Artikel | Motivasi

Baik pada Diri Sendiri dan Orang Lain, maka Duniamu Lebih Baik

April 19, 2018

me

Tadi pagi, ketika mengecek email, aku terkejut mendapati sebuah email dengan subjek yang panjang. Intinya sih email itu dikirimkan karena pengirim email menonton video singkatku di youtube yang mengisahkan tentang Depresi. Si pengirim ingin tahu lebih dalam tentang depresi. Aku terkejut dan em, entahlah, aku tidak bisa menggambarkan perasaan kedua dengan kata-kata. Yang jelas aku senang karena apa yang aku buat di internet berguna bagi orang lain. Bisa dibilang, ini adalah titik balikku tentang menyebarkan kebaikan di internet.

Aku menulis di blog sejak tahun 2008. Aku ingat keinginanku menulis di blog merupakan keinginan untuk eksis. Tahun 2008 adalah tahun awal internet booming dan memiliki blog merupakan sebuah prestige. Tidak semua orang bisa. Aku kemudian menulis di blog dengan penuh suka cita. Awal mulanya aku menulis fiksi dan kemudian di tahun 2014, aku banting stir ke lifestyle demi meraih pundi-pundi uang.

Dapat uang dari blog menyenangkan. Aku punya 2 HP hasil ngeblog. Setiap bulan selalu saja ada uang kaget buat jajan Gofood. Namun ada satu hal di dalam hatiku yang kurang. Tahun 2017 ketika aku mengambil S2 keperawatan Jiwa, aku menyadari bahwa aku sungguh bisa membantu orang lain dengan ilmu yang kudapat. Namun aku tidak akan dapat membantu kalau aku sendiri masih bermasalah. Awal 2018 resolusiku adalah menyembuhkan luka-luka hatiku sendiri. Aku sadari ternyata aku memiliki banyak sekali masalah dan menyimpan luka-luka.

Ketika luka-luka itu sembuh, aku mendapati diriku lebih bisa menerima segala kekuranganku; baik fisik maupun psikolgi. Aku bisa menerima sifat jelek dan bagian tubuhku yang tidak bagus menurut  ukuran normal orang-orang. Hasilnya, aku bisa mentolerir sifat jelek orang lain. Sesederhana itu: Kalau kamu baik ke diri sendiri, maka kamu baik ke orang lain. Jadi kasihanilah orang yang perilaku dan sifatnya buruk terhadapmu, dia melakukan perilaku yang sama terhadap dirinya sendiri. Maka dari itu berbuat baiklah kepada diri sendiri lalu orang lain.

Berbuat baik kepada diri sendiri itu seperti apa? Ini adalah pertanyaan yang mungkin kalian tanyakan. Jadi begini, coba kamu pikirkan deh pikiran mencemooh yang biasa kamu dapatkan dari pikiranmu. Misalnya kaya aku,  aku mau nulis novel, tetapi suara dalam kepala terus bilang aku enggak akan bisa menulis novel bagus. Tulisanku jelek. Aku gak becus. Namun, aku enggak mungkin bilang pada mereka yang mau nulis novel juga. Kenapa kita bisa baik sama orang lain tapi tidak pada diri sendiri? Nah itulah kemudian yang membuatku berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Aku hidup hampir 28 tahun dengan kebencian kronis pada diri sendiri. Aku berusaha untuk menemukan akar kebencian itu dan mendapati banyak hal di masa lalu yang memicu semuanya. Aku mulai dengan memaafkan diri sendiri telah melakukan hal bodoh, orang lain yang jahat padaku, dan seketika dunia lebih baik. Aku menemukan satu hal yang penting dan mendasar. Kamu enggak akan bisa bahagia jika memikirkan masalah. Alih-alih memikirkan, lakukan sesuatu untuk menyelesaikannya.

Selama bulan april aku merasa manajemen diriku mulai tertata rapi. Aku mulai bisa memecahkan masalah tanpa harus stress memikirkannya. Aku mulai bisa menerima segala pikiran negatif dan menjadikan motivasi. Dan yang terpeting aku mulai baik terhadap diri sendiri. Sebagai balasannya aku mendapati setiap aku punya masalah, suara hatiku yang biasanya mengejek berganti mendukung agar aku tidak terpuruk. Setiap kali melakukan kebaikan aku melakukannya dengan iklash dan hasilnya hidup aku lebih baik.

Pagi ini ketika terbangun aku memutuskan untuk menjadikan blogku ini sebagai penyebar kebaikan. Aku memutuskan untuk menggunakanya sebagai sarana aku berbagi kebaikan. Berbagi tentang kesehatan jiwa. Aku sudah melakukannya di youtube dan Instagram. Aku mungkin akan mengurangi tulisan berbayar dan fokus pada niche kesehatan jiwa dan motvasi. Sementara itu aku berharap hal baik juga terjadi padamu…

 

Only registered users can comment.

  1. nice artikel
    banyak orang terlalu memikirkan orang lain, namun lupa dalam memikirkan diri sendiri. permasalahan yang ada dalam pikiran tentunya menjadi sebuah pertimbangan, namun memikirkan masalah tentunya akan memicu permasalahan yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan yang dipikirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *