afternoon with joko | Movie

Afternoon with Joko – The Hours: Kamu Bahagia maka Menikah, bukan Kamu menikah maka bahagia

January 2, 2018

Akhir tahun 2017, saya menonton The Hours, film yang mengantar Oscar ke lemari pajangan Nicole Kidman.

images (4)

Film ini diangkat dari Novel laris karangan Michael Cunningham. Saya membaca buku ini tahun 2012 lalu menyerah, karena terjemahan yang buruk haha. Waktu lihat film ini di Hooq, saya memutuskan untuk mengakhiri 2017 dengan menontonnya. Pilihan yang baik. Film ini mengajarkan arti baru tentang kebahagian. Joko datang tepat ketika adegan Virginia menulis surat untuk suaminya Leonard. Kami menonton bersama dan ini adalah catatan obrolan kami, Afternoon with Joko

The Hours berpusat pada 3 perempuan. Virginia Woolf, Clarissa Daughn, dan Laura Brown. Ketiganya terikat pada satu buku yang sama yaitu Mrs Dalloway. Virginia menulis buku itu, Laura Membacanya, dan Clarisa memerankannya. Ketiga-ketiganya memiliki masalah yang berbeda-beda. Virginia dengan halusinasi dan Bipolar Disordernya, Laura dengan kebosanan akut pada pernikahannya, dan Clarisa kekhawatiran pada temannya Richard yang hidup dengan Aids.

Film dibuka pada tahun 1920an saat Virginia Woolf menulis bukunya. Lalu 1950an ketika Laura dan Anaknya Richie membuat kue untuk Suaminya, dan 2001 saat Clarisa menyiapkan pesta untuk Richard yang diberi penghargaan untuk novelnya.

Bagaimana kisah mereka, tontonlah. Berikut percakapan saya dan Joko.

“Ini film yang bagus untuk menutup akhir tahun, sejujurnya gue udah bosan dengan hobi baru lu menonton Tinker Bell akhir-akhir ini.” Sudut bibir kanan Joko terangkat. Si kampret mencemooh selera filmku rupanya. Aku memang lagi senang menonton TinkerBell. Dari episode dia terlahir dari tawa bayi sampai melawan Peri Perompak. Namun kisah Tinker Bell biarkan dibahas di lain postingan.

“Tapi kau yang berteriak paling kencang saat episode sayap Tinker patah kan?”

“Jadi kita mau bahas tinker bell atau the hours?”

“Ok baiklah.. The Hours film yang sangat menarik. Semacam fanfiction novel Virginia Woolf. Kau sudah baca novel Mrs Dalloway itu?”

” Yah, sudah. Clarisaa, sama seperti tokoh kita di The Hours ingin membuat pesta untuk temannya. Bedanya di The Hours nama temannya itu Richard yang adalah nama suami Clarisa di Novel Mrs. Dalloway.”

“Si Michael pengarang The Hours mengidolakan Virginia Woolf.”

“Siapa yang tidak? Gue mencintai semua karyanya. Ah, yah Jen mari kita bahas Film ini. Kita bahas tokoh-tokoh saja bagaimana? Siapa tokoh favorit lu?”

IMG_20180102_083717

(Laura and Richie)

“Laura Brown, bukan karena aku mengidolakan Julie Moore, tetapi kisahnya sangat penting untuk dibahas di era sekarang ketika kebanyakan orang mengukur kebahagian haqiqi adalah menikah.”

“Maksudnya?”

“Gini loh, Laura adalah contoh perempuan yang tidak bahagia dalam pernikahan. Lisa Wade, PHD seorang Profesor mengungkapkan bahwa perempuan lebih tidak bahagia dari Laki-laki dari pernikahan dan salah satu faktor penyebab hal itu karena dia tidak bahagia sebelum menikah. Dengan kata lain tidak ada hubungan antara kebahagian dan tidak menikah. Jika kau tidak bahagia, menikah tidak akan mengubah hal itu. Yah cara terbaik untuk pernikahan bahagia adalah bahagia dulu sebelum menikah.”

