cerpen, Fiksi

(Cerita Anak) – Permohonan Sisi

child_prayer3_679979819

“Mama!!!” Shela berteriak kencang membuat telinga Sisi hampir tuli.

Mama mereka datang tergopoh-gopoh dari dapur dengan dahi mengkerut menatap Shela yang menangis lalu Sisi.

“Sisi, kenapa adik kamu menangis?”

Sisi menarik napas panjang. Dadanya terasa panas karena menahan marah. Dia sedang mewarnai gambar di buku mewarnainya, ketika Shela datang dan menginjak krayonnya. Kontan saja dia menolak adiknya hingga jatuh dan menangis.

“Dia menginjak krayonku sampai hancur, Ma” ujarnya memandang adiknya dengan mata melotot. Dipandang demikian Shela makin menangis kencang dan memeluk kaki Mama.

“Ya ampun, Shela. Masa hanya karena krayon kamu marahi adikmu. Kamu kan udah 8 tahun, seharusnya kamu mengalah,” ujar Mama meraih Shela dalam gendongan.

Hati Sisi semakin panas mendengarkan omongan Mama.

“Tapi ini kan krayon hadiah dari Kakek.”ujarnya ingin menangis.

Mama menarik napas panjang. “Ya sudah, nanti kita beli krayon baru. Sekarang kamu rapihkan crayon-crayon itu, yah.” Mama kemudian menenangkan Shela yang masih menangis dan kembali ke dapur bersama Shela.

Sisi memandang krayon-krayon rusak di lantai. Tak terasa air matanya jatuh. Mengapa sih Mama lebih sayang sama Shela? Shela memang empat tahun lebih muda darinya, tetapi kenapa perlakuan berbeda. Setiap kali Shela menghancurkan barang milik Sisi, Shela tidak akan dimarahi. Sebaliknya, kalau Sis yang merusak mainan Shela, Mama pasti marah. Sisi ingat pernah merusak bando Shela tanpa sengaja. Seperti biasa Shela menagis seharian dan Mama memarahi Sisi habis-habisan. Benar-benar tidak adil. Dia menghapus air matanya dengan tangan sambil terus mengumpulkan krayonnya.

Sejak Shela ada, Mama selalu membela Shela. Papa juga sama. Kalau Shela membuat ulah dan merusak barang Sisi, pasti Sisi yang dimarahi. Hanya kakek dan Neneknya, orangtua Mama yang sayang padanya lebih dari Shela. Mereka senang memberikan Shela barang-barang termasuk krayon cantik yang diinjak Shela. Sisi ingin menangis kencang-kencang seperti Shela rasanya. Dia memungut salah satu krayonnya yang patah dan meraih kertas putih di dekatnya. Dengan kesal dia menulis “Andai Shela Nggak pernah ada.”  Sisi melipat kertas itu dan menaruhnya di saku celananya.

Malam harinya ketika hendak tidur, Sisi memandang kertas bertuliskan krayon itu dengan seksama. Rasa marah karena Shela adiknya muncul kembali. Malam ini Shela tidur bersama Mama dan Papa. Andai Shela Nggak ada, ulangnya dalam hati kemudian tertidur.

***

“Sisi ayo bangun!” Suara Mama membuat Sisi terbangun. Dia membuka mata dan mendapati Mama duduk di tempat tidurnya.

“Pagi, sayang!” Mama mencium dahinya. “Bangun, yah sekarang dan siap-siap ke sekolah.”

Sisi memandang Mamanya dengan heran. Tidak biasanya mama membangunkan dia seperti ini. Biasanya pagi-pagi Mama sudah sibuk mengurus Shela sebelum ke TK.

“Shela mana, Ma?” tanyanya heran.

Mama tampak heran mendengar nama itu disebutkan.

“Siapa Shela?”

Sisi menatap Mama lebih serius.

“Masa Mama lupa anak Mama satunya lagi?”

Mama tertawa. “Anak Mama kan cuma Sisi.”

Sisi terperanjat. Astaga, jangan sampai keinginannya terkabul. Dia tersenyum senang. Akhirnya adiknya yang mengganggu itu hilang.

Harinya berjalan dengan baik. Papa Mama memberi perhatian luar biasa. Saat makan, Mama memberikan dia roti paling besar dan gelas susu paling besar. Tidak ada gangguan kecil dari Shela yang sering merebut roti atau susunya. Papa juga memberi dia uang jajan yang lebih banyak dari biasanya.  Mama bahkan mengantarnya sampai sekolah dan menunggunya pulang sekolah seperti yang biasa dilakukan pad Shela. Sisi protes.

“Ma, mama kan biasanya menunggu di Rumah,”

“Loh, bukannya mama selalu menunggu sampai kamu pulang?”

Begitu masuk kelas Ibu Riri guru wali kelasnya sudah menunggu.

“Anak-anak hari ini kita akan bercerita tentang kakak/adik kalian yah. Siapa  di sini yang punya saudara?”

Beberapa anak mengangkat tangan.

“Sebagai saudara, kita kadang bertengkar dan saling tidak menyukai. Tetapi saudara adalah teman terbaik kita. Kalian pasti sering bermain bersama kakak atau adik kalian bukan?”

Sisi terdiam mendengar perkataan Bu Riri. Dia membenarkan perkataan bu Riri. Walau sering bertengkar, dia dan Shella sering bermain bersama. Sisi ingat Shella selalu menjadi teman bermain yang bisa dia suruh-suruh.

“Ayo siapa yang mau cerita tentang Kakak/Adiknya.”

Beberapa teman-teman Sisi maju dan menceritakan tentang saudara mereka, membuat Sisi teringat akan Shella. Adiknya itu memang nakal dan suka menganggu apapun yang dia kerjakan. Tetapi ada waktu-waktu tertentu dia dan Shella bermain bersama. Mereka sering menonton film kartun bersama dan menari meniru karakter kartun di TV.

Sisi pulang bersama Mama yang menunggunya dengan murung. Mama terus memanjakannya sepanjang perjalan pulang dan membuat Sisi merasa aneh. Sampai di rumah Mama membuatkan nasi goreng kesukaan Sisi.

“Habis makan, Sisi belajar yah! Habis itu baru boleh menonton TV.”

Sisi terdiam mendengar perkataan Mama. Mana asik jika menonton TV sendirian. Shela selalu ada dan menemaninya. Tiba-tiba dia merasa kesepian dan merindukan adiknya.  Matanya mulai basah. Seandainya dia tidak menulis permintaan bodoh agar adiknya hilang. Bagaimana kalau adiknya tidak pernah muncul lagi? Sisi akan terus makan sendirian, bermain sendirian, selalu sendirian. Dia kemudian menangis kencang.Tidak masalah perhatian dan kasih sayang Mama untuk Shela. Dia juga sangat menyayangia adiknya itu

“Sisi! Sisi! Bangun!” Sisi membuka mata dan mendapati Mama dan Shella duduk di tepi tempat tidur.

“Ka Sisi.” Shela berhamburan di pelukannya. Sisi tersadar apa yang dia alami hanyalah mimpi. Dia memeluk adiknya kuat-kuat.

“Mama minta maaf yah kemarin agak marah karena adikmu menghancurkan crayonmu. Itu krayon yang sangat berharga dari Kakek. Mama juga sudah bilang Shela untuk tidak mengganggu lagi ketika sedang belajar.”

Sisi tersenyum memandang Mama lalu adiknya.

“Tidak apa-apa, Ma. Nanti aku dan Shela bisa mewarnai bersama.”

“Hore merwarnai!” ujar Shela.

Sisi dan Mama tertawa.

NB : Ini tulisan cerita anak yang aku tulis beberapa waktu lalu dan memang yah menulis cerita anak itu susah hohoho. Semoga suka

18 thoughts on “(Cerita Anak) – Permohonan Sisi

  1. Aku suka bacanya!
    Jadi kangen nulis cerpen lagi. Eh tapi aku sih ga bisa nulis cerita anak-anak.
    Kisah Sisi sama Sheila hal yang paling umum terjadi ya. Namanya juga kakak adik, kadang ribut kadang akur.

  2. Pengalaman rata2 seorang kakak memang begini tampaknya, nyahaha XD tapi bener sih kak bikin cerita ana itu susah loh soalnya harus sesederhana mungkin tapi mengandung makna hihi. Btw itu ada yg typo hanya tulisan “Sis”, Shela atau Shella, sama “menyayangia”. Ditunggu cerita anak yang lain kak Jen

  3. Bagus mbak, tulisannya itu terlihat bgt sisi anak kecilnya, yg lugu, tidak pandang bulu, dan jujur apa adanya..

    Entah kenapa pas baca tulisan ini jadi ingat sama suatu tulisan yg pernah aku baca tapi aku lupa judul tulisannya apa ,ceritanya bertema sama bedanya yg bercerita lewat sudut pandang adeknya

  4. kalau baca ini aku jadi ingat adikku nina, dulu kami sering sekali marahan, ga ngomong berhari-hari karena urusan sepele seperti di atas. kalau sekarang semuanya jadi bahan tertawaan 😀

  5. Aku kok jd keinget anak2ku ya mbaaakkk. Khawatir ini anak pertamaku apa merasakan hal yang sama kyk Sisi huhuhu. Moga2 aku bisa jd ibu bijak yg memperlakukan dua anakku dengan adil.
    Tengkyu certanya. Emang nulis cerita anak susah ya soalnya balik pakai logika anak2 gtu TFS

  6. I feel U Sisi, sebagai anak sulung memang selalu disuruh selalu mengalah dan tanpa sadar perlakukan dulu dari orangtua diperlakukan ke Fathan, duh jadi sering merasa bersalah ke Fathan, deh, serbasalah juga, pernah tuh dua F bertengkar dan pastinya bela si kecil, si sulung tampak sakit hati, cepat-cepat peluk si sulung dan dia nangis di pelukan sampai tidur, duh feel guilty banget

  7. Jadi inget ade aku dirumah, dulu juga sempet sebel krna perhatian orangtua sedikit terbagi, aku jg smpet beberapa kali dimarahi krna gak ngjaga adik dgn baik,malah nonton tivi. Ahh tapi itu dulu, aku sadar kalo saudara adalah anugerah yg indah dlm hidup kita, aku sayang bgt sm ade ku itu.

  8. Aku sampe gedhe msh berantem sama Kakak/Adik. Dulu pernah bayangin yg aneh2 jg. Untungnya enggak jd kenyataan

    Sampe skrg aku blm bs buat cerita anak

  9. Sebagai anak tunggal, jujur aku entah kenapa jadi ingin punya adik. Ah, sudah ga mungkin. Ibuku sudah mulai menuju menopause dan aku juga sudah bersiap untuk mapan ekonomi. Ah, andai saja aku paham enaknya punya adik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *