Bahagia adalah Berbuat Baik bukan Mencampuri Urusan Orang Lain.

Bahagiaaa
Bahagia Itu Sederhana

Bahagia adalah berbuat baik bukan mencampuri urusan orang lain. Beredarnya petisi agar Ahok dan Veronica tidak cerai bikin saya miris. Pantas WHO mengatakan tingkat depresi di Indonesia akan meningkat dua kali lipat di tahun 2020. Keinginan masyarakat Indonesia untuk mencampuri urusan orang lain sungguh kronis dan susah disembuhkan. Coba hitung berapa kali kamu yang 20an akhir dan masih jomblo ditanya kapan menikah, lalu nasehat betapa belum menikah di usia segitu memprihatinkan. Saya yakin pasti jumlahnya bisa buat beli mas kawin. Disadari atau tidak orang Indonesia doyan banget mencampuri urusan orang lain.

Lalu, apakah mengurusi urusan orang lain ini membuat kita bahagia? Jawabannya tidak. Albert Camus pernah bilang “Agar bahagia kau tidak boleh ikut campur urusan orang lain.” Alasannya sederhana ketika kau mencampuri urusan orang lain, kau akan lupa urusanmu sendiri. Kaya orang-orang yang tanya kamu kapan nikah itu, dia enggak pikir apa anak gadisnya sendiri yang mungkin sekarang masih SMA tapi ada kemungkinan besar menjomblo juga sepertimu?

Pada kasus Ahok misalnya, orang beramai-ramai bikin petisi perceraian, tanpa melihat keluarga masing-masing. Apakah istri atau suami sudah bahagia? Apakah bibit perceraian ada di dalam keluarga sendiri? Apakah pernikahan sendiri sudah bahagia? Kita cenderung melihat kuman di seberang lautan daripada gajah di pelupuk mata. Kita melihat ketidaksempurnaan orang lain dan memperbaikinya. Jika kita yang tidak sempurna, maka kita akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab ketidaksempurnaan kita. Hasilnya kita terus menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki diri. Perilaku mencampuri urusan orang lain ini sebaiknya dikurangi.

Namun demikian kebahagian juga tak lepas dari pengaruh orang lain. Berbagai penelitian mengungkapkan beberapa ciri orang yang bahagia. Orang yang bahagia hubungan sosialnya lebih baik daripada orang yang tidak bahagia. Orang yang bahagia lebih banyak bersyukur daripada orang yang tidak bahagia. Dan yang terpenting semakin banyak orang membantu orang maka semakin bahagia dia.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Otoke, at al (2010) di Jepang tentang bagaimana hubungan perilaku kebaikan dengan kebahagian mengemukakan bahwa orang yang berbuat baik pada orang lain cenderung lebih bahagia daripada orang yang tidak membantu orang lain. Sementara itu ketika seorang bahagia dia tidak hanya berpikir untuk berbuat baik tetapi juga melakukan hal baik. Penelitian ini jelas mengungkapkan bahwa orang bahagia akan selalu berbuat baik seperti membantu bukan malah mencampuri urusan orang lain.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa ketika seseorang menyadari dia telah banyak berbuat baik, maka dia meningkatkan harapan untuk lebih banyak berbuat baik, menyadari dirinya orang baik, dan lebih banyak melakukan hal baik. Hal tersebut membuat dia lebih positif melihat hidupnya dan membuat dia lebih bahagia. Kebaikan adalah sebuah kekuatan yang mempengaruhi kesejataeraan manusia. Kebaikan membuat hubungan sosial dan kepribadian yang baik dan tentu saja membuat seseorang bahagia.

Lalu apakah kamu sekarang tidak bahagia? Coba diingat kamu seringnya membantu atau mencampuri urusan orang lain. Menasehati dan bahkan mengolok-olok orang lain belum menikah atau mendoakan dia memiliki jodoh. Menghujat Jedun dan pelakor lainnya atau memperlakukan pasangan lebih baik lagi agar dia tidak selingkuh. Membuat status menyindir tentang orang bunuh diri atau membagi status tentang call centre jika seorang ingin bunuh diri. Menghina tampilan orang asing yang aneh atau tersenyum padanya. Ikutan poling agar Ahok dan Veronica cerai atau mendoakan keduanya kuat dalam masalah mereka. Bisa jadi kamu enggak bahagia karena selama ini kamu selalu mencampuri urusan orang lain dan tidak pernah berbuat kebaikan.

32 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *