Berbicara Tentang Masa Lalu

images

Berbicara tentang masa lalu kadang bikin beberapa orang merasa sedih. Saya menemukan bahwa ada begitu banyak orang yang hidup di masa lalu dan menjalani masa sekarang dengan berharap masa lalu bisa diperbaiki. Mereka memang berada di saat sekarang, tetapi pikiran mereka masih ada di masa lalu. Saya pernah ada di masa itu.  Dulu. Ketika otak saya masih malas menerima apa-apa.

Sekarang ketika saya membaca banyak buku, bertemu orang-orang keren, Melakukan aktivitas mengagumkan, saya menyadari hanya orang yg kesepian yang tak bisa move on dari masa lalu. Setelah menpelajari berbagai mekanisme pertahanan ego dan menyelami beberapa buku tentang kebahagian, saya menyadari bahwa musuh terbesar yang menghalangi seseorang untuk bangkit adalah dirinya sendiri. Lalu apakah kita harus berperang melawan diri sendiri?

Lao Tzu dalam art of War berkata bahwa strategi berperang yang baik adalah serang musuh di titik terlemah mereka. Di kala mereka sedang berpesta atau di kala mereka tertidur. Strategi yang sama mungkin bisa dipakai untuk mengalahkan diri sendiri. Jangan pernah melawan ketika dirimu dipenuhi amarah atau bahagia. Kau hanya akan membuat keadaan memburuk. Sebaliknya tenangkan dirimu dari masalah. Sibukan dirimu dengan hal-hal lain. Ketika kau berada pada titik tenangmu. Ketika dirimu lemah terhadap amarah. Beri perintah agar melupakan masa lalu. Biasanya berhasil.

Mengendalikan diri sendiri adalah sebuah perkara besar. Baru-baru ini saya membaca sebuah webtoon berjudul Dr. Frost, seorang ahli psikolog yang menemukan berbagai kasus psikolog. Setelah membaca webtoon ini, saya menyadari bahwah keluarga adalah akar dari semua masalah psikolog. Banyak sekali mereka yang mengalami masalah psikolog terutama gangguan kepribadian berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Sampai di sini saya bersyukur karena memiliki keluarga harmonis.

Membiacarakan masa lalu, membuat saya tertarik untuk membahas tentang patah hati. Patah hati adalah tanda bahwa kau dewasa. Patah hati terjadi ketika dia yang kita sukai memilih untuk tidak menyukai kita. Kita tentu akan sakit hati terutama jika kita sudah memberikan segala-galaya. Namun apakah kebahagian kita layak dikorbabkan karena itu? Saya ingat pernah membaca perkataan Agus Noor, kira-kira begini “Kalau dia  memutuskan pergi, mungkin bukan karena dia tak bahagia, tetapi kau yang tak bahagia jika bersamanya.” Aku merasa ada banyak fenomena dimana seseorang ingin bersama seseorang bukan karena cinta atau sayang, tetapi karena terpaksa atau lebih buruk lagi kasihan. Yah pikiran kita kejam banget, apalagi kalau kita lemah. Dia pasti akan meracunimu dengan pikiran orang yang saat ini ada bersamamu, jika dia pergi, maka kau akan mati. Pikiran-pikiran itu datang terus dan akhirnya kau percaya kau akan mati tanpanya. Kau akan malu sendiri beberap waktu kemudian ketika kau sudah menemukan kekasih baru dan membaca diarimu tentang itu hahhaha. Lagipula patah hati bikin kita lebih menghargai diri kita dan yg terpenting membuat kita tahu siapa saja sahabat yg akan berada di sisi kita. Mendukung kita selamanya.

Yang jelas jika kau patah hati dan membaca postingan blog ini. Ingatlah bahwa kau sedang berada di jalan terbaik dalam hidupmu.

 

 

One thought on “Berbicara Tentang Masa Lalu

  1. kadang2 susah loh Jen utk move on. Padahal udah tau, gak ada gunanya nyeselin yg udah lewat tapi ya kdg kejeblos balik lagi ke pola itu lagi itu lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *