(Habel dan Veronica) Perhentian 1A – Tugas Khusus dari Bapak Uskup

 

IMG_20180831_073458

Harum melati. Iya Habel tahu betul itu harum melati ketika masuk ke kamar kerja Uskup Agus. Harum yang sama menghiasi hari-hari masa kecilnya. Ibunya punya banyak sekali pohon melati di halaman rumah. Agnes, Ibunya memang senang betul pada melati.

“Kau tahu Habel kalau dulu kau dilahirkan sebagai perempuan, kami akan menamaimu melati.”

Habel bersyukur dia tidak dilahirkan sebagai perempuan.

“Romo Habel, masuklah!” Suara baritone Uskup Agus terdengar.

Habel cepat-cepat menutup pintu dan melangkah masuk. Kamar kerja Uskup Agus berdinding putih dan cukup luas. Perabotan dibagi ke dalam dua bagian. Bagian kanan terdapat meja besar dengan berbagai dokumen dI atasnya. Di belakang meja itu terdapat sebuah rak buku tinggi berisi berbagai aneka buku. Sebuah alkitab merah besar yang terletak di rak bagian dua dari atas terlihat mencolok. Di bagian kiri tampak sebuah meja kaca persegi panjang dengan berbagai toples kue di atasnya yang dikelilingi sofa cokelat. Sofa itu memiliki busa yang sangat tebal, memberi keyakinan pada Habel segala sakit di punggungnya akan hiang jika duduk di sana. Habel menebak sofa itu tak mungkin dibeli di Ruteng.

Uskup Agus duduk di salah satu Sofa. Semerbak melati kembali tercium di udara. Habel menyadari penyemprot parfume otomatis putih tertempel di dinding di samping sebuah gambar besar. Mata Habel langsung tertuju pada gambar itu. Lukisan “Kerahiman Ilahi” setinggi orang dewasa yang tertempel di dinding di belakang uskup Agus. Melati. Ibu. Gambar kerahiman ilahi. Sensasi aneh tiba-tiba melanda dadanya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Seketika kenangan akan malam sebelum dia ditabiskan menjadi diakon menyeruak di kepalanya.

“Ibu ingin memberi tahumu sebuah rahasia.”

Habel memandang Ibunya was-was. Mereka berdua saja di ruang makan Ritpiret.

“Rahasia apa, Bu?”

Agnes memandang mata Habel lalu menunduk memandang tangannya.

“Kau tentu bertanya-tanya mengapa nama tengahmu Hamli? Dan Ibu selalu menjawab itu nama pemberian Kakekmu. Sebenarnya itu adalah sebuah singkatan.”

Habel mengerutkan dahi menatap ibunya. Seumur hidup dia tak habis pikir mengapa orang tua menamainya Antonius Hamli Habel. Hamli? Habel merasa nama itu sangat Arabic dan lebih cocok disematkan pada anak laki-laki muslim. Nama itu pun kerap menjadi lelucon teman-temannya di seminari kisol dahulu. Haji Hamli! Begitu mereka memanggilnya dulu.

“Hamli itu adalah kepanjangan dari kerahiman ilahi. Kau Habel adalah hasil dari novena kerahiman ilahi selama bertahun-tahun.” Agnes kembali bersuara.

Habel memandang Ibunya tak berkedip. Siapa sangka nama Hamli itu sangat Katolik?

“Tapi Bu kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tiba-tiba? Dan kenapa Ibu harus berbohong tentang nama itu?”

Habel bisa merasakan Ibunya mendesah.

“Karena kau akan ditabiskan menjadi daikon seperti ayahmu dulu.Ah Ayahmu dulu menerima kaul kekal. SVD. Bukan diakon. Intinya Habel Ibu ingin mengisahkan mengapa sejak dulu Ibu bersikeras kau harus menjadi Imam.”

Habel terkesiap. Ayahnya pernah akan kaul kekal? Yang Habel tahu Ayahnya memang mantan frater. Dia tak tahu Ayahnya itu akan menerima Kau kekal.

“Setahun sebelum kaul kekal Ayahmu, kami bertemu. Waktu itu Ibu akan segera tamat dari SPK Lela. Enam bulan sebelum ditabiskan Ibu mulai melakukan novena kerahiman Ilahi meminta pada Tuhan agar Ayahmu tidak diberikan kaul kekal dan menikah dengan Ibu. Novena Ibu terkabul kami menikah setahun setelah dia gagal jadi Imam.”

Habel memandang Ibunya seksama. Dia tak pernah menyangka Ibu yang rajin berdoa dan begitu menghormati para pastor pernah berdoa demikian.

“Lalu apa yang ingin Ibu sampaikan?”

“Pernikahan kami bahagia, tetapi lima tahun berselang kami belum dikarunia seorang anak pun…”

“Apakah Ibu mau bilang kalau aku adalah anak angkat?”

Agnes melotot. “Tentu saja tidak. Kau pikir dari mana kau dapatkan rambut keritingmu itu kalau bukan dari Ibu? Kami mendapatkanmu tujuh tahun setelah menikah. Dua tahun novena kerahiman ilahi.”

“Jadi sama seperti Ibu mendapatkan Ayah, saat mendapatkanku Ibu juga menggunakan novena kerahiman Ilahi?”

Agnes mengangguk.

“Saat novena itu Ibu berjanji kalau Tuhan memberikan kami anak laki-laki. Dia akan menjadi pastor menggantikan Ayahnya yang telah Ibu curi dari Tuhan.”

“Romo Habel!” Suara baritone Uskup Agus terdengar dan mengembalikan Habel.

“Silakan duduk!”

Habel tersadar sejak dari tadi dia hanya berdiri saja. Segera dia menuju sofa dan duduk berhadapan dengan Uskup Agus.

“Terima kasih sudah datang. Bagaimana pengalaman selama jadi pastor paroki di Colol?” Tanya Uskup Agus sambil tersenyum membuat pipinya makin gempal. Uskup Agus berbadan tinggi dan gemuk. Dia tampak seperti raksasa duduk disofa di depan Habel.

“Baik, Monsinyur. Orang Colol ramah-ramah. Lima tahun saya di sana sungguh betah. Apalagi kopinya yang terkenal enak.”

“Baiklah kalau kau betah. Saya ingin memberimu tugas baru.” Uskup Agus memainkan cincin uskupnya.

Habel mendesah. Dia tahu dia akan dipindahkan ke paroki lain. Lima tahun adalah lama seorang Imam projo mengabdi di satu paroki. Dia senang betul berada di Colol. Listrik yan kadang hidup kadang tidak, tidak menjadi masalah.

“Tapi saya tidak akan menugaskan kau ke proki lain. Saya ingin kau ke Jakarta ambil S2 Ekonomi di UI. Keuskupan kita butuh ekonom.”

Habel memandang Uskup Agus tidak percaya. Dia disuruh sekolah lagi? Bukankah dia barusan saja menjadi Imam? Mengapa? Banyak pastor lain yang layak menjadi ekonom keuskupan.

“Bagaimana apakah kau bersedia?”
Habel memandang Uskup Agus lalu gambar kerahiman Ilahi di belakang Uskup Agus. Sesuatu dalam hatinya bergejolak Kau Bisa Habel!

“Iya, Monsinyur... Saya menerima tugas darimu.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *