Hal yang Perlu kita pelajari dari kasus “Supaya Laos”

Using-a-Smartphone-640x323

 

Beberapa waktu lalu beredar Video di FB tentang pemukulan seorang laki-laki yang  mengirim inboks mesra kepada istri si pemukul.  Seketika ucapan si pemukul “Asal Laos” yang bisa diartikan “Biar saya puas” menjadi viral. Berbagai tanggapan muncul dari warganet Manggarai. Kejadian itu bermula dari si pria mengirim inboks ajakan selingkuh kepada istri, sang suami marah dan memukul si pengirim inboks sambil melakukan siaran langsung di FB. Ada banyak yang menyayangkan aksi si pemukul. Main hakim sendiri seolah-olah tidak ada polisi atau tetua adat di Manggarai ini. Ada juga yang mendukung si pemukul dan berkata Ada banyak pebinor (Perebut bini orang) di Manggarai dan hal tersebut memberi efek jera bagi yang lain. Ada juga yang menyalahkan istri si pemukul. Salah dia juga main lapor saja hal begituan, seharusnya inboks begitu diabaikan saja. Yang paling lucu komentar balamenceu “Bukan hanya laki-laki yang suka inboks begini, perempuan juga. Banyak pelakor di Manggarai”

Saya ada di kubu ketiga. Seharusnya inboks begitu diabaikan saja. Toh isinya tidak berisi pelecehan seksual berat seperti makian atau  ajak tidur, ini yang harus diproses ke polisi.  Kalau isi hanya ajak ajak kenalan pengirim inboks sebaiknya diblokir saja. Sebagai perempuan cantik dan seksi di dunia maya, saya sendiri kerap mendapatkan pesan aneh. Ada beberapa yang minta no WA dan ada beberapa yg mengirim pesan tidak senonoh. Saya selalu memblokir mereka seketika. Namun demikian mengirim pesan melecehkan adalah juga pelecehan. Si pengirim inboks yang dipukul itu sebenanrya pantas juga diberi pelajaran. Sayangnya si pemukul dengam sengaja menaruh di media sosial dan menjadi segalanya rumit.

Media sosial dan kerumitanya

Media sosial berbahaya. Ada banyak sekali artikel yang mengatakan demikian terutama untuk kesehatan jiwa kita. Beberapa di antara.

  1. Seseorang yang selalu membuka media sosial setiap hari rentan depresi. Hal tersebut karena orang-orang cenderung memposting prestasi membanggakan di media sosial mereka dan membuat orang-orang yg melihat merasa sedih karena hidup mereka tidak seindah foto liburan ke luar negeri teman A, kemesraan B dan C istrinya, Foto D dengan mobil mewahnya, dll. Membandingkan diri dengan orang lain akan menciptakan racun mematikan bagi jiwa kita hingga akhirnya dapat menyebabkan depresi
  2. Media sosial membentuk karakter narsis dalam diri seseorang. Media sosial membuat kita harus menunjukkan hal terbaik dalam hidup kita ke orang lain. Tak jarang banyak orang yang merencanakan liburan hanya agar feed instagramnya indah atau posting hal bagus di FB. Hal tersebut membuat kita narsis berlebihan dan melakukan apa saja agar keberadaan kita tidak diketahui. Kita suka mencari simpati dengan menulis status masalah keluarga hanya agar dikomentari atau sekedar dilike. Kamu mungkin mengalami ini ketika merasa sedih komen dan like di FB atau IG tidak banyak.
  3. Media sosial membuat kita mengejek dan memperlakukan buruk  orang lain. Banyak sekali orang yang tidak mengetahui UU IT dan berkomentar seenak jidat di media sosial. Si pemukul menuai banyak ejekan dari orang-oramg dan bahkan ada yang menghina pribadinya. Begitu melihat sesuatu yang buruk viral seketika kita merasa kita jauh lebih baik dan mulai mencaci maki. Padahal saya tidak yakin jika kasus yang sama terjadi, kau tidak akan memukul si pebinor tadi. Namun media sosial memberi kuasa pada kita untuk mengejek orang lain yang melakukan hal yang menurut kita buruk. Ah jangankan buruk orang berprestasi dan calon presiden pun dihina dina. Beberapa penelitian mengungkapkan hal tersebut karena media sosial memberi kita keberanian baru untuk menulis apa apa pun. Di dunia nyata kita tentu saja tidak mungkin mencaci maki orang dengam gamblang karena takut membuat orang tersebut tersinggung dan memukul kita. Sementara itu di media sosial ada kemungkinan kecil untuk itu.

Kasus ini tidak lain terjadi karena media sosial berhasil mengambil alih kita. Secara tidak langsung hidup kita dikendalikan media sosial sehingga apa pun yg kita buat termasuk memukul orang harus diposting di media sosial. Haus akan perhatian dan menjadi tenar karena viral membuat beberapa orang bahagia, meski  tenar karena jelek asalkan tenar. Sayangnya kita cenderung membuat orang bodoh menjadi tenar dengan cara membicarakan kebodohannya. Mungkin saatnya kita membuat orang berprestasi tenar; seperti sesebabang tentara ganteng yang dapat Emas dari Karate. Untuk itu perlu juga kenali tanda-tanda dampak buruk sosial media bagi Anda.

Social Media Anxiety Disorder

Media sosial dapat membuat seseorang mengalami social media anxiety disorder sebuah gangguan jiwa yang membuat seseorang merasa dirinya dihakimi orang banyak dan takut akan komentar buruk orang di sosial media. Hal itu membuat orang tersebut berpikiran negatif dan selalu cemas, sehingga menjadi depresi. Depresi berbahaya karena menjadi penyebab bunuh diri.

Berikut beberapa tanda kamu mungkin  mengalami  Social media anxiety disorder:

  • Merasa stress dan galau setelah membuka media sosial akibat menyaksikan keberhasilan teman.
  • Merasa sedih karena statusmu tidak di-like dan dikomentari dan dengan sengaja menghapus postingan yang tidak memiliki banyak like dan komentar.
  • Jika memberi komentar di status atau mengirim inboks ke orang lain dan orang tersebut lama membalas kau mulai khawatir dan merasa dia mungkim tidak menyukaimu
  • Sebelum tidur dan bangun pagi kau selalu mengecek facebook atau instagram dan menghabiskan lebih dari 8 jam di media sosial
  • Kehilangan follower di twitter dan instagram membuatmu sedih dan galau
  • Senang menceritakan apapun kejadian yang terjadi di hidup yang membuat banyak like dan komenta
  • Lebih senang mengecek sosial media dimana saja terutama ketika berada di sebuah acara besar atau bahkan di gereja.

Jika memiliki tanda-tanda di atas. Waspadalah. Untuk itu Perlu juga bagi kita untuk rehat sejenak dari media sosial

  • Mulailah dengan tidak mengecek sosial media satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun pagi.
  • Tentukan satu hari rehat dari sosial media. Saya sendiri menentukan hari rabu adalah hari tidak mengecek sosial  media. Saya juga menghapus akun instagram saya karena merasa itu adalah salah satu sosial media penyumbang depresi terbesar.
  • Mengecek sosial media seperlunya saja dan fokus pada dunia nyata
  • Berusahalah tidak memposting segala sesuatu di social media
  • Banyak membaca buku
  • Apa yang ditampilkan di media sosial adalah yang terbaik dari penggunanya. Membandingkan mereka dan dirimu sendiri tidak berguna
  • Banyak bersyukur

Lalu ke kasus supaya laos, siapa yang salah?
Jawabannya semuanya salah.
Salah si pria mengganggu istri orang
Salah si istri meladeni pria tidak penting
Salah si suami yang main hakim sendiri
Salah kita mengejek mereka semua dengan alasan supaya laos.
Ada hal penting yang perlu kita pelajari didik anak kita untuk menghormati orang lain. Didik anak laki-laki kita untuk menghormati perempuan dan memperlakukan mereka dengan santun ajarkan mereka juga tentang jenis pelecehan seksual. Didik anak perempuan kita untuk sopan dan membela diri sendiri serta melapor jika ada perilaku dan perkataan buruk terhadap mereka. Dan yang terpenting latih mereka untuk menahan amarah. Begitu anak emosi kita bantu mereka menenangkan emosi itu dengan menarik napas panjang dan berbicara menyampaikan pendapatnya tanpa berteriak dan kita pun tidak dengan emosi menyampaikan pendapat terhadap mereka. Menjadi orangtua memang sulit makanya menikahlah di usia ketika kau telah bijaksana

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *