Select Page

IMG_20171220_153547

Aku berjalan terburu-buru di trotoar Manhattan street dengan menggenggam tiket pesawat ke Minnesota. Trotoar itu dipenuhi orang-orang beraneka warna yg memilih jalan kaki, menikmati udara musim panas. Pria bersetelan jas hitam, kumpulan remaja berkaus aneka warna dan jeans selutut, wanita berrambut merah yang dipotong bob dengan gaun bunga-bunga ungu dan putih, dan ratusan warna lainnya. Di hari biasa mungkin aku akan memperhatikan orang-orang itu dengan seksama, merekam penampilan mereka, dan mulai membuat sketsa hayalan di kepalaku. Namun, hari ini bukan hari biasa.

Semua bermula dari telepon Ibu tadi pagi.

“Fred, Ayahmu sudah tak ada harapan lagi. Kemarilah, Nak!” Ibuku menangis.

Sesuatu meyakiniku untuk percaya bahwa jika aku tidak segera terbang ke Minnesota, aku takkan pernah bertemu lagi dengan ayah. Terakhir kali aku bertemu dengan Ayah adalah 5 tahun lalu. Pertemuan kami pahit dan tak layak dikenang. Aku pulang saat liburan, memberitahukan mereka aku pindah dari jurusan hukum ke jurusan seni sejak semester lalu. Ayahku sangat marah, dia selalu ingin anak laki-laki satu-satunya menjadi pengacara sama seperti dirinya sendiri, ayahnya, kakeknya, dan nenek moyangnya yg selalu jadi pengacara.

“Kau bukan anakku lagi! Aku takkan pernah lagi membayar kuliahmu!” kata terakhirnya sebelum menendangku dari rumah.

Aku menyelesaikan sekolah seni dengan susah-paya membanting tulang mengerjakan apa saja, termasuk pelayan bar, loper koran, dan juga pegawaiperpustakaan. Setelah selesai kuliah seni, aku membuka studio lukis bersama lima orang kawanku di manhantan. Usaha yang lumayan dan aku memang berbakat. Dalam rentang lima tahun itu, Ibuku sering menelponku sementara itu hubunganku dengan ayahku selalu dingin. Dua tahun lalu ayah terkena serangan jantung dan selamat. Aku hendak mengunjunginya, tetapi urung karena ketika menelpon Ibu aku bisa mendengar suaranya yg berat dan tajam.

“Aku tidak ingin melihat anak durhaka itu!”

Namun, serangan kali ini berbeda. Tadi malam Ayah dipindahkan ke cardiac ICU dan sudah tak sadarkan diri.

“Ayahmu takkan lama lagi, Fred. Datanglah untuk terakhir kalinya.”

Kata-kata Ibu itu membuat hatiku sedikit luluh. Apa salahnya? Bagaimana pun dia tetap ayahku. Matahari mulai tinggi, membakar apa saja termasuk kulit kepalaku. Aku melirik jam tangan. Pukul 11 siang, Naik taksi ke bandara adalah pilihan cerdas. Aku berjalan lurus dan berhenti di samping sebuah boks telepon umum. Mataku awas memperhatikan taksi yg lewat di jalanan.. Kring kring kring! Suara dering telepon terdengar nyaring, aku menoleh ke arah boks telepon di sampingku. Boks itu kosong dan berbunyi nyaring. Sesaat aku terperangah. Orang-orang yang melintasi sidewalk tampak tak peduli. Sebuah keinginan aneh mendorongku untuk mengangkat telepon. Aku menarik napas panjang dan berjalan ke arah boks telepon. Suara dering telepon makin nyaring. Pelan tapi pasti aku masuk ke dalam boks itu dan mengangkat gagang telepon.

“Fred! Hey, kaukah itu?”

Aku terperangah. Itu suara ayah.

“Dad?”

“Oh syukurlah kau mengangkatnya. Dengar, waktuku sudah tak lama lagi di dunia, aku ingin minta maaf padamu. Kau adalah pelukis yang hebat. Aku bangga padamu!”

Air mata tahu- tahu jatuh di pipiku. “Dad, apakah benar itu kau?” Laki-laki di seberang sana itu tertawa.

“Maukah kau melukisku dan menaruhnya di dalam peti saat aku dikubur nanti.”

Aku tercekat. “Dad!”

“Aku bangga padamu, Son! Ingatlah selalu itu!” Telepon terputus.

Aku terpaku dan masih menempelkan gagang telepon di telinga. Tak percaya apa yg baru saja kudengar. Bunyi telepon genggamku mengagetkanku dan membuatku meletakkan gagang telepon. Telepon dari Ibuku.

“Mom?” Aku mendengar suara isakan.

“Dia telah pergi, Fred. Sebelum meninggal ayahmu memanggil namamu.”

-Tamat-

Depok, 25 April 2015, sehabis menonton How I Met Your Mother Episode Ayah Marshal meninggal