Mengapa Perempuan yang Belum Menikah pada Usia 30an tahun ke atas bukan Urusan Andà


images


Sebagai Existentialist, saya tahu betul semua orang memiliki kebebasannya masing-masing termasuk untuk belum menikah. Namun sayang tidak semua berpikiran seperti saya, terutama mereka yang tinggal di Indonesia tercinta ini. Belum menikah di usia seharusnya sudah menikah dan beranak pinak seumpama jerawat yang baru tumbuh, gatal banget untuk dipegang-pegang.

Berbagai ucapan terlontar dari sopan “Belum menemukan jodoh yang tepat” sampai ekstrim “Kalau belum nikah-nikah sebelum usia menikah kandungan kering dan susah punya anak ” lalu bagaimana dengan perempuan yang hamil di usia 45 tahun? Yah mungkin resiko mereka besar, tetapi hal itu mematahkan premis kandungan kering itu. Logika yang bikin saya pusing, lantaran tak bisa menemukan sebab musabab.

Saya sendiri mengakui pertanyaan kapan nikah lebih seumpama basa-basi. Saya pernah menyinggung seorang kakak dengan bertanya, “Anaknya sudah berapa, Ka?” Kaka itu menjawab nggak sopan tanya begitu karena dia belum menikah. Jujur saja saat itu saya terjebak pada pola pikir masyarakat kebanyakan usia sedia harusnya sudah menikah. Duh..

Lalu kenapa ini semua terjadi?
Jawabannya jelas, kita selalu berusaha untuk mencampuri orang lain. Batas antara simpati dan ikut campur tipis banget hingga nggak bisa dibedakan. Menurut kita, orang harus menikah di umur segini dan ketika mereka belum nikah, ada yang salah dengan mereka dan mereka pasti nggak bahagia karena tidur sendirian di malam hari yang dingin, makanya tugas kita merecoki hidup mereka dengan pertanyaan dan pernyataan soal menikah sebab menikah adalah kebahagian haqiqi.

Kita mendefenisikan kebahagian dengan salah sekali. Bagi kita bahagia berarti menikah. Padahal saya yakin ada ribuan alasan menikah membuat kita tidak bahagia. Jadi ingat kata Soren Kiggegraad
“Menikahlah maka kau akan khawatir, tidak menikahlah maka kau pun akan khwatir. Menikah atau tidak menikah kau akan selalu khawatir.”
Vice versa. Menikah atau tidak kekhawatiran selalu ada.Jadi jelas banget yah! Menikah dan tidak menikah memiliki kebahagian dan ketidak bahagian masing-masing. Karena pernikahan dibuat manusia, kita manusia yang dibuat Tuhan saja tak sempurna, apalagi pernikahan yang dibuat kita manusia yang tak sempurna ini.

Kebahagian itu berasal dari diri kita sendiri. Mereka yang menggantungkan kebahagiannya pada orang lain kelak akan mengalami sakit hati yang mendalam ketika orang lain itu berubah. Pada dasarnya manusia akan selalu mengutamakan dirinya, kecuali Ibumu, tidak ada yang bisa menerima dirimu apa adanya. Jadi cara terbaik untuk bahagia bukan untuk menikah tetapi menemukan kebahagianmu sendiri. Berdamailah dengan masa lalumu, berdamailah dengan kekuranganmu, bacalah banyak buku, bergaulah dengan orang positif, perhatikan kesehatan mentalmu sama seperti kesehatan fisikmu. Saya yakin kalau orang fokus pada dirinya sendiri, dia akan mengurangi fokus pada diri orang lain.

Orang yang repot pada urusan orang lain adalah orang yang gagal berdamai dengan diri sendiri. Mereka enggan berkaca pada diri sendiri dan suka mencari kesalahan orang lain. Begitu pun dalam menikah. Dalam membangun rumah tangga ada banyak hal yang mesti kau lakukan seperti memastikan kesehatan fisik dan mentalmu baik-baik saja menghadapi sifat “nyata” suami dan anak-anakmu, membaca banyak buku perkembangan anak, mengatur keuangan, menemukan resep masakan, membersihkan rumah, dan sesekali menengok facebok.

Ada beberapa orang yang tidak memang tidak cocok sama konsep menikah, bukan karena nggak laku atau pilih-pilih. Mereka tidak cocok saja. Toh menikah  adalah pilihan, tidak ada benar atau salah jika kau memilih menikah atau tidak menikah selama keputusan itu berasal dari diru sendiri. Beda kalau kau menikah karrna paksaan lingkungan atau tidak menikah karrna ditentang orang lain. Itu baru salah.

Kalau kau habiskan waktumu mempertanyakan dan menyindir orang yang belum nikah, jangan heran jika anak-anakmu tak terurus atau memiliki sifat jelek sepertimu. Karena anak-anak meniru tingkah laku kita bukan mendengarkan ucapan. Jadilah manusia bahagia sebelum menikah, sehingga kau tahu bahwa wanita yang belum menikah bukan urusanmu, karena kau sibuk menikmati waktumu mengurus keluarga..

24 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *