Martini Terakhir

Saat ini larut malam di bulan November yang kelabu. Orang-orang mulai satu-satu meninggalkan bar kecil beberapa blok dari rumah sakit tempat kau dirawat. Aku masih betah duduk di sudut bar, ditemani segelas penuh martini. Seharian hujan terus turun menyisakan malam basah yang banal. Aku menggigil ketika berjalan dari rumah sakit ke sini. Sudah menjadi rahasia umum kalau musim hujan dan influensa adalah sahabat karib. Di luar gulita sama sekali tidak menyisakan tempat untuk bulan dan bintang, atau mungkin bulan dan bintang itu ada aku saja yang tak melihat karena mabuk. Ini gelas martini yang ketiga atau keempat, entahlah! Kubilang aku mungkin sedang mabuk, bukan? Orang mabuk mana bisa menghitung dengan benar.

Hanya ada beberapa orang yang memilih tinggal di bar itu. Diantaranya, lima orang laki-laki di ujung kiri dekat meja bartender. Mereka terdengar bernyanyi-nyanyi “selamat ulang tahun” sambil mengelilingi seorang laki-laki yang tertawa paling bahagia. Belasan kaleng bir berserakan di atas meja mereka. Tangan mereka masing-masing memegang bir. Mereka tampak bahagia. Mengapa mereka bahagia? Apakah karena salah satu di antara mereka bertambah umur? Bodoh! Semakin bertambah umur maka semakin dekat kita pada kematian. Apakah mereka mabuk kemudian menyanyikan lagu selamat bertambah tua kepada teman mereka dengan bahagia? Atau apakah mereka bahagia karena teman mereka bertambah tua kemudian mereka mabuk? Entahlah!k

Aku berpikir tentang kita, kapankah terakhir kali kita bahagia kemudian mabuk atau mabuk kemudian bahagia? Ah, yah saat kau memutuskan mau menjadi istriku setelah dua tahun kita bersama. Kuingat benar tanggal empat November. Kau berulang tahun ke 30. Waktu itu setelah aku berlutut di hadapanmu dengan sekotak cincin dan kau menjawab ya, kita segera merayakan dengan bergelas-gelas martini yang kau racik.

“Kau tahu sayang, untuk membuat martini enak, gin harus lebih banyak dari vermouth,” katamu waktu itu.

“Mengapa begitu?”

“Karena gin lebih dahulu diciptakan daripada vermounth. Yang tua kualitasnya selalu lebih baik dari yang muda. Kau akan rasakan sendiri nanti,” ujarmu, mengedipkan mata.

Aku hanya tersenyum memandangmu beraksi mencampurkan gin tonic dan vermouth bak seorang ahli kimia mencampurkan zat kimia. Waktu martinimu selesai dan aku mencicipinya, aku takjub!

“Rasa martini ini sungguh luar biasa. Kau sungguh hebat, Julia!” kataku. Sungguh! Baru pertama kali, aku merasakan martini seenak martini buatanmu. Barangkali memang perbandingan gin yang lebih banyak dibandingkan vermounth memberi rasa lebih enak.
Kau tersenyum memandangku.
“Jack, apakah kau tahu darimana aku belajar membuat martini?” katamu kemudian setelah kita meneguk bergelas-gelas martini.

Aku tidak menjawab, alcohol telah memberi efek paralisis pada otakku.

“Dari Oscar, mantan kekasihku. Dia seorang bartender yang hebat. Dia sering membuat martini luar biasa untukku. Ah aku sering cerita tentang Oscar padamu. Kau tahukan, Sayang kami bersama selama empat tahun. Aku mencintainya tetapi dia meninggalkanku. Dia mati karena over dosis. Keparat itu! Ah, iya apakah aku pernah cerita padamu, Sayang kalau Oscar juga seorang pengedar narkoba. Ada kalanya ketika teler akibat martini buatannya, dia menyuntikkan morfin ke pembuluh darahhku….”

“Pelayan, minta bonnya!” Seorang laki-laki dari gerombolan laki-laki yang merayakan ulang tahun tadi tiba-tiba berteriak, membuat kenanganku tentangmu buyar. Pandanganku beralih ke arah mereka. Mereka berhenti tertawa dan mulai berkemas-kemas. Seorang pelayan dengan wajah tanpa ekspresi datang mengantar secarik kertas. Yang berulang tahun terlihat merogoh saku, meraih dompet, dan membayar tagihan. Mengapa selalu yang berulang tahun yang membayar? Seolah-olah dia merayakan umurnya yang semakin tua, yang semakin dekat kematian. Kematian. Betapa mengerikan kata itu. Kita pernah berbicara tentang kematian dulu sekali. Aku tak ingat saat itu kita mabuk atau tidak. Namun aku masih bisa mengingat perkataanmu.

“Aku heran mengapa manusia mati? Maksudku apa sih gunanya hidup kalau untuk mati? Apa kau yakin saat kita mati jiwa kita akan ke surga. Apakah kau percaya surga ada? Neraka ada? Entahlah, Jack. Kau tahu kurasa Oscar tak benar-benar pergi. Dia, meski dia telah mati dan aku menyaksikan sendiri mereka memasukan badannya ke dalam tanah, dia masih hidup di dunia lain.”

Oscar, kematian, martini, Oscar. Seketika aku sadar topik pembicaraan kita selalu hal-hal tentang itu. Segera kuteguk martiniku lagi. Memikirkan oscar dan kematian membuat bulu kudukku berdiri. Segera kupalingkan muka dari meja orang-orang yang berbahagia itu dan meneguk habis martiniku. Rasa khas koktail bercampur asam lemon menimbulkan sensasi manis di lidah, membuat rasa panas di tenggorokan. Namun, martini ini tetap tak seenak martini buatanmu. Mungkin bartender di bar ini lebih banyak memasuki vermouth. Mungkin dia menambahkan sedikit air sehingga rasanya kurang enak. Mungkin juga karena aku tak pernah bisa merasakan rasa enak martini lain di martini buatan orang lain. Ah, rasanya sudah lama sekali aku tak minum martini racikanmu.

Kepergian orang-orang berbahagia tadi membuat suasana bar ini semakin muram. Para bartender mulai tampak mengantuk. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat mereka terus menatapku dan seorang Pak Tua yang duduk tak jauh dari tempatku. Mereka pasti berharap sekali kami cepat pergi dari sini, agar mereka bisa segera menutup bar ini dan pulang tidur. Aku pura-pura tidak membaca gelagat para bartender. Aku hanya ingin di sini. Minum martini, martini yang takkan pernah menyaingi martini racikanmu. Sebuah isakan kecil terdengar dari bangku Pak Tua yang masih bertahan bersamaku di Bar ini.
Aku menoleh. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya tetapi aku yakin matanya merah dan basah oleh air mata. Tangannya memegang selembar foto, mungkin foto almarhum istrinya, atau almarhum putrinya, atau almarhum kekasihnya. Dia sedang memegang segelas minuman alkohol yang tak bisa kupastikan jenisnya, mungkin brandy atau gin, atau vodka atau mungkin martini. Entahlah, aku justru tertarik pada bahunya yang bergetar, pada isakan yang semakin keras, pada kesedihan pak tua itu. Dia sedang bersedih. Apakahkah dia bersedih lalu kemudian mabuk ataukah mabuk dulu sebelum bersedih entahlah? Lalu aku kembali mengenang tentang kita, kapankah kita mabuk kemudian sedih atau sedih kemudian mabuk? Terlalu banyak hal, setidaknya akhir-akhir ini. Saat tiba-tiba kau diserang penyakit aneh dan membuatmu dirawat di rumah sakit.

“Martini terakhir,” kataku waktu itu.
Kau tersenyum, minum seteguk, dan meringgis.

“Kau pasti mencampurkan lebih banyak vermount dari pada gin…,” katamu.
Aku merasa bersalah.

“Aku tak pandai membuat martinni sepertimu. Kau tahu itu.”

Kau tertawa lalu kemudian wajahmu berubah mendung.

“Aku mungkin takkan bisa lagi membuatkanmu segelas martini. Aku mungkin tak bisa bangun lagi dalam waktu yang lama.”
Aku memegang tanganmu, menahan air mataku yang mulai membendung.
“Kau pasti akan sembuh, Julia. Kita akan pulang kembali.”

“Aku…. Semalam aku bermimpi tentang Oscar. Dia menarik tanganku bersamanya. Kau tahu, kalau bermimpi tentang orang mati maka kita akan segera menyusulnya juga….”

“Pelayan, minta bonnya!” Suara teriakan terdengar dari pak Tua yang menangis tadi. Kenangan tentangmu kembali lenyap.
Aku menoleh. Si Pak Tua berdiri dari duduknya. Dia tampak ringkih. Pelayan tanpa ekspresi yang mengantarkan bon gerombolan laki-laki tadi kini menghampiri meja Pak Tua itu. Pak Tua membayar kemudian membereskan celananya, sebelum akhirnya melangkah ke luar.

Bar ini sudah benar-benar sepi sekarang. Hanya aku dan bartender-bartender yang benar-benar menunjukkan wajah mengusir. Terutama pelayan yang bolak-balik tanpa ekspresi tadi. Aku menghela napas tak peduli. Kalau bisa aku akan di bar ini sampai pagi, sampai besok, sampai lusa, sampai selama-lamanya.
Aku memandang gelas martiniku yang tinggal seperempat. Meneguknya perlahan sampai habis. Kepalaku berputar-putar bar terlihat kabur. Kurasa aku telah benar-benar mabuk sekarang. Lalu mengapa aku mabuk hari ini? Yang pasti bukan karena bahagia seperti gerombolan laki-laki tadi. Kukira aku sedih seperti laki-laki paruh baya yang menangis memandang lembaran foto tadi. Ah bukan sedih, aku ketakutan. Aku mabuk karena berharap alkohol dapat mencairkan ketakutanku.

“Istri Anda terinfeksi HIV! Bapak sebaiknya memeriksakan darah Bapak juga,” terngiang lagi kata-kata dokter tadi pagi.

Kata-kata yang mengerikan. Cepat-cepat kuteguk martiniku dan menyadari gelas itu telah kosong. Seperti hidupku yang kosong. Ketakutan tiba-tiba menguasai hatiku. Ketakutan akan mati seperti Oscar. Siapa yang tak takut mati? Tuhan memang tidak adil. Memberikan waktu bagi manusia untuk hidup di dunia dan kemudian mengambil mereka kembali. Mengambil mereka dengan cara paling mengerikan.

“Aku ingin mati dengan terhormat, Julia. Bukan dengan menyedihkan seperti ini. Menderita penyakit yang ditularkan mantan pacar sialanmu itu.” Terngiang lagi perkataanku tadi saat bertengkar denganmu, kemudian menyendiri di bar ini.

“Maafkan aku, Jack. Maafkan Oscar. Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang,” ujarmu menangis.

Aku meninggalkanmu dengan perasaan marah. Dan kini ketika marah itu hilang, yang ada ketakutan dan kesepian. Air mata mulai memenuhi mataku. Aku mulai menangis. Kuletakkan tanganku di dada, merasakan jantungku yang berdetak lebih kencang. Merasakan sebotol sianida di saku kiriku. Aku tersadar dan segera melap air mataku. Aku menarik napas panjang. Tak ada gunanya di sini. Sudah saatnya aku pergi.

“Pelayan!” Aku berteriak memanggil pelayan.
Pelayan yang bermuka tanpa ekspresi tadi datang ke mejaku.

“Apakah Bapak ingin meminta bon atau menambah martini Bapak?” tanyanya dengan suara mengusir.

Aku memandang pelayan itu lalu gelas martiniku yang kosong.

“Bawakan aku bonnya,” kataku, kuputuskan martini tadi martini terakhir. Sudah saatnya pergi.

Di luar Bar, bulan tampak putih di langit hitam. Kukeluarkan botol sianida dari saku kemejaku.

“HIV memang berbahaya, Pak. Namun sekarang ada terapi ARV. Membuat penderita bertahan hidup lebih lama.” Suara dokter terngiang lagi.

Aku mendesah. Kubuang sianida itu di jembatam tak jauh dari bar. Sebaiknya aku segera ke rumah sakit menemanimu.

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *