Fiksi

(Flash Fiction) Kereta

images (10)

Kami duduk berdampingan. Jas hitam kami tampak kontras dengan gerbong yang putih. Hanya ada kami berdua.

“Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini. Aku minta maaf.” Dia membuka suara, cukup besar sehingga terdengar jelas di sela-sela bunyi kereta yang memekakkan telinga.

Tidak ada dendam dan benci yang tersisa di dadaku.
“Aku yang seharusnya minta maaf sudah membuatmu berada di sini.” Kata-kataku tulusa dan membuatku sedikit heran.

“Aku kaget melihatmu di sini. Hampir lebih kaget dari saat kau memergokiku dengan Dewi.”

Tak ada rasa sakit sama sekali mendengar kata-katanya. “Aku juga pikir aku akan sangat membencimu, tetapi ada sedikit lega ketika melihatmu di stasiun. Seolah-olah kebencian itu tersedot.”

“Aku berpikir mungkin akan merasa sangat menyesal melihatmu lagi, tetapi perasaan itu juga hilang.”

“Perasaan-perasaan adalah sementara sama seperti  kehidupan,” gumanku

“Dan juga cinta,” tambahnya.
Mau tak mau kami tersenyum.

“Kukira Dewi akan selalu mencintaiku.  Kami begitu saling mencintai di awal pernikahan. Mungkin juga karena aku yang cuek. Entahlah.”

“Dewi bilang kau tak pernah lagi memujinya. Tak pernah lagi menyadari perubahan dalam dirinya. Tak lagi merasa dia penting.”

Aku menghela napas. “Pernikahan memang sulit. Di satu sisi kau berharap pasanganmu mengerti dirimu tetapi di sisi lain kau merasa tak perlu mereka meminta untuk mengerti karnena berharap mereka mengerti “

“Yah, yah kadang kita menyangka tinggal bersama seseorang dalam waktu lama membuat mereka akan mengerti diri kita,” timpalnya.

Kami terdiam memikirkan masa lalu. Memikirkan Dewi istriku dan juga kekasih gelapnya.
Suara kereta terdengar semakin memekakkan telinga.

“Si Dewi bagaimana dia setelah kau menembakku…, hei tunggu kenapa  kau bisa ada di sini juga?”

Bunyi memekakkan telinga berhenti. Kereta telah sampai di stasiun tujuan.

“Dewi menembakku juga.”

Dia menandangku lalu menarik napas panjang.

“Semoga Dewi hidup dengan bahagia,” ujarnya setelah terdiam lam

“Ya, kuharap dia hidup bahagia.”

Kami saling memandang dan tersenyum. Semua beban di masa lalu telah lepas. Kami berdiri menuju pintu kereta.

“Sampai jumpa!” Ujarnya.

Aku mengangguk. Pintu kereta terbuka dan kami terkejut.

Dewi berdiri di bawah tulisan Neraka.

2 thoughts on “(Flash Fiction) Kereta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *