afternoon with joko, Artikel, Movie

Afternoon with Joko- Before Midnight dan Pertengkaran dalam Hubungan

image

“Berilah kami pasangan yang menerima segala kekurangan kami seperti kami menerima segala kekurangannya,”

Doa Jodoh by Joko.

Halo selamat sore,

Ini adalah rubrik baru di blog aku yang berisikan percakapan seru antara aku dan alter egoku Joko. Kamu mungkin bertanya siapa itu Joko? Joko itu yah adalah alter egoku. Dia adalah Kepribadian lain dalam diriku yang tercipta akibat kesukaanku menulis. Joko adalah teman ngobrol yang asyik. Dia seorang laki-laki yang tahun ini berusia 29 tahun.  Lahir bulan November. Seorang Scorpio. Pecinta kopi dan sunrise. Sarjana Filsafat. Penulis cerita mesum. Dan menyukai perempuan berdada rata.

Oke kembali ke Afternoon with Joko. Ini adalah sebuah blogpost yang akan tayang seminggu sekali  setiap sore tentang percakapanku dengan Joko seputaran Film dan Buku bernas yang kami nonton dan baca. Semacam review dengan gaya yang berbeda. Aku dan Joko akan berbicara segala sesuatu dengan frontal dan percayalah akan terbaca vulgar. Ceritanya Senin kemarin aku menonton Before Midnight. Ituloh film trilogi before tentang Jesse dan Celine. Filmnya mengandalkan percakapan.  Seru banget.

Kisahnya sendiri bercerita tentang 18 tahun setelah Jesse dan Celine bertemu di kereta. Keduanya telah hidup bersama di Paris dan memiliki dua orang anak kembar berusia 8 tahun. Musim panas kali ini mereka berlibur ke Yunani di tempat teman Jess yang penulis. Film dibuka dengan Jess mengantar Hank anaknya dengan mantan istrinya di Bandara untuk kembali ke Amerika. Jadi Jess dan istrinya berpisah gara2 Jess ketemu sama Celine dan sampai saat itu istri Jess masih nggak suka sama Jess dan Celine.  Setelah mengantar Hank, di perjalanan Jess mengeluh dia kangen sama Hank dan merasa kehilangan momen bertumbuh bersama anak itu. Celine merasa Jess menyuruh mereka semua pindah ke Amerika agar Jess bisa dekat dengan Hank. Bagaimana cerita selanjutnya? Nonton aja sendiri.

Setelah menonton bersama Joko, kami berdua berkesempatan membicarakan film ini.
Yah beginilah percakapan kami.

“Apa yang lo rasain setelah selesai menonton film ini, Ko?” tanya saya.

Joko memandang saya lalu ke luar jendela. Dia mendesah.
“Nih film dalam banget, Jen.”

“Samaaa. ANJRIT! menurut gue ini film paling matang dari semua film before. Maksud gue. Aktingnya, dialognya, chemistry antara Celine dan Jess. Dapatlah.”

“Gue ngerasaa Richard Linkestark err sapa nama sutradaranya? Google dong!”

“Linklater!

“Nah itu memberi sebagian jiwanya di film ini. Asumsi gue film ini untuk siapa saja yang udah membutuh pertolongan dalam hubungan. Sekuat apapun hubungan kita, sesayang apapun kita sama pasangan, senyambung apapun kita kalau bicara, tetap aja ada masalahnya. Dan banyak orang yang nggak mampu melihat masalah itu. Nah film ini hadir untuk menjawab permasalahan itu. BTW habis nonton film itu,  Gue jadi takut nikah tahu nggak, Jen. Menghabiskan waktu bersama begitu lama. Maksud gue lo nggak akan bisa pura-pura jadi orang lain di depan suami atau istri lo. Gue takut kalau nggak ada yg bisa terima gue apa adanya dan gue nggak bisa terima istri gue dan kekurangannya.”

“Ayolah lo udah main asumsi di situu. Hidup itu soal melakukan, Ko. Bukan berpikir. Yah menurut gue lo takut nikah karena berpikir menikah akan Membuat orang lain tahu kelemahan dan ekurangan lo nonsense tahu nggak. Yang lo lupa semua orang punya kekurangan dan kelemahan. Yah menurut gue terima kekurangan dia seperti dia terima kekurangan lo “

“Gue nggak beransumsi jen. Kaum lo itu yang suka beransumsi”

“Maksud lo?”

“Kaya Celine di before midnight. Lo ingat nggak adegan di hotel.  Njirrr teteknya kendur banget yah.”

“Bangkee!”

“Itu nggak penting sih. Maksud gue si Jess itu cuma pengen curhat. Gue kangen banget ama anak gue. Gue ngerasa selama ini gue jarang sama dia. Si Celine udah berasumsi si Jess bakalan ngajak mereka tinggal di Amerika.  Si Jess nggak suka Celine kerja. Dan ujung-unjung dia sampai ke satu kesimpulan Jess udah nggak sayang dia lagi. Dia udah nggak sayang Jess lagi. Yah film ini menggambarkan masalah real yang dihadapi hampir semua pasangan di dunia ini. ASUMSI.”

“Iya juga sih gue kadang gitu sama pacar gue. Dia nggak balas sms gue, gue beranggapan dia sedang ngapain sama cewek. Padahal dia lagi anteng main PS. Eh tapi jangan salahin Celine kalau dia berasumsi gitu. Itu semua karena si Jessnya nggak peka. Kebanyakan Cowok kan gitu. Cuek. Mereka pikir dengan jadi pacar atau suami sudah cukup untuk perempuan. Mereka pikir perempuan cuma butuh komitmen. Padahalkan kita butuh perhatian. Minimal lo care kek sama apa yang terjadi di dalam hubungan itu.”

“Gue harus membela kaum gue, Jen. Kita laki-laki tipe yang nggak mau cari ribut. Gue ngerasa si Celine itu yang lebay. Di satu sisi Jess cuma pengen curhat. Di sisi lain dia ngerasa Jess nggak suport dia. Bingung gue. Bagi laki-laki mencintai itu sesederhana menerima pasangan lo apa adanya.”

“Nah di sinilah gue ngerasa semua laki-laki itu egois.”

“Maksud lo?”

“Mereka pikir dengan mereka jadi suami, cari uang buat keluaraga, terima kekurangan istrinya yang sejak menikah suka ngomel dan ngomel, adalah bentuk cinta. Padahal kan nggak. Kita butuh support.  Butuh kerja sama-sama.”

“Yah mana kita tahu kalian merasa itu semua nggak cukup. Kita laki-laki bukan pembaca suara hati, Jen. Mana kita tahuu lo udah puas atau belum. Sama juga di urusan ranjang. Lo tahu kenapa banyak perempuan yg fake orgasme dan laki-laki nggak sadar? Yah karena mereka nggak ngomong.”

“Masalahnya kalau perempuan ngomong laki-laki paling terimanya gitu-gitu doang dan harga diri mereka akan terluka.”

“Nah kan asumsi. Hilangin itu asumsi, Jen! Bilang ke pasangan lo perasaan yg lo rasakan. Kalau diaa sayang sama lo dia akan berubah. Ah yah satu hal lagi yang gue tangkap dari film ini. Perempuan selalu mengharapkan laki-laki berubah. Mereka pikir pernikahan bisa membuat sifat jelek laki-laki itu menjadi lebih baik. Padahalkan pernikahan itu adalah penerimaan.”

“Huft, jadi menurut lo film ini berkisah tentang apa?”

“Menurut gue Before Midnight berkisah tentang dasar dari semua permasalahan dalam hubungan. Perempuan yang kecewa karena laki-lakinya tak berubah setelah menikah dan laki-laki yang kecewa perempuannya berubah setelah menikah.  Padahal kan hakikat dari menikah itu adalah penerimaan. Lo terima istri lo dan segala kekurangannya seperti dia menerima lo dengan segala kekurangannya.”

“Yah emang sih. Penerimaan  itu penting.”

“Bukan hanya itu, Before midnight juga lebih ke penegasan bahwa masalah dalam hubungan terjadi ketika si perempuan beransumsi terlalu jauh dan laki-laki yang merasa perhatiannya cukup. Yah agar hubungan lo langgeng ngomong apa yang menganggu lo dari si laki-laki. Kalau lo ngerasa lo nggak pernah orgasme protes. Kalau lo ngerasa dia kurang perhatian, minta. Kalau lo ngerasa dia terlallu sibuk sama pekerjaanya, bilang. Karena laki-laki selalu ngerasa diamnya perempuan itu adalah tanda dia puas. Hello, gue bukan ahli nujum yang bisa baca pikiran orang.”

“Berarti inti film ini adalah hubungan yang baik dilandasi dengan komunikasi, yah!”

“Iya benar banget! Komunikasi adalah kunci komitmen. Makanya yang belum nikah cari pasangan itu yang enak diajak ngomong. Karena 90% menikah itu adalah ngomong-ngomong. Sisanyayah seks. Seks juga gak lama sebelas menit kelar. Jadi yahh gitu cari yang enak diajak ngomong.”

“Adegan yang paling lo suka apa?”

“Adegan mereka di kamar hotel.  Itu total adegannya 30menit, tapi nggak berasa sama sekali saking asiknya mereka berantem. Kalau lo, Jen?”

“Kalau gue pas Jesse bacain surat dari 89tahun Celine. Itu romantis banget.”

“Haha itu mah karena kalian perempuan pengen banget kalau lagi ngambek dirayu-rayu. Hahahaha.”

“Iya kali ya,. BTW, film ini emang maestro sih.  Lalu berapa bintang yang lo kasih buat film ini?”

“10 of 10”

“Sama gue juga.”

Oke itulah percakapan sore saya dengan Joko. Sampai jumpa di percakapan berikutnya.
Buat kalian tonton drn film ini kalau belum nonton

27 thoughts on “Afternoon with Joko- Before Midnight dan Pertengkaran dalam Hubungan

  1. Belum kenalan sama Joko, salam kenal yaaah,suka deh kalau punya lawan bicara yang bisa sharing kayak Joko, gudlak yah Joko sama Ajen, jangan berantem heueheue… untuk flimnya, obrolan kalian membuat saya penasaran pengen nonton

  2. Duh jadi tertarik sih, tentang penerimaan dan komunikasi. Tapi takutnya sih ya malah setelah diomongin malah jadi saling gak bahagia gitu karena ego nggak mau turun. Dan sebenernya kebahagiaan dalam pasangan gitu apa sih, yah gitu intinya

  3. Si Joko yg sama Lastri ituuuu

    Paling enak itu kumpul sama org yg bs diajak ngomong. Gak kebayang kalau punya temen, pasangan yg pendiam, gak respon, serba salah. Oh iya, yg bs diajak ngomong jg bs mendengarkan sih

  4. jadi penasaran dengan film ini Jen, aku donlod dulu aaah. seru juga ya kalau ada percakapan seperti dirimu dan Joko, jadi tahu bagaimana dua kepribadian ada dalam satu tubuh.

  5. jadi penasaran dengan film ini Jen, aku donlod dulu aaah. seru juga ya kalau ada percakapan seperti dirimu dan Joko, jadi tahu bagaimana dua kepribadian ada dalam satu tubuh. jangan-jangan kamu sebenarnya ingin seperti si Joko dalam dunia nyata ya?

  6. Cara mereview film yang unik. Baru kali ini saya baca yang modelnya percakapan. Kreatif!

    Kayaknya ini film bagus ya…banyak hal positif yang bisa diambil. Salah satunya memperhatikan pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. Itu pendapat Joko tentang perempuan dan sikap laki-laki, memang ada benernya juga sih. Dua orang berbeda jenis yang mempunyai sifat masing-masing.

  7. Dalam pernikahan… Ada yang harus dirubah ada yang ngga..apa pun yang dilakuin adalah untuk kelanggengan rumah tangga..

    Perubahan tentu untuk ke kebaikan…,
    Untuk yang baik masa gak mau berubah sih..

    Penasaran ..Ama filmnya

  8. ada dua hal yang musti aku lakuin setelah baca postingan ini : 1. download film before midnight. 2. maen ke blog ini tiap minggu buat baca afternoon with Joko 😀

    btw, salam sama Joko yaaaak,,, kami sama-sama scorpio 😀

  9. eh, kirain Joko itu ehem-ehemnya mbak ehhehee
    senang pasti ya kalau dapat teman ngobrol yang nyambung denan kita terus seru lagi, jadi ga bosan ngobrol lama-lama

  10. Awalnya aku kira pak presiden kita, eh ternyata cuma sama nama aja..

    Btw filmnya ini film lawas? Apa barusan tayang di bioskop? Tapi aku kelewat gitu. Kalau iya nontonya bisa via apa jen? Mau jg dunk infonya

  11. Kok, kalian berdua tu kayaknya cocok banget gitu, ada chemistry yg dalam di percakapan kalian berdua.
    Kalian membahas sebuah film yg sejatinya terdapat kesimpulan yg sama, tetapi karena kalian di pihak gender yg berbeda kalian…eh, tapi Joko itu kan alter ego di dalam diri ajen! 😑 Pantas aja..

  12. Aku belum nonton film before-before ini…tapi suka baca sama denger para penikmat film kalau berdiskusi. Mereka suka bilang, sutradanya bisa bikin tiap film hidup dengan permasalahan masing-masing.
    Dan dari Ajen aku tau kalau Before Midnight yang paling kece.

    Aku seneng Ajen bisa kasih insight yang berbeda dari sebuah film.
    Dan seharusnya, kita mengakui bahwa kita punya sisi lain ((seperti Joko)) ini.
    Karena sejatinya, hanya kita yang mengenal diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *