Menjadi Dewasa adalah Jalan Panjang Menuju Langit Kelabu

international_Sky_&_1d4c763f-2190-4f14-a752-3d8eb97b5ff4-01

#1

Halo semuanya, terima kasih sudah singgah dan membaca artikel ini. Saya putuskan untuk membuat 26 Artikel sebelum tanggal 10 September atau sebelum saya berusia 27 tahun yang dikelompokan di Being 27. Nanti rencananya, pas ulang tahun mau bikin Give Away hehehe..

Menjelang 27 tahun adalah usia yang bisa dibilang tua tapi masih muda. Kok bisa? Yah alasannya banyak. Selain itu tulisan ini juga dibuat karena saya terlalu sering mengupdate status FB tetapi malas menulis postingan sehingga memenuhi blog dengan artikel berbayar. Saya harap tulisan ini dapat berguna.

Saya memutuskan untuk menulis postingan ini ketika terbangun di suatu pagi saat berusia 26 tahun 9 bulan. Tanpa terasa 3 bulan lagi usia saya sudah bertambah setahun. Selain itu saya pikir saya mengalami kecanduan membuat status FB yang cukup parah dan sedihnya status saya nggak jelas semua. Saya membuat status begitu banyak dalam sehari sehingga lupa menulis untuk blog saya. Akan ada 26 tulisan dan di tulisan pertama ini, saya akan menulis tentang menjadi dewasa, kecanduan Facebook, dan membangun mental kuat

Saya menyadari salah satu sifat saya yang tiba-tiba muncul akhir-akhir ini adalah iri hati terutama kepada mereka yang tampak sukses di Facebook (FB) atau mereka yang menulis status FB keren sekali sehingga mendapat banyak komen dan like. Saya tiba-tiba mulai menilai kekerenan seseorang dari banyaknya like di FB dan membuat saya menjadi sedih karena tak banyak like di FB saya. Yaps kalau kamu pernah merasa seperti di atas, selamat kamu kecanduan FB dan kamu tak sendirian.

Ada masa, ketika saya ingin menonaktifkan FB dan membuat FB baru yg fresh, tetapi kemudian banyak hal yang mengurungkan niat saya itu, salah satunya adalah FB memberi keseppatan saya mendapatkan lebih banyak job blog dan ada beberapa kampen yg mengharuskan share di FB. Duh, dilema juga jadi blogger ini. Hal ini kemudian membuat saya menelaah, apa yang membuat saya begini?

Saya menyadari bahwa FB membuat saya terpukau, banyak sekali hal luar biasa yang terjadi pada teman-teman FB saya, hanya dengan scroll saya bisa tahu Si A dapat duit, Si B ke luar negeri, Si C baru aja nikah.. Nikah.. hem dibahas nanti yah.. Secara tidak sadar saya mulai membandingkan diri saya dengan mereka dan kemudian membuat saya harus menulis hal keren tentang saya di FB biar A,B, dan C yang keren itu tahu saya juga keren.

Hidup dan bertumbuh di era globalisasi memang penuh tantangan. Kita tidak lagi membuat standart sendiri, tetapi mengikuti standar orang lain. Hal itu terjadi karena media sosial membuat kita begitu dekat dengan orang lain. Suatu waktu, bahkan seorang yang takk pernah sedikit pun memberi like atau komen di FB saya, datang dan mengucapkan selamat saya telah lulus di UI. Ah pasti tahu dari status FB saya…

Sampai di sini, saya merasa saya terlalu banyak pamernya dan seketika teringat akan filosofi Dewi Lestari “Jadilah seperti Tikus Tanah, menggali di bawah tanah, orang nggak tahu bahwa kita sudah membuat terowongan besar dan munculah ke permukaan saat terowongan selesai dibuat” Menjadi manusia dewasa yg tumbuh di era globalisasi membuat kita menjadi manusia dewasa yang suka pamer. Mengumbar kebahagian di media sosial tetapi memasukan statemen yang menunjukkan bahwa saya hebat. Yah sebenarnya sah-sah saja sih pamer di Medsos, kalau ada yang tak suka yah itu urusan dia.

Bagi saya menjadi dewasa adalah hal yang sulit terutama saat melawan ego diri sendiri. Secara tak sadar kita membuat standar karena melihat kesuksesan orang lain di media sosial. Di umur segini udah begini, begitu, masa aku nggak? Yang bikin menyedihkan adalah ketika kita sibuk menperhatikan itu dan lupa menikmati waktu kita hidup. Percayalah saya banyak membaca buku tentang motivasi, tetapi tetap saja perasaan yang mengatakan saya kurang begitu baik, selalu ada. Ah dewasa memang rumit dan benar sekali tak ada hubungannya dengan umur, justru semakjn tua kita semakin kuat pula suara negatif di dalam diri menghancurkan kita. Makanya semakin tua kita mesti banyak belajar terutama cara berdamai dengan diri sendiri.

Saat kecil, banyak sekali janji yang kita buat pada diri sendiri terutama tentang tidak menjadi dewasa seperti orang dewasa di sekitar kita; Munafik, tukang gosip, melarang ini dan itu, dan sebagainya. Namun pada kenyataanya, kita tumbuh menjadi seperti itu. Hal tersebut karena saat kecil kita berpikir bertambah besar segala sesuatu menjadi mudah. Sebuah Artikel di Guardian, pernah mengatakan begini, Orangtua yang baik adalah orangtua yang memberi tahu anak-anak mereka bahwa hidup adalah berusaha. Penting sekali untuk memberi pekerjaan pada Anak-anak agar mereka tahu menyeleaikan sesuatu dan bertanggung jawab. Saya sendiri sejak kecil tidak pernah mengerjakan perkejaan rumah, banyak kekuarga yang tinggal di rumah. Saat SMA baru saya terjun ke Dapur. Kurang bagus buat saya karena terbiasa enak. Jadi saya pikir jika punya anak harus membiasakan mereka melakukan pekerjaan rumah. Saya nggak ingin anak saya tubuh menjadi orang dewasa dengan mental yang lemah seperti saya.

Saya menyadari mental saya lemah, mudah terbawa arus, suka menggosip, peduli dengan oendapat orang lain, masih sering stalking masa lalu dan sebagainya. Saya belajar menjadi dewasa maka mental kita harus kuat. Salah satu cara agar mental kuat adalah membaca. Saya akui saya sedikit sekali membaca tahun ini, mungkin hanya 5 Buku. Menyedihkan. Saya kira saya harus banyak membaca dan membuat rubrik Afternoon with Joko lagi. Saya mulai dengan membaca satu buku perminggu saja.

Cara berikutnya agae bemental kuat adala olahraga. September nanti saya akan mulai mengikuti kelas Yoga di sebuah klub olahraga di Margo city. Setelahnya saya berencana mengikuti kelas jadi instruktur yoga. Yoga sudah menjadj passion saya sejak lama. Akhir-akhir ini satu-satunya olahraga yang saya lakukan adalah lari dari kenyataan.duh!

Agar bermental baik juga kita harus punya Hobi. Memiliki Hobi membuat kita lupa pada hal jelek apalagi hal jelek tentang orang lain. Hobby saya adalah menulis, saya pikir saya akan mulai menulis cerita fiksi lagi..

Setelah menulis catatan panjang ini saya menyadari satu hal, kalau kita bermental lemah, tidak berusaha melawan hal negatif di dalam diri maka masa dewasa kita adalah jalan panjang menuju langit kelabu. Ubah segala hal buruk, bermental kuat, selalu positive sehingga jalan kita menuju langit biru.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *