by

Pada Suatu Waktu, ketika Saya Merasa Ada yang Tidak Beres dengan Kejiwaan Saya

me

Seorang teman lama memposting sebuah gambar di facebooknya. Inti dari gambar itu adalah, kita hidup di dunia ini hanya sementara, banyaklah berdoa agar masuk surga. Saya terusik bertul dengan tulisan itu. Saya terkenang akan seseorang yang sempat saya kenal. Dia getol sekali berdoa. Ke gereja sampai tiap hari. Namun sifatnya buruk sekali. Saya bahkan pernah mendengar dia bergosip. Sampai di sini saya berpikir? Apakah doa saja cukup menyelamatkanmu?

Lalu sudah sampai paragraph kedua, kok nggak ada hubungannya sama judul yang panjang di atas? Ah tenang saja ini bukan wacana dalam bagian bahasa tes TPA. Jadi nggak masalah kalau ngalur ngidul, nggak ada yang berusaha mencari kesinambungan kalimat. Yang jelas saya berpikir tentang diri saya sendiri. Seketika saya merasa, kejiwaan saya sedang tak beres. Saya sering kali dengki akhir-akhir ini. Dengki adalah perasaan ketika kau jengkel atau kesal pada keberhasilan seseorang. Saya menyadari perasaan ini menguasai saya beberapa waktu. Saya menulis ini karena, perasaan seperti ini tak boleh dibiarkan terlalu lama.

Saya menyadari tahun ini, saya jarang sekali berdoa. Inilah yang menjadi musabab pikiran saya tak menentu arah. Saya percaya bahwa Doa bisa membuat saya tenang dan berpikir postif, tapi saya juga tak percaya hanya dengan berdoa, saya akan mendapatkan apapun yang saya mau. Saya jadi ingat sebuah pepatah latin; Ora et Labora. Berdoa dan bekerja. Kalau dengan berdoa saja segala hal bisa saya dapatkan, buat apa Tuhan menciptakan otak? Namun demikian bekerja tanpa berdoa pun memiliki hasil yang sama saja. Jadi saya kira, saya kurang berdoa akhir-akhir ini.

Saya juga kurang sekali membaca. Malah asik membaca status facebook orang yang tak berguna. Kemudian saya sadar satu hal. Salah satu masalah saya terjadi karena saya terlalu sering melihat media sosial. Bangun pagi langsung buka FB, IG, dan Webtoon. Setiap hari bangun terlambat. Boro-boro bersyukur, ingat Tuhan aja enggak. Ah disinilah saya kemudian menyadari betapa sosial media itu membantu otak kita untuk menghancurkan kita. Otak kita ini senang betul melakukan sesuatu yang membuat kita berada di titik nyaman. Alhasilnya kita enggan melakukan hal-hal rumit tapi berarti. Membunuh kita pelan-pelan dengan kenyamanan.

Saya rasa ini adalah masalah saya. Saya masih menjadi budak pikiran saya. Dia sangat sarkas akhir-akhir ini. Mengkritik dengan kejam kekurangan saya dan mencemooh kelemahan orang lain. Alhasil begitu melihat orang lain sukses, merasa tak terima. Mengerikan bukan? Apakah ini bukan masalah kejiwaan? Saya kira satu hal lain yang membuat saya mengalami ini semua adalah saya merasa diri saya tak berarti. Kalau merada diri tak berarti, bagaimana menjalani hidup dengan baik? Ah bahkan saat menulis ini, pikiran-pikiran buruk kembali muncul,.Kalau dibiarkan akan menjadi permasalahan kejiwaan yang berat. Sudah saatnya saya menyembuhkan diri.

Saya mencoba berbagai hal untuk menyembuhkan diri. Hal pertama yang saya lakukan adalah memperbaiki cara saya berpikir. Berpikir bahwa saya berarti bergitu juga dengan empat miliar manusia lainnya. Saya menyakini satu hal. Tuhan pasti punya alasan mengirim kita di bumi ini. Saya berpikir begini. Kita semua manusia adalah agen rahasia Tuhan yang punya misi di dunia. Ketika akan dikirimkan ke dunia, ingatan kita akan misi kita hilang. Kita dilahirkan menjadi nol. Sedikit demi sedikit, seiring dengan pertambahan umur kita mulai mengetahui apa misi kita di dunia ini.  Karena itu sebagai manusia kita punya misi khusus dari Tuhan. Sayangnya banyak godaan yang akan menggetayangi kita selama kita melakukan misi itu. Namun tenang saja, Tuhan akan mengirimkan tanda ketika kita sudah jauh dari sinyal kita. Apa misi kita? Ah kalau belum menemaukan tenang saja. Tuhan selalu menyertai kita. Di mataNya kita adalah anak-anakNya yang berharga. Ingatlah hal itu jika kau merasa tak berdaya dan terpuruk dalam kegalauan. Allah Tuhanmu, takkan pernah meninggalkan engkau. Berdoa, berkerja, dan percayalah Tuhan membantumu.

Ah, mungkin perasaan bahwa kejiwaan saya sedang bermasalah ini adalah salah satu tanda dari Tuhan bahwa saya sedang memutar balik menjauhi misi saya di dunia. Saya belum tahu misi saya apa, tapi saya tahu itu hal yang baik. Karenanya hal berikutnya yang saya lakukan. Bersyukur. Bersyukur bahwa saya mampu melihat masalah dengan cara positif termasuk menulis catatan panjang di blog ini. Saya ingat jadi pengarang favorite saya Micth Albom dalam buku “Never Lost Faith” menulis bahwa seberapa resep untuk menjadi bahagia adalah bersyukur dan melepaskan hal-hal menyakitkan.

Pernah cabut gigi? Susah kan? Yaps begitu juga dengan melepaskan. Susahh.. Sekali lagi susah itu adalah pikiran dari pikiran kamu. Manusia pada dasarnya ingin dihargai. Jadi ketika tidak dihargai, maka muncul kebencian mendalam. Ketika ingin melapaskan kebencian itu, pikiran kita akan menyuntik segala macam stimulus yang intinya bilang kita untuk tetap marah. Mengerikan sekali yah pikiran kita? Lalu buat apa di diciptakan? Nah ini adalah salah satu cara agar kita bisa mengetahui misi kita di dunia. Dengan mengendalikan pikiran kita dan membuatnya terarah. Pikiran bijak akan menuntut kita ke hal bijak. Jadi inti dari tulisan panjang saya ini adalah.. Mari kita mengendalikan pikiran kita. Buatlah dia memikirkan hal baik saja tentang diri kita dan orang lain. Karena kita adalah kesayangan Tuhan, jadi jangan biarkan pikiran kita dipenuhi hal-hal buruk. Tuhan itu baik, maka kita juga.

 

 

8 Comments


  1. // Reply

    Yup benar, aku pun selalu meyakini, masing-masing kita punya peranan penting kenapa kita dilahirkan ke dunia ini.


    1. // Reply

      Mari selalu berpikir semangat Mbakk 😆


  2. // Reply

    Stay positive ya, Ajen. Sehat terus dan semoga selalu dekat dengan Tuhan supaya bahagia lahir dan batin. 🙂


    1. // Reply

      Iya Tehhhhh…
      Tetehh jugaa yahh


  3. // Reply

    selalu berpikir positif thinking aja ya mbak , agar hidup lebih tenang


  4. // Reply

    ya karena hal yang baik akan berbuah kebaikan juga. stay husnuzhan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *