Artikel, Curhat

Filosofi Brownies

Hari ini saat sedang lapar dan kehabisan ide di kantor, saya tiba-tiba pengen makan Browenis. Setelah search artikelnya di internet ternyata membuat brownies itu gampang seperti cara membuat brownies dengan blue band yang bisa kamu coba sendiri di rumah ini. Pencarian internent saya tentang brownies kemudian membuat saya berpikir tentang brownies lebih dalam lagi.  Tiba-tiba saya  tertarik untuk mengurai dan menulis tentang filosofi brownis.

brownies

Brownies merupakan salah satu kue yang paling sering dihidangkan saat acara. Namun tahukan kamu kalau sebelumnya brownies adalah kue yang gagal? Apakah kalian tahu bagaimana pada mulanya brownies diciptakan? Alkisah ada seorang penjual. Dia ingin membuat kue cokelat dan lupa memasukkan baking powder ke dalam adonan kue cokelat. Saat dipanggang, hasilnya  kue coklat tidak mengembang. Tekstur kue coklat yang seharusnya tebal, lembut, dan berpori-pori, menjadi agak padat dan basah. Si Koki itu kecewa dengan kue yang akan dijualnya. Namun asistennya memajang hasil kue buatannya itu di toko dan ternyata banyak orang menyukainya.  Nama “brownies” diambil dari “the deep brown color of cookie”. Brownies punya ciri khas warna cokelat tua kehitaman.

Lalu apa sih Filosofi brownies?  Setidaknya ada dua filosofi brownies yang bisa kita renungkan

Yang pertama, Jangan pernah menilai orang dari bentuk luarnya. Kaya brownies nih. Pas lihat pertama kali dengan warna cokelat gelap itu, pasti mikirnya. Bentuknya udah kaya kue gosong gitu. Pasti nggak enak. Padahal setelah dicoba. Enak sekali. Yaps dalam menjalani kehidupan ada baiknya kita jangan berburuk sangka bahkan jika seseorang melakukan kesalahan, hendaknya kita tak lantas menghakimi dia. Yang berhak menghakimi dia cuma Tuhan dan para penegak hukum. Kita juga tidak boleh merendahkan orang lain hanya karena tampangnya aja.

Coba lihat Steve job atau Mark bos Facebook, ada mereka pake baju yang berhiaskan berlian? Nggak kan? Yaps penampilan kadang bisa menipu, jadi sekali lagi jangan pernah menilai seseorang dari tampilan luarnya.

Filosofi yang kedua, brownies mengajarkan bahwa, nggak selamanya yang berwarna gelap itu  tak enak. Aku sih mikirnya brownies ini punya warna gelap. Gelap cenderung berarti jelek dan tidak berguna terutama kalau kita sudah ngomongin manusia dan warna kulit. Brownies memiliki warna cokelat tua, tapi bukan berarti rasanya nggak enak.  Yaps begitu juga dengan kita manusia. Warna kulit yang lebih gelap tak berarti kualitas kita juga ikut gelap. Saya pikir brownies mengajarkan kita tentang pentingnya bertoleransi dan tidak SARA. Aku jadi memikirkan Trump dan kebijakannya yang mengerikan. Melarang WNA muslim masuk ke Amerika Serikat karena Musim selalu identic dengan teroris menurut dia. Duh aku kok miris sama pikiran Presiden USA ini. Masa karena hal yang menurut aku nggak masuk akal, dia membuat peraturan begitu. Jaman yang seharunya tidak SARA malah jadi SARA begitu. Pada akhirnya di mata Tuhan kita adalah sama, butiran debu. Jadi jika terjebak dalam SARA, ingatlah brownies. Kue gelap dengan rasa lezat.

Hem membicarakan brownies bikin lapar. Jadi pengen bikin juga heheh. Kalau kamu, suka brownies nggak

 

1 thought on “Filosofi Brownies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *