cerpen, Fiksi

(Cerpen) Kisah Joko

Catatan : Ini merupakan cerpen terakhir yang saya tulis. Saya tulis tahun 2016 awal dan akan diikutsertakan dalam kumcer gigiperigi yang gagal hihihi.. Ya sudahlah saya posting sini aja

Joko

 

Tepat pukul lima belas, Joko telah selesai mempersiapkan semua perlengkapan  sulapnya. Dia menggantung jas hitamnya hati-hati di dalam lemari.  Itu satu-satunya lemari di dalam karavan  milikknya. Lemari itu tertempel di sudut kiri karavan, tepat di samping tempat tidurnya. Sama seperti anggota karnaval Gigirperigi lainnya, dia menginap  di karavan yang terparkir tak jauh dari karnaval. Joko mengelus-ngelus lengan jasnya sebentar, sebelum menutup kembali lemarinya. Jas  itu sudah berumur sepuluh tahun, tapi masih terlihat baru karena selalu dirawat dengan telaten. Seperti dia merawat tempat sirkus miliknya. Joko selalu  merasa dadanya berbunga-bunga ketika memikirkan sirkusnya. Sepuluh tahun berlalu,  sejak dia bergabung bersama Gigir Perigi. Dan kini sirkusnya telah menjadi besar dan salah satu wahana yang ditunggu-tunggu. Dia tiba-tiba merasa lelah. Untungnya, dia masih punya sejam untuk beristirahat sebelum karnaval Gigir Perigi dibuka pukul empat nanti. Panggung sirkus dibuka pukul enam, jadi dia masih punya waktu dua jam untuk bersiap-siap setelah Gigirperigi dibuka.   Segera Joko mengalihkan padangan ke arah jendela caravan. Beberapa atap tenda terlihat di lapangan besar Kertamaya yang memang khusus disewa untuk karnaval mereka. Perasaan berbunga-bunganya tiba-tiba lenyap diganti perasaan gundah. Kertamaya selalu menyisipkan duka di hatinya. Duka yang kemudian membuat gumpalan nelangsa aneh di dalam hatinya.

“Ah kenapa kau nelangsa, Ko? Bukannkah kau punya segalanya? Sirkus yang besar, uang yang banyak, perempuan mana saja yang kau inginkan?” Dia berkata lantang. Berharap dengan berkata lantang nelangsa di dalam hatinya hilang. Namun, alih-alih hilang nelangsa itu semakin membesar dan membuatnya mau tak mau memikirkan kenyataan sebenarnya. Dia tak punya apa-apa selain sirkus yang besar. Usianya empat puluh empat tahun dan sendirian. Betapa mengerikan sendirian itu. Dia tak benar-benar sendirian andai saja dia membiarkan spermanya masuk ke salah satu rahim perempuan di Gigirperigi. Joko jijik dengan pemikirannya sendiri. Sampai kapan pun dia tak ingin menjadi seorang Ayah. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela, tampak Ayu Sanca si penari ular duduk di dekat caravannya, yang cukup jauh dari caravan Joko,  sambil memegang ularnya yang besar itu. Ayu Sanca perempuan yang tak pernah berhasil dia tiduri. Satu-satunya perawan di Gigir Perigi. Perempuan itu punya perasaan pada Joko. Joko tahu itu. Aku harus mendapatnya, pikir Joko. Seketika moodnya kembali.

“Bos! Bos!” suara ketukan terdengar dari pintu caravan.

Joko mengenal itu suara Junet salah satu anak buahnya.  Benar saja, wajah anak buahnya yang berkeringat muncul di balik pintu.

“Ada apa?”

Anak buahnya itu terlihat mengatur nafas. “Bos ke tenda sirkus sekarang. Ada masalah!”

Joko mengerutkan dahi, pikirannya langsung tertuju pada Bona gajahnya. Akhir-akhir ini gajah kesayangannya itu memang sering murung.

“Ada masalah dengan Bona?” tanyanya was-was.

“Bukan, Bos. Ada seorang anak yang mencuri dari sirkus. Sebaiknya Bos segara ke sana.” Wajah Junet tampak serius.

Dahi Joko makin mengernyit. Pencuri? Rasa panas menjalar di dadanya. Dia paling benci pencuri. Pemalas kurang ajar yang mencamplok rejeki orang.

“Ayo segera ke sana!” Joko meraih pisau lipatnya di meja sebelum mengunci karavannya. Dia melangkah dengan cepat menuju sirkusnya. Beberapa anak buahnya sedang memegang seorang bocah laki kurus ketika dia sampai di sana. Joko memicing memandang anak-anak laki itu. Dia cukup tinggi dan sangat kurus, seperti kurang gizi. Joko menafsir usianya sepuluh atau sebelas tahun.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sirkusku? Apa yang kau curi?

“Aku nggak mencuri! Orang-orang sialan ini menangkapku!” teriak bocah itu.

Selain suka mencuri, dia juga tak punya sopan santun.

“Siapa yang kau bilang sialan, anak setan?” salah satu anak buahnya menampar pipi si bocah.

“Lepaskan aku! Aku ingin pergi dari sini. Aku tak mencuri di sini.”

“Dia bohong, Bos! Coba liat dia membawa benda ini ke sini.” Salah seorang anak buahnya memberikan sebuah cermin dengan pinggiran emas.

Joko mengenali itu sebagai cermin Madam Milam.

“Mengapa cermin Madam Milam ada padamu?” Suara Joko meninggi.

Wajah bocah itu merah padam.

“Lepaskan aku!” dia memberontak.

Joko meraih kerak baju si bocah.

“Jangan main-main denganku, bocah tengik! Katakan darimana kau dapatkan cermin ini?”

“Aku… Aku tak tahuu. Aku ingin pergi!”  suara si bocah bergetar.

Joko mulai merasakan dadanya panas oleh amarah.

“Kurung anak ini di kandang kosong di sebelah Bona!” perintahnya.

Wajah si bocah langsung pucat pasi.

“Jangan kurung aku! Tolonglah kumohon!”

Anak buah Joko dengan cekatan membawa si bocah.

“Aku akan memberitahu beberapa rahasia untukmu, Tuan! Jangan kurung aku!”

Joko memandang si bocah tajam.

“Maksudmu?”

“Aku tahu Tuan menyimpan banyak pertanyaan semenjak kematian Pak Bejo.”

Rahang Joko mengatup.

“Kurung dia!”

“Aku juga tahu ketakutan yang Tuan rasakan. Kesendirian….” Ambi tidak sempat melanjutkan omongannya karena Joko meraih kerah bajunya.

“Apa yang kau katakan?”

“Lepaskan aku, Tuan. Aku akan menceritakan banyak hal padamu.”

Joko menarik napas, lalu melepaskan kerak baju bocah itu.

“Tinggalkan kami berdua!” perintah Joko kepada anak buahnya.

Anak buahnya saling memandang dengan heran.

“Tapi anak ini?”

“Tinggalkan kami berdua!” Suara Joko meninggi.

Anak buahnya segera meninggalkan mereka.

“Dari mana kau tentang Pak Bejo? Siapa kau? Apa yang kau tahu tentang ketakutanku?” tanya Joko, ketika anak buahnya telah pergi meninggalkan mereka.

Bocah itu menghela napas panjang.

“Namaku Imbi.”

“Imbi? Nama yang aneh untuk seorang bocah laki-laki.”

“Hei kau tak punya hak mengolok-ngolok namaku.”

“Kau ini memang tidak sopan, yah! Mau kupukul lagi?”

“Tidak jangan! Maaf!”

“Darimana kau tau tentang Pak Bejo?”

Imbi menghela napas panjang lagi.

“Aku mendapat penglihatan. Yang jelas aku tahu sesuatu tentang dirimu, Tuan. Termasuk kebaikan Pak Bejo padamu. Dia orang yang sangat penting bagimu, bukan?”

Joko merasa gelombang haru di dadanya.

“Yah, dia sangat penting bagiku. Dia seperti Ayahku sendiri.”

“Pak Bejo sangat percaya padamu. Tuan pasti sangat kehilangan dia bukan?”

“Yah tentu saja. Dia laki-laki yang baik. Sirkus ini takkan bisa jadi begini kalau bukan karena dia. Aku hampir bangkrut dan bunuh diri ketika berjumpa dengannya.” Joko menarik napas panjang. “Hei, kenapa aku harus menceritakan segalanya padamu?”

“Sudah kubilang aku akan memberikan jawaban tentang Pak Bejo padamu, Tuan. Tuan paling menentang ketika rombongan sirkus datang kembali ke Kertamaya bukan?”

“Yah tentu saja. Aku tak suka tempat ini. Di sinilah Pak Bejo mati.”

“Lalu mengapa kalian kembali kemari?”

Joko terdiam mendengarkan perkataan itu.

“Takdir, Tuan. Takdir! Kau tahu banyak hal yang akan terjadi di Kertamaya. Akan ada kematian, Akan ada yang ingin bunuh diri, Akan ada yang jatuh cinta, Akan ada yang patah hati. Ini tempat yang menarik.”

Joko memandang anak kecil di depannya. Tubuhnya benar-benar kurus. Berapa tadi usianya? 12 tahun? Joko ingat usia begitu dia berkeliling dengan Ayahnya si tukang sulap jalanan. Seumur hidupnya dia habiskan di jalan, dia banyak belajar. Dan perkataan Imbi membuatnya seperti anak SD yang baru belajar membaca.

“Dan kau Tuan, kau sedang ketakutan.”

“Kau benar. Aku sangat ketakutan. Aku 44 tahun dan tak punya apa-apa selain sirkus ini.” Joko terduduk lemas di kursi.

Imbi menatapnya

“Kau tahu, Tuan waktu adalah hal paling adil. Dia bergerak sama saja bagi yang kaya, miskin, yang menikmati hidup, dan yang tidak menghargai hidup.”

“Lalu aku ini termasuk yang mana?”

“Tuan termasuk yang tidak menghargai hidup. Tuan habiskan waktu dengan bersenang-senang dengan perempuan-perempuan. Tidakkah menurut tuan itu tidak menghargai hidup?”

“Hei, anak sialan! Tahu apa kau soal menghargai hidup? Aku justru melakukan itu semua untuk menikmati hidup.”

“Benarkah? Lalu mengapa Tuan selalu merasa kesepian akhir-akhir ini?”

Joko terdiam. Laki-laki itu menghela napas.

“Apakah Tuan pernah punya mimpi? Sesuatu yang tuan pernah inginkan terwujud?”

Joko menatap anak laki-laki didepannya.

“Dulu sekali aku ingin memiliki sebuah sirkus yang sangat besar. Ayahku seornag pesulap keliling dan dia mengajarkanku banyak trik. Aku ingin sekali suatu saat bisa berdiri di depan ratusan orang dan membuat nereka tercengang dengan keahlianku. Mimpi itu perlahan terwujud lalu kandas ketika aku mengenal judi.” Joko menghela napas. “Untung aku bertemu Pak Bejo. Dia mengajakku bergabung di Gigir Perigi dan sejak saat itu hidupku berubah. Pertunjukan sulapku menjadi besar. Impianku tercapai.”

“Lalu mengapa kau selalu kesepian?”

“Entahlah, mungkin ketika kau telah memperoleh mimpimu kau jadi kehilangan pegangan.”

“Saatnya berubah, Tuan. Kalau kau terus-menerus meniduri perempuan sesuka hatimu, kau takkan menemukan kebahagian.”

“Berubah bagaimana? Menikah begitu? Ah kau anak sialan tak mengerti hidup. Siapa yang akan aku nikahi? Ayu Sanca? Perempuan itu menarik tetapi meniduri hanya satu perempuan di dalam hidupku. Ah itu ide yang mengerikan.”

“Tuan ingat pesan Pak Bejo sebelum dia meninggal?”

“Tentu saja. ‘Temukan kebahagiamu, Joko!’ begitu katanya.”

“Renungkan pesan itu, Tuan!”

Joko memandang bocah di depannya. Dia tampak seperti bocah biasa. Siapa yang menyangka dia akan memberikan bayak sekali hal penting untuknya.

“Bagaimana cara menemukan kebahagian?”

Imbi berjalan mendekat ke arah Joko dan menyentuh dada laki-laki itu.

“Ikuti kata hatimu, tuan!”

Joko menarik napas panjang. Kapan terakhir kali dia mengikuti kata hatinya? Dia teringat Ayu Sanca. Perempuan itu perempuan yang baik. Kalau dia menjadikan perempuan istri, mungkinkah hidupnya akan lebih bahagia?

“Apakah dengan menikah aku akan bahagia, Nak?”

Hening tak ada jawaban.

“Nak?” Joko menoleh. Bocah itu telah menghilang.

“Sore, Bos! Sudah pukul empat sore. Sebaiknya kita bersiap Gigir Perigi telah dibuka.” Junet muncul dengan wajah sumringah.

Joko gelagapan. “Junet, kau liat anak kecil di sini? Anak kecil yang kau bilang mencuri itu.”

“Anak kecil siapa, Bos?”

“Anak kecil! Imba Imbi…, ah siapalah namanya, yang kau bilang tadi mencuri?”

“Bos tidak ada siapa pun di tenda ini. Aku baru saja datang dari Caravan.”

Joko memandang Junet dan sekeliling tenda. Dia melangkah ke luar Tenda.Tak ada tanda-tanda keberadaan bocah tadi.

“Sore, Mas Joko!” Ayu Sanca, si penari ular menyapanya.

Joko tersenyum manis. Dia melihat bokong Aya yang berjalan menjauh.

Bodoh amat dengan kebahagian.

“Ayu,” Panggilnya!

Dia bertekad akan meniduri Ayu malam ini.

 

  • Tamat-

 

 

 

 

 

3 thoughts on “(Cerpen) Kisah Joko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *