasis Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak anak yang digagas SerempakId dan Iwita. Kekerasan pada saat pacaran? Bagaimana bisa kekerasan itu ada di nomor urut 3?

IMG_20171130_105755

(Dari kiri ke Kanan Bu Martha, Mas Maman, and Bu Ina)

Aku teringat kisah seorang teman, sebut saja namanya Berlian (karena semua perempuan berharga) selalu ada memar di tubuhnya dan dia selalu bilang itu karena jatuh. Aku dan beberapa teman lain mengiyakan saja, sampai suatu hari dia harus memakai masker beberapa hari, karena memar di mulutnya. Curiga, ada sesuatu yang buruk, Kami mencoba bertanya padanya. Dan ternyata pacarnya ringan tangan dan sering memukulnya jika bertengkar.

“Kok bisa dia memukulmu?”

“Karena aku salah. Dia akan selalu minta maaf kok. Tenang aja, dia sayang ama aku. Ini dia belikan aku HP baru.”

Pernyataan temanku itu membuatku kaget, mana ada rasa sayang yang dilampiaskan dengan pukulan kasar. Kemudian aku tahu itu adalah ciri-ciri posesif. Mereka akan memukul  pasangan mereka karena hal kecil, lalu kemudian meminta maaf dengan membawakan hadiah. Siklus itu berulang terus sehingga pasangan mereka terbiasa dan menganggap itu normal. Sampai di sini aku merasa Iba sekali dengan temanku itu. Namun yang bikin aku kaget adalah ketika teman kami yang lainnya berkomentar.

“Bego banget sih Berlian mau aja dipukul demi hadiah. Kalau gue sih mending ninggalin. Dia mah matre ajaa itu.”

Aku kaget karena pernyataan itu diutarakan oleh seorang perempuan juga.  Tidak adakah belas kasihan dan empati untuk kemalangan yang  ditimpa temannya sendiri yang seorang perempuan sepertinya? Lalu tidak adakah niat dia untuk menyalahkan sang pacar yang telah memukulnya? Seolah-olah Berlian layak dipukul karena dia telah menerima hadiah dari pacarnya. Pemikiran itu membuatku sadar bahwa sebagai perempuan kadang kita berlaku kejam pada sesama perempuan. Hal tersebut adalah hasil pemikiran dari mendengar diskusi asik dengan 4 nara Sumber keren di Gathering Serempak ID. Bu Ratna, dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan  Perlindungan Anak, Bu Ina seorang Pengacara yang mengatasi banyak masalah kekerasan pada perempuan, Mas Maman, Kriminolog dan juga seorang pemerhati kekerasan perempuan dan anak, dan Mbak Martha Founder Iwita.

IMG_20171130_094317

(Keempat NaraSumber Kita)

Keempatnya memaparkan hal penting tentang masalah pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Salah satunya adalah kesetaraan gender.

IMG_20171130_100217

Kesetaraan gender merupakan fokus kelima dari pengembangan berkelanjutan WHO

Gender di sini bukan berarti perempuan saja yah tetapi jenis kelamin. Istilah itu sering dikaitkan dengan perempuan karena perempuan paling sering direndahkan. Kalau laki-laki yang direndahkan tetap saja kesetaraan gender. Yang perlu diingat bahwa menjadikan posisi perempuan dan laki-laki setara bukan berarti kita tidak butuh laki-laki. Jika di rumah kita ada genteng bocor dan ada laki-laki biarkan mereka yang mengerjakan – ini adalah etika,  tetapi jika genteng bocor, sedang hujan, dan tak ada laki-laki maka perempuan bisa mengerjakan. Sebaliknya laki-laki bisa menangis dan bersedih, tidak ada pekerjaan milik satu gender tertentu; laki-laki lebih cocok jadi insinyur atau yang jadi koki lebih cocok perempuan.

IMG_20171130_094535

(Bu Ratna  dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)

Bu Ratna bilang kodrat perempuan itu hanya 5 menstruasi, punya rahim, hamil, melahirkan, dan menyusui. Selain itu tidak. Perempuan tidak dikodratkan untuk bekerja di dapur, menikah, dan tidak berpendidikan. Saat ini, isu permasalahn perempuan yang sedang hits adalah pernikahan dini atau pada usia remaja, kekerasan pada perempuan, human traficking, dan pelecehan seksualitas. Permasalahan di atas semakin buruk ketika masyarakat menjadikan perempuan sebagai objek. Masih ingat ada wacana pemerkosa menikahi korbannya sebagai solusi? Yang lebih menyedihkan ketika diperkosa, perempuan cenderung takut melaporkan karena takut diomongin orang, belum lagi pernyataan dari berbagai pihak bahwa laki-laki memperkosa perempuan karena memakai baju yang seksi. Saya pernah merinding mendengarkan seorang Ibu berkata

“Pantas perempuan itu diperkosa, pakaiannya seksi betul.”

Mengapa perempuan yang harus menjaga sikap sementara laki-laki tidak? Saya jadi ingat sebuah buku The Art of Seduce karya Robert Greene, dia menulis bahwa kekerasan pada perempuan tidak akan terjadi jika sejak kecil anak laki-laki dan perempuan diajarkan untuk tidak kasar dan menghargai perempuan. Hal itu masih minim sekali diajarkan oleh orangtua.  Masyarakat kita cenderung  tak adil bagi perempuan dan sedihnya yang berlaku tak adil itu adalah perempuan itu sendiri. Di sinilah Aku merasa perlu sekali untuk perempuan diajarkan untuk.menghormati perempuan. Janganlah kita menjadi pencibir dan tukang Julid terhadap sesama perempuan. Aku ingat sebuah perkataan

“Jika perempuan tidak menghargai permepuan lainnya, mereka memberi contoh pada laki-laki.”

Lalu caranya bagaimana? Mudah saja dengan tidak berkomentar merendahkan perempuan baik di media sosial maupun di dunia sehari-hari. Perempuan itu berharga dari merekalah terlahir anak-anak bangsa yang membawa harapan.

Isu lain yang diangkat pada Gathering Netizen di atas  adalah Anak. Aku sendiri merinding betul soal isu ini. Berikut beberapa fakta yang mesti kamu tahu..

Indonesia adalah negara tujuan wisata pedofil Australia terbesar di dunia.

Pelecehan seksual pada anak dilakukan pada bayi hingga SD.

Pelaku kejahatan seksual kebayakan orang terdekat.

Masih ingat grup FB Loly Candy beberapa waktu lalu? Mengerikan bukan. Selain itu juga para predator seksual anak sering megambil foto anak-anak kita di media sosia. Sangatlah oenting abgi orangtua untuk tidak memamerkan foto anak terlalu sering apalagi dengan pose seksi atau telanjang. Menaruh foto seksi atau telanjang anak di Media Sosial termasuk pelecehan seksual loh. Jadi jangan pernah lagi melakukan hal seperti itu. YUk lindungi anak-anak kita.

IMG_20171130_102011

Jika kamu ingin membaca lebih banyak lagi info tentang perempuan dan , kamu bisa loh membuka Website SEREMPAK.     Website SEREMPAK, seputar perempuan dan anak, merupakan salah satu inovasi yang dikemas dan dikembangkan oleh KPP-PA Bidang Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bagian Infrastruktur Teknologi dan Lingkungan untuk dapat meningkatkan akses perempuan di bidang-bidang strategis, seperti pemerintah, jasa, pendidikan, pengetahuan, dan berbagai informasi lainnya yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan.

Untitled

IWITA (Indonesia Women IT Awareness), Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi telah diberi kehormatan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menjadi mitra pengelola website Serempak.  IWITA sendiri memiliki visi mencerdaskan perempuan Indonesia melalui TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) maka kerjasama ini diharapkan dapat menjadi sarana literasi digital dan penguatan jejaring yang ada di masyarakat dengan saling bertukar praktekpraktek terbaik, pengalaman dan aspirasi-aspirasi lainnya yang konstruktif untuk kemajuan perempuan.

Jika kamu ingin menulis seputar pemberdayaan perempuan dan perlindungan Anak, kamu bisa juga loh menjadi kontributor di website SEREMPAK. Pada akhirnya mari kita sama-sama menciptkan lingkungan yang baik bagi perempuan dan anak-anak.

Untuk informasi silakan email ke: serempak.indonesia@gmail.com