“yah setuju, Laura memang depresi sejak awal. Coba liat dia lebih sering tidur-tiduran, gampang marah, dan bahkan ingin bunuh diri. Dia emang nggak cinta suaminya, dia lesbi nggak sih sebenarnya?”

“Nah bisa jadi, kalau aku bilang sih dia hanya kepaksa gitu nikah sama suaminya. Tahun kan tahun 1950an di USA pernikahan adalah hal utama dan terutama untuk bahagia. Seperti Indonesia jaman now.”

“Orang-orang dipaksa untuk menikah demi menjaga martabatnya. Hasilnya pernikahan itu tidak bahagia. Kasihan suami dan anak-anak Clarissa pada akhirnya.”

“Menikah dan menjadi Ibu memang bukan pekerjaan yang gampang. Makanya kamu harus bahagia sebelum memutuskan untuk menikah, bukan sebaliknya. Kalau kamu siapa tokoh favoritmu, Joko?

IMG_20180102_083907

(Virginia  and Leonard Woolf)

“Virginia Woolf by Nicole Kidman. Kidman berhasil menghidupkan jiwa Virginia yang rapuh. Lu tahukan dia mempunya Skizofrenia dan Bipolar Disorder. Dengan melihat Virginia versi Nicole Kidmam, kita sudah menduga dia sakit mental.”

“Iya Oscar sangat pantas untuk Nicole Kidman. Jadi kau suka Virginia karena diperankan oleh Nicole Kidman?”

“Tidak juga, Gue suka Virginia karena memberi harapan bahwa suami sebaik suaminya ada di dunia ini. Leonard Woolf pria yang baik, setidaknya di film itu. Selain itu hidup dengan penyakit mental benar-benar mengerikan. Saat lu berjalan dan melakuan sesuatu bahkan menulis, suara-suara dan perasaan menyalahkan diri sendiri itu tetap ada. Maksud gue, lu hidup hanya untuk merencanakan kematian lu.”

“Yah memang. Makanya jangan pernah meremehkan kesehatan mentalmu dan orang lain. Dalam film ini Si Richard teman Clarisa juga mengalami halusinasi bukan? Tebak apa itu karena Ibunya Laura depresi dan tidak mempedulikannya. Makanya seorang perempuan harus bahagia sebelum memutuskan menikah. Jika dia tidak bahagia dan bahkan mengalami gangguan mood bisa kau bayangkan perlakuan pada anaknya. Kepribadian kita ini sangat dipengaruhi kepribadian ibu kita dan sangat mempengaruhi anak-anak kita. Jadi menikah itu bukan hanya sekedar mengucapkan janji di Gereja atau saat Ijab Kabul. Tidak.”

“Setuju, Penting banget untuk bahagia dan dewasa sebelum menikah, karena masa depan anak kita, anak-anak, anak kita dan keturunan mereka ada pada kita. Keluarga lah faktor utama yang menentukan baik atau buruk kepribadian seseorang.”

“Wah Joko Bijak!”

“Bukan bijak, konsep pernikahan yang bijak. Sampai di sini gue takjub sama orang yang memilih tidak menikah. Menurut gue mereka beranggapan mereka bahagia dengan tidak menikah dan menikah akan membuat mereka tidak bahagia.”

“Menikah itu pilihan. Kalau kamu memilih menikah, maka hendaklah pilihan itu adalah pilihanmu bukan pilihan orang lain. Sebab itulah yang membuat pernikahan gagal. Bukan kamu yang memilih menikah, tetapi pernikahanlah yang memilihmu karena paksaan orangtua dan masyarakat.”

The Hours film yang menarik. BTW gue baru tahu kalau sejak awal Virginia pengen si Clarissa bunuh diri. Jadi penulis emang enak yah, bisa bunuh orang kapan pun dia mau. Lu nggak mau nulis-nulis lagi?”

“Ini gue lagi nulis.”

IMG_20180102_083828

(Clarissa and Richard aka Richie)

“Novel atau cerpen maksud gue. BTW gue baru ngeh kita belum bahas Clarisa yang diperankan Meryl Streep.”

“Aku cuma bisa bilang akting dia keren. Yang jadi Richard itu dapat nominasi oscar kan? Sayang aja The Hours kalah dari Chicago..”

“Saat film ini tayang lu kelas berapa?”

“2002, Satu SMP”

“Dih, udah tuaa. Kok belum nikah?”

“Kampret kau, Joko!”

Only registered users can comment.

  1. Iya, ya. Mereka yang menikah cuman karena umur, yang di budaya kita masuk kategori ‘tua’, pasti nggak tau rasanya cerai karena kehidupan menikahnya ndak bahagia. Atau kalaupun ndak cerai, ya kebayang betapa menderitanya menghabiskan sisa hidup bersama orang yang hatinya bukan tujuan hati sendiri.

    Dan mereka yang menikah hanya karena ‘takut zinah’, pasti belum pernah ngerasain rumah tangga berantakan karena usia yang belum matang. Aku tau, karena anggota keluargaku ada yang mengalami ini.

    Thanks for share it, btw… =)

  2. Aku suka percakapan kalian, gak semua temen bisa diajak ngobrolin cerita pernikahan sewoles itu. Aku setuju sih, jangan menikah dengan alasan ingin bahagia. Hellow menyatukan dua orang dengan sua karakter yg belum beda dan dua masalah yang berbeda, blm masalah keluarga dan lain-lain. Menikah itu masalah kesiapan hati dan pikiran, jadi saat ada masalah menerpa mindset kita bukan cm untuk jangka pendek tp bepikiran jangka panjang.

  3. Bukunya Michael Cunningham yg THE HOURS itu yang lambangnya jam pasir ya mbak jen? Itu sepertinya aku sering liat di toko buku, tapi gak ngeh kalo ternyata itu buku yg dijadiin film. the hours “.-.

    Tau gitu, akunya beli itu buku, plus juga ku tak blm nonton filmnya juga. Dan soal. Novel mrs dalloway aku pun belum baca, jadi gak.tau ceritanya^^

    Perihal menikah, menurutku sih menikah itu harus dengan ketetapan hati. Ketetapan hati dalam membuat keputusan untuk menikah, ketetapan hati untuk memilih seseorang sebagai pendamping hidupnya, dan ketetapan hati yang perlu ditetapkan lainnya..

    Intinya, menikah itu tidak. Bisa karena terbawa suasana atau musim. Nikah semata, atau menikah karena paksaan dari keluarga. Sungguh sangat disayangkan, bagiamana melihat banyaknya kasus menikah karena kecelakaan, dan banyak yang dibawah umur pula.

    Secara kejiwaan mereka belum siap untuk menikah, namun kondisi sosial dan keterpaksaan akibat adanya n paksaan keluarga demi menghindari rasa malu, diakibatkan kecelakaan itu maka menikah hanya akan mengorbankan semuanya, kedua orang yamg menikah, dan kedua keluarga
    anak yang menikah karena terpaksa tadi..

    Semoga saja, kita semua bisa menikah karena ketetapan hati untuk menikah, bukan lagi keterpaksaan akibat keluarga, suara usil ataupun karena dikejar usia.

    Semoga…

  4. Ada sensasi beda sebelum dan sesudah menikah
    Tp yg jelas sy bahagia setelah menikah
    Aura pun keluar
    PD pun bertambah

    Kadang sy mikir knapa ga dr dulu nikah hehehe
    Tp mungkin beda yg sy rasakan jika menikah awal…bisa sj jodoh sy bukan suami skarang.
    Intinya dijalani dan disyukuri aja

  5. Betul, harus merasa bahagia dulu, kemudian memutuskan untuk menikah. Kebahagiaan sebuah rumah tangga tergantung dari kebahagiaan dari anggota keluarganya.
    Bahkan untuk membentuk anak yang bahagia, seorang ibu haruslah bahagia dahulu. Seorang ibu yang bahagia karena suami yang membahagiakannya… #haish mbulet ya…wkwkwk

  6. Menikah menjadi terdengar agak nyeremin setelah aku baca percakapan kalian. Walaupun begitu, aku setuju. Jangan mencari kebahagiaan dalam pernikahan. Karena sebaiknya kita bahagia terlebih dahulu lalu membuat orang lain (suami dan/atau keluarga) juga bahagia dengan pernikahan tersebut.

  7. Sangat benar inti dari pembahasan ini. Sebab “Menikah” lalu bahagia itu hanya sebuah harapan yang disemogakan oleh semua insan. Tapi bila tidak bahagia seblum menikah, lalu berharap bahagia, maka itu hanya sebuah kecelakaan yg menimpa kepada seseorang. Sebab ia menikah bukan pilihan tapi menikahlah yg memilihnya.

  8. Kalau saya sih percaya bahagia itu diciptakan. Jadi tergantung niatnya, nikah tujuannya apa. Kalau ingin bahagia bersama pasangan yang halal, insya Allah juga akan bahagia. Tentu dengan usaha dan doa. Karena Tuhan sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.
    Hehehe… maaf ya beda pendapat 🙂

  9. Udah lama gue gak ke sini, atau emang Joko baru muncul lagi di tulisan elu, Jen? ehehe, gue pikir bakal detail ngebahas tentang nikah.

    Tahunya review film, yang belum gue tonton, dan kayanya harus gue tonton.

    Dan baru ngeh juga, beberapa tema tulisan minggu ini banyak tentang nikah. Dengan statement “Menikah itu pilihan. Kalau kamu memilih menikah, maka hendaklah pilihan itu adalah pilihanmu bukan pilihan orang lain. Sebab itulah yang membuat pernikahan gagal. Bukan kamu yang memilih menikah, tetapi pernikahanlah yang memilihmu karena paksaan orangtua dan masyarakat.”

    gue jadi pengen ‘ngobrol bareng joko’ 😀

    1. Iya karena blog gue terlalu penuh dengan endorsement maka Joko hadir lagi. Minimal dua kali sebulan lah..
      Karena menikah adalah tujuan hidupp Cha makanya dibahas wakakakak

  10. Kompleks sekali ceritanya ya kak. Saya salut dengan penulis yang daya imajinernya tinggi. Semua tokoh diimajinasikan dengan latar belakang yang berbeda lalu ditarik garis merah agar mereka berhubungan. Memikirkankan tokohnya saja sudah sulit apalagi memikirkan cara menghubngkan mereka. Sungguh kompleks dan luar biasa

  11. Aku gak mau nikah krn umur atau paksaan harus menikah. Ya, kita harus bahagia lalu menikah. Krn kdg menikah jg gak bikin bahagia sih. Apalagi nikahnya demi nutupi aib atau lainnya

  12. Emm, sepanjang yang aku tahu…penyakit-penyakit psikologis yang saat ini muncul ada peranan besar dengan kondisi masa kecil (seperti trauma) yang mengakar dan gak terobati.

    Di sinilah pentingnya pendekatan dari segi spiritualitas.

    Semoga makin banyak orang yang yakin bahwa menikah memang bukan jalan menuju kebahagiaan, tapi bisa menjadi ladang pahala untuk tabungan akhirat kelak.

    1. Iya makanya jadi Ibu kudu bahagia…
      Masalahnya tidak semua orang bisa keluar dari pakem dan memutuskan hal yang terjadi dalam dirinya dengan sendirinya

  13. Menarik banget sesi “Afternoon with Joko”! Interaksi pure yang bikin hati nyaman yaaa. Lanjutin terus ya Kak Ajen Afternoon with Joko-nya ehehe. Aku sendiri belum nonton film the hours, tapi kalo aktingnya Meryl Streep mah udahlah emang bagus banget wkwkw. Jadi penasaran pengen baca dulu terus nonton filmnya hehe.

  14. “karena masa depan anak kita, anak-anak, anak kita dan keturunan mereka ada pada kita.”

    Sungguh pernyataan ini semakin membuat depresi. Hahahaha…
    Aku takut banget kegilaanku menurun ke Ghaza sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *