Artikel, Curhat

Beasiswa LPDP dan ucapan terima kasih

lpdp

Postingan ini ada di blog lama saya. Pindahkan ke sini, biar semakin banyak yang baca dan lulus LPDP juga.. AMinnn.

Tahukan apa itu beasiswa  LPDP? Beasiswa LPDP adalah beasiswa magister dan doktor yang diberikan oleh Kementriak keuangan. Kita bisa kuliah di luar negeri maupun di Indonesia. Saya membuat postingan Blog ini sebagai balas budi kepada postingan blog lain yang sudah membantu saya selama proses pengejaran beassiswa LPDP. Yuk mari disimak dan semoga bermanfaat.

Sebenarnya saya ingin mengikuti LPDP tahun 2014, saya sudah berencana mengikuti TOEFL di UI, kemudan rasa malas menggrogoti saya. Niat itu baru muncul kembali di tahun 2016. Say akemudian mulai mempelajari beasiswa ini. Saya memilih beasiswa Affirmasi, karena tinggal di daerah Terluar. Syaratnya bisa kalian lihat sendiri di LPDP AFIRMASI Setelah membaca syarat-syarat saya menyadari hal paling sulit untuk didapatkan yaitu setifikat TOEFL, karena di daerah saya tak ada penyelenggara. Saya harus ke Kupang (Memakan banyak sekali biaya, secara saya tinggal di Ruteng. Jarak Kupang – Ruteng 1jam Pesawat dan sehari dengan Kapal. Lumayan juga tiketnya) Namun karena tekad yang membara saya memutuskan untuk test TOEFL di Kupang dan mulai menabung Iseng-iseng saya membuat status di FB

“Duh test TOEFL kenapa harus di Kupang sih? Di Ruteng aja Nggak bisa gituu…”

Teman FB saya Ka Icha mengatakan bisa dan mengirim nomor Om Niko. Lewat Om Niko, saya kemudian test TOEFL di Boawae yang jaraknya lebih dekat dari Ruteng, meski sengsara karena saya mabuk darat. Singkat cerita saya mendapat TOEFL score 520. Score yang lumayan mengingat baru pertama kali ikut test TOEFL. Jadi beasiswa LPDP ini terdiri dari dua Tahap. Satu Tahap registrasi administrasi. Kita mengumpulkan berkas dari Ijasah, Toefl Test, Rencana studi dan lain-lain secara online di website LPDP. Tahap selanjutnya adalah Tahap Wawancara, penulisan essay, dan FGD.

Saya pun segera mempersiapkan semua berkas beasiswa dan mengupload pada tanggal 10 April 2016, 5 Hari sebelum deadline.  Tanggal 27 April saya dinyatakan lulus seleksi administrasi dan berhak mengikuti tahap selanjutnya yaitu Tahap Wawancara. Saya berangkat ke Kupang untuk wawancara pada tanggal 30-31 Mei 2016. Yayasan tempat saya bekerja setuju membiayai perjalanan saya – Terma kasih Rm Gerald and Pater Dave. Di Kupang,  Rini dan Lia setuju menampung saya selama di Kupang.

Agar dapat lulus tes administrasi, apstikan untuk menulis semuanya dengan benar. Jangan menipu. Ah yah tulis juga kontribusimu bagi negri dengan sebaik-baiknya. Ingat loh kamu bakal dapat beasiswa dari uang rakyat, jadi gunakan sebaik mungkin uang itu agar kelak jika mendapat gelar magister atau doctor bisa berguna kembali bagi rakyat Indonesia.

Tahap Wawancara, Essay Test, dan LGD

Wawancara, penulisan esaay, dan LGD saya dilakukan di hari yang sama pada tanggal 30 Mei 2016.

Di Essay saya mengambil topik tentang alkohol adalah pemicu kekerasan. Ada dua topik Alkohol dan Manajemen taksi online. Perbanyak baca Koran agar perbendaharaan kata kita bagus yah. Setelah menyelesaikan essay testm, lanjut ke wawancara.

Di wawancara. Nah ini yang seru. Saya diwawancarai oleh Prof dari UGM, Ibu doktor dari Airlangga, dan psikolog dari UI. Pertama disuruh perkenalkan diri dalam bahasa inggris. Dijawab seadanya. Kemudian lanjut ke dalam bahasa indonesia tentang apa yang dilakukan selain jadi dosen. Dijawab seadanya. Waktu tahu saya pengen ambil keperawatan Jiwa Di UI dan keprihatinan saya terhadap kekerasan seksual di Manggarai, Psikolog menyarankan saya untuk apply psikologi klinis saja, saya kemudian menerangkan kalau saya pengen jadi dosen keperawatan bukan psikolog. Dan dibalas angukan.

“Tapi kalau psikologi klinis buat kamu bagus juga. Yang S1 keperawatan bisa loh ambil psikologi perkembangan.”

Saya jelaskan bahwa saya jadi perawat saja. Sampai di sini saya bingung, karena ternyata psikologi klinis itu hanya bisa dimbil oleh sarjana psikologi. Hemmm, mungkin Ibunya lelah atau mungkin nyaranin ambil psikologi perkembangan anak yang bisa diambil beberapa jurusan. Hahaha entahlah.

Berikut pertanyaan yang saya ingat:

P: Lima tahun ke depan kamu mau jadi apa

S: Apply beasiswa doktor. Menyelesaikan beberapa penelitian tentang masalah kesehatan Jiwa di Manggarai dan menikah (Pewawancaranya tertawa saja mendengar jawaban ini.)

P: Kamu kan jadi dosen nih. Emangnya tempat kerja kamu nggak ngasih beasiswa apa?

S: Dikasih Pak tapi pake quota. Soalnya kampus tempat saya bekerja itu nggak hanya STIKES. Ada STIKIP juga setiap tahun hanya 2 orang yang dikuliahkan. Kalau saya menunggu dari Kampus. Mungkin saya akan mengambil S2 tahun 2019. Jadi saya usahakan untuk mencari beasiswa.

P: Hasil TOEFL kamu bagus. Belajar bahasa inggris dimana?

S: Di Pare-Kediri, Pak. Waktu jadi mahasiswa UI rame2 sama teman2

P: Wahh anak UI belajar bahasa inggris di Pare. Keren dong Pare.

Yang paling lucu ketika ditanyaa…

P: Sudah punya pacar?

S : Iya…

P: Dia setuju kamu kuliah jauh?

S: Iya setuju dan suport.

P: Kalau misalnya nih dalam perjalanan kamu kuliah dia kepincut wanita lain gimana?

S: Saya dan pacar saya sudah buat komitmen untuk saya kuliah dulu. Kalau seandainya kami berpisah. Saya percaya karena kami tak baik jika bersama dan akan ada pengganti yang lebih baik.

Untunglah saya membaca trik wawancara dan wawancara LPDP itu harus dijawab serius. Akan ada pertanyaan bernada iseng dan sebaiknya kamu menjawabnya dengan serius.
Wawancara berlangsung kurang lebih 30 menit dan saya sama sekali nggak ditanya tentang remcana perkuliahann seperti calon peserta lainnya. Malahan pewawancaranya nanya oleh-oleh khas Ruteng. Tempat paling bagus di Ruteng dimana? Pernah ke Komodo? dll… Wawancara berlangsung menyenangkan banget.

Namun ada beberapa point wawancara yang bikin saya agak was-was.

Pewawancara tanya : Apa keberhasilan yang kamu capai selama jadi dosen.

Saya jelaskan ketika ada mahasiwa yang berhasil memperoleh nilai baik.

“Wah jadi kalau ada mahasiswa nilainya buruk gimana tuh? Salah kamu juga. Nggak bisa begitu dong.”

“Yah tergantung mahasiswanya Pak. Karena kembali lagi tugas dosen adalah mendidik. Namun jika feedback dari muridnya tidak optimal yah lain ceritanya. Kalau ada mahasiswa saya yang gagal saya mencoba mengevalusia perilakunya dan sebagainya. Bisa jadi karena kontrol dirinya kurang.”

Intinya saya menjawab terbata2 dan merasa kurang OK saat menjawab pertanyaan itu. Ditambah lagi bapaknyaa ngotot gituu sama jawaban sayaa huft. Namun yang jelas saya berusaha menjawab semua pertanyaan seserius mungkin tetapi juga selalu tersenyum.

LGD Dilakukan sore hari. Saya menjadi moderator dan diskusi berjalan baik. Kami membahas tentang hukuman kebiri dan mati bagi pelaku kekerasan seksual terutama di bawah umur.

Saya benar-benar sudah melakukan yang terbaik dan berusaha sekuat mungkin untuk rendah hati. Ini penting buat kamu yang ingin mengikuti wawancara. Penting banget untuk selalu rendah hati. Ingat bahwa kamu akan dikuliahkan menggunakan beasiswa. Ada beberapa calon awardee yang memiliki score toefl 465 ngotot kuliah di luar negeri. Alasannya karena ingin membangun jaringan. Pewawancara menawarkan mereka kuliah di dalam negeri saja dengan menyodorkan surat persetujuan pindah. Namun ditolak sama si awardee.

Duhh emang yah banyak yang terlalu percaya diri dan yakin bahwa mereka bisa tebang tinggi tanpa memijakkan kaki ke tanah. Kuliah di luar negeri itu susah dan kalau kamu nggak punya modal bahasa yang cukup. Jangan harapp bisa.

Balik Ruteng dengan perasaan was-was. Tampaknya seperti ada yang kurang saat menjawab.
10 hari dihabiskan dengan berdoa khusuk.

Dan hari ini saya membaca ini di akun LPDP saya. Saya Dinyatakan lulus. Hal pertama yang saya lakukan mengabarkan pada Papa, Mama, Dan keluarga. Setelahnya mengabarkan Patjar. Kemudian kebeberapa orang yang berjasa selama proses ini.

Akhir kata saya postingan blog ini dengan ucapan terima kasih.
Terima kasih untuk semua yang mendukung saya semenjak rencana tentang beasiswa ini dibuat. Romo Geradus, Pater David, Ka Henny, Dewi, Ka Yulti,Novi, Ka Erik, Ka Ansi, Pa Fredy, Nova, Ka Yoan,Lia, Dinus, Ka Tacik, Atri, Ka Kristin dan semua dosen di Stikes. Ka Susan, Ka Wewik, Ka Fayen, Ka Chika dan semua pegawai yayasan yang malas liat saya bolak-balik 😂😂, Rini dan Lia yang sudah kasih tumpangan selama di Kupang. Para sahabat Ena, Lena, Petit, Nanet, Echan, Iren, Ka Bene, Megoss, Fadly, Hana, Teh Dewi dan semua yang memberi dukungan. Keluarga saya Mama papa dan adik-adik yang menjadi sumber semangat nomor satu. Oma Martina yang selalu berdoa, Mama Ne Mama Os dan Om Josi. Papa saya yang pengen ngantar saya ke bandara sampai pesawat saya datang, Mama yang rajin berdoa, Dian Poncek, Igit, Bambang, Mbolok, dan Sabno. Tanta Ira yang sedang saya pengaruhi untuk apply beasiswa juga. Oma May yang percaya saya bisa dan semua keluarga. Oma Mei the source of my confident. Teman-teman di arisan kelompok 6 Link Blogger perempuan, Mbak-Mbak and Kang para Admin Kampung Fiksi, Blogger alay di manis manja grup, anak-anak absurd di grup Gosip yang kerenn banget😘, Pojok WB dan semuanya. Kakek saya di surga. Nene Pa,
“Nene pa Cucu mau ambil magister nih.. Silakan kasih bangga sa den nene pu teman di Surga.”

Pacar saya yang baik dan ganteng dan penuh perhatian. Yang suka marah setiap saya bilang

“Kayanya sa tir lulus beasiswa.”

“Sayang nih harus PD kah.”

Dan tentu saja buat Tuhan untuk semua berkah tak terhingga dalam hidup. Iyaa ingatlah bahwa bersunguh-sungguhlah dalam menggapai sesuatu. Segala hal akan diperoleh dengan baik, jika kamu berniat sungguh-sungguh meraihnya.

Akhir kata, semoga kelak beasiswa saya berghna bagi daerah tercinta Manggarai. Amin

Ah yah saaat menulis ini, saya belum keterima di UI. sekrang udah dan akan kuliah september nanti.. Doakan yah teman-teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *