(Kisah Joko dan Lastri Lembar 1) – Sebiru Langit

LASTRI

IMG_20170806_112758

Langit tampak biru kala Lastri memandang ke luar Jendela. Langit biru selalu mengingatkan Lastri pada Dimas. Memberi perasaan biru pada hatinya. Blue feeling. Perasaan yang tak menentu. Membuatnya teringat akan Dimas

Dimas menyukai warna biru langit.

“Langit cerah berwarna biru. Menggambarkan suasana hati yang riang,” ujar Dimas suatu waktu kala mereka sedang duduk di taman.

Beberapa orang tampak duduk tak jauh dari mereka. Pandangan Lastri tertuju pada sebuah keluarga kecil. Ayah, ibu, dan dua anak berusia kira-Kira 7 dan 11 tahun. Dalam hati dia berharap suatu saat dia dan Dimas seperti itu. read more

Kepada Kamu dengan Segenap Kecemasan

Global (18)_&_5513071b-e941-4758-9f53-c4664a14f94e-01

Kepada kamu dengan segenap kecemasan

Kukira kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta.
Cinta, bahkan Plato pun kikuk menggambarkan bagaimana cinta. Cinta terlalu rumit untuk dipahami dengan logika. Namun tidak dengan hati.
Ketika tahu cinta, hati ingin memiliki. Dia bahkan mampu menyabotase logikamu. Mematikan bahkan kemanusianmu ketika kau jatuh cinta.
Jangan heran ketika seorang suami tega meninggalkan istri dan anak-anaknya demi perempuan yang dia cintai.
Atau seorang istri yang tega meninggalkan suami dan anak-anaknya demi pria yang dia cintai.
Cinta membutakan kemanusian seseorang tanpa memandang jenis kelamin, status sosial, apalagi isi dompet.
Tahu-tahu kau sudah terjebak.
Seorang teman bilang padaku. Dia mengutip seorang filsuf. Katanya: jatuh cinta berarti jatuh ke dalam cinta. Ketika seorang jatuh dia mengalami luka dan resiko. Jatuh cinta berarti kita berani mengambil resiko dan teruka. Entah luka kita sendiri atau luka orang lain. read more

(Cerpen) Kisah Joko

Catatan : Ini merupakan cerpen terakhir yang saya tulis. Saya tulis tahun 2016 awal dan akan diikutsertakan dalam kumcer gigiperigi yang gagal hihihi.. Ya sudahlah saya posting sini aja

Joko

Tepat pukul lima belas, Joko telah selesai mempersiapkan semua perlengkapan  sulapnya. Dia menggantung jas hitamnya hati-hati di dalam lemari.  Itu satu-satunya lemari di dalam karavan  milikknya. Lemari itu tertempel di sudut kiri karavan, tepat di samping tempat tidurnya. Sama seperti anggota karnaval Gigirperigi lainnya, dia menginap  di karavan yang terparkir tak jauh dari karnaval. Joko mengelus-ngelus lengan jasnya sebentar, sebelum menutup kembali lemarinya. Jas  itu sudah berumur sepuluh tahun, tapi masih terlihat baru karena selalu dirawat dengan telaten. Seperti dia merawat tempat sirkus miliknya. Joko selalu  merasa dadanya berbunga-bunga ketika memikirkan sirkusnya. Sepuluh tahun berlalu,  sejak dia bergabung bersama Gigir Perigi. Dan kini sirkusnya telah menjadi besar dan salah satu wahana yang ditunggu-tunggu. Dia tiba-tiba merasa lelah. Untungnya, dia masih punya sejam untuk beristirahat sebelum karnaval Gigir Perigi dibuka pukul empat nanti. Panggung sirkus dibuka pukul enam, jadi dia masih punya waktu dua jam untuk bersiap-siap setelah Gigirperigi dibuka.   Segera Joko mengalihkan padangan ke arah jendela caravan. Beberapa atap tenda terlihat di lapangan besar Kertamaya yang memang khusus disewa untuk karnaval mereka. Perasaan berbunga-bunganya tiba-tiba lenyap diganti perasaan gundah. Kertamaya selalu menyisipkan duka di hatinya. Duka yang kemudian membuat gumpalan nelangsa aneh di dalam hatinya. read more