Mengenang K

87caecc15963d494ce0c4fd802ec7187

Berbicara tentang kanker  selalu membuat saya terkenang akan pasien saya K. Saya tidak akan menulis namanya siapa, karena memang sebagai perawat saya telah bersumpah untuk tidak membocorkan identitas pasien-pasien yang saya rawat. Namun demikian kisah K  selalu membuat saya terinspirasi. Begitu membaca tentang giveaway Mbak Indah tentang kanker payudara, saya langsung teringat K. Dia tidak menderita kanker payudara,, tetapi kanker tulanng. Dan saya bertekad saya tetap akan menulis tentangnya, bukan hanya untuk mengikuti giveaway tersebut, tetapi pengingat untuk saya yang mulai kehilangan semangat hidup ini.

Kami pertama kali bertemu di bangsal kanker anak RS Fatmawati. Saat itu saya masih menjalankan profesi ners, setelah mendapat gelar sarjana keperawatan. Ners dilaksanakan selama setahun. Selama itu, kami akan melakukan praktik di beberapa RS besar di Jakarta. Kalau diingat-ingat saat kami bertemu, merupakan saat terburuk dalam hidup saya. Saat itu sudah enam bulan saya menjalani ners dan saya mulai lelah. Usia saya waktu itu 22 tahun, usia yang menurut Erikson adalah usia terjadinya krisis kehidupan kedua. Krisis jati diri. Saya sedang dilanda kegalauan luar biasa. Tiba-tiba saja saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya mulai merasa saya tidak cocok menjadi perawat. Dan yang paling parah saya merasa Tuhan menciptakan saya saat sedang main-main saja. Saya kadang merasa tidak adil, karena beberapa orang diciptakan dengan sempurna dan tampak tak pernah galau, mereka yang diciptakan Tuhan saat sedang serius. Ah pokoknya waktu itu saya sedang dalam suasana hati yang muram betul.

Saat ners ini kami biasaya dibagikan pasien. Saya mendapat tugas untuk mengkaji K. Dengan malas-malasan saya pun pergi ke kamar K. Begitu tiba di kamarnya, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dengan tubuh kurus dan kepala botak menyambut saya dengan senyum yang sangat lebar. Saya pikir saya tak pernah menjumpai orang dengan senyum lebar seperti itu. Kedua matanya sampai-sampai tertutup.

“Halo,” kata saya.

“Halo juga, Suster. Nama saya K.” dia mengulurkan tangannya sambil terus tersenyum

Saya menyambut uluran tangannya. Genggamannya hangat dan kuat.

“Saya Suster Ajen,” ujar saya.

“Halo suster Ajen. Saya K dan umur saya 11 tahun. Saya punya kanker di tulang saya. Dua bulan lagi kaki saya akan diamputasi.” Masih dengan tersenyum K berkata dan menunjukkan kakinya.

Saya terkejut benar dengan nada suaranya yan riang itu. Saya melihat kaki kananya yang sedikit bengkak. Sesuatu dalam hati saya, entah apa, tiba-tiba tergugah. Dan saya kehilangan kata-kata.

“Ah ada Suster.” Seorang perempuan cantik dengan wajah lelah, muncul dengan wajah tersenyum dari luar pintu.

“Hai, Ma ini suster Ajen.” Ujar K.

Seketika saya sadar anak ini jenius, tak ada bahkan orang dewasa sekali pun yang mampu mengingat nama saya hanya sekali diucap.

Pertemua pertama itu berlangsung ke puluhan pertemuan berikutnya. K selalu berkuat dengan tab-nya dan membaca hal menarik di internet. Dia mengatakan dia menyukai Bola. MU klub favoritnya dan Wayne Roonie adalah pemain kesukaanya. Dia senang sekali bermain bola dan walau sakit, dia masih menujukkan semangatnya.

“Nanti aku mau main bola kalau udah sembuh, Suster,” ujarnya

Seperti dugaan saya, K adalah anak jenius. Menurut Ibunya IQnya 130 dan selalu juara 1 di kelas. Dia bersekolah sampai kelas 4 SD, sebelum kemudian mengalami kanker enam bulan lalu.

“Mula-mula ada benjol sebesar kelereng di kakinya, kemudian setelah diperiksa, Dokter bilang itu adalah tumor. Tak lama kemudian tumor itu mengalami keganasan dan harus diamputasi,” ujar Ibunya suatu waktu saat kunjungan saya yang kesekian kalinya.

“Bagaimana dengan khemotherapi?”

“Sudah, Suster, tapi tidak membantu. Jadi satu-satunya cara kakinya harus diamputasi.”

Saya terdiam sejenak.

“K anaknya cerdas, Suster. Waktu tahu dia menderita kanker dia mencari di internet. Dia bilang kepada saya. ‘Ma, banyak kok pasein kanker tulang yang bisa sembuh lagi.’” Mata ibu K mulai berkaca-kaca. “Dan waktu tahu kakinya harus diamputasi, dia nggak stress seperti kebanyakan pasien kanker, Sus. Dia malah bilang. ‘Ma maaf yah aku bukan anak Mama yang sempurna lagi, kaki aku akan hilang satu.’” Ibu K kemudian larut dalam air mata. Mendengar itu saya  menghibur Ibu K. Setelah tangisannya resa, saya pernusi  ke toilet dan masuk ke salah satu bilik, kemudian mulai menangis.

Anak kecil itu benar-benar menampar saya. Di saat dia mengalami masalah besar seperti kanker, yang dia pikirkan bukan malangnya nasibnya, tetapi malah memikirkan perasaan Ibunya.  Kemudian saya membandingkan dengan diri saya yang hanya dikasih masalah kecil saja, sudah berpikir hidup ini tak berguna bahkan dengan jahatnya bilang saat menciptkan saya, Tuhan sedang main-main saja. Saya merasa saya jarang sekali bersyukur. Seketika itu juga saya sadar, besar kecilnya masalah sangat tergantung dengan bagaimana kau memandangnya. K memandang kanker tulangnya bukanlah masalah besar, mengecewakan  ibunya lah yang menurutnya adalah masalah besar.

Saya kira hal inilah yang bisa membuat semua pasien kanker bisa semangat menjalani terapi menyakitkan dan bahkan bisa kembali sehat. Semangat yang ada dalam dirinya. Tanpa semangat itu, penyakit kankernya semakin bertambah parah. Bahkan beberapa penelitian di Amerika juga membeberkan fakta bahwa stadium kanker bisa meningkat jika penderita mengalami stress. Beberawa waktu lalu aku baca sebuah buku bagus berjudul Last Lecture, berkisah tentang kuliah terakhir yang diberikan seorang professor komputer yang mengalami kanker pancreas stadium akhir. Di buku itu dia menuliskan bahwa kanker pancreas menyadarkan dia bahwa betapa berartinya hidup ini. Kanker membuat dia sadar bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menikmatinya dengan hati gembira.

fa55ed69dda66b742efb4b896803e76b

 

Selain semangat, dukungan dari keluarga adalah salah satu faktor yang mencetus kesembuhan. Pada K misalnya, Ibunya begitu semangat menjaga dan merawat K. Pun demikian dengan Ayah dan Kakak K yang berusia 17 tahun. Keluarga adalah penopang di saat kita jatuh.

Berikutnya yang terpenting adalah Doa. Serahkan masalah kita pada Tuhan. Ingatlah bukan berarti kamu mengalami kanker, itu berarti Tuhan mengutukmu. Tidak. Kanker Juga bukanlah beban. Jadi jangan sampai kamu merasa kecil karena Kanker. Seperti K selalu teesenyum dan memiliki impian. Kanker bukanlah penghalang. Kanker bukanlah alasan dia mengutuk hidupnya. Kanker bukanlah alasan dia mengatai betapa tak adinya Tuhan. Ah anak kecil itu masih selalu membuat saya termotivasi dengan memikirkannya saja.

Dengan semangat hidup,  keluarga, dan doa. Tiga hal itu akan mendukung mereka yang mengalami kanker dan melaksanakan khemoterapi dengan semangat. Dan akan sembuh.

Lalu bagaimana dengan kita yang masih sehat ini? Jangan harap kita tidak diincar kanker. Kanker adalah sel yang mengganas, penyebabnya ada banyak dari keturunan, gaya hidup yang tidak sehat, sampai kelainan genetika. Sesungguhnya kanker bisa terjadi pada siapa saja, apalagi dengan era yang penuh polusi ini. Maka dari itu marilah kita memulai gaya hidup sehat. Beberapa caranya adalah:

BERSYUKUR.

Pratice gratitude everyday, because you are lucky to breath. Yes banyak orang di luar sana yang untuk bernapas saja mesti pakai alat. Paru-paru kamu yang masih sehat itu adalah alasan utama untuk bersyukur setiap hari.

Kurangi konsumsi Mie ayam, Bakso, Mie Instan, Gorengan, Burger, dan Junk Food lainnya

Makanan-makanan ini mengandung pengawet dan MSG yang dapat memicu kerusakan sel dan juga merupakan karsinogen, zat pemicu kanker.

Olahraga.

Dan yang terakhir, berusahalah untuk bahagia. Iya bahagia itu penting.  Caranya adalah sesederhana mengatur pikiran kita agar selalu bahagia. Tidak berprasangka buruk pada orang lain, tidak merepotkan pikiran orang lain tentang kita, dan selalu melihat hal baik pada semua orang.

Saya tutup blog post ini dengan sebuah kabar gembira. K telah dinyatakan terbebas dari Kanker. Tahun 2014 lalu, Ibunya mengirim SMS dia telah pulang ke rumah dan bahkan meminta agar kursus piano. Sayang sekali HP saya hilang dan kontak Ibu K telah hilang juga. K dimana pun kamu berada, terima kasih sudah memberi motivasi pada saya. Terima kasih sudah mengajarkan saya untuk hidup dan menikmati hidup. Terima kasih sudah mengajarkan saya bahwa Tuhan selalu punya alasan indah untuk setiap cobaan dalam hidup. Terulah hidup seperti saya yang juga selalu akan terus hidup. Tuhan memberkatimu dan kita.

 

            Suster Ajen

blogger-image-1394065877

 

13 thoughts on “Mengenang K

  1. Bertemu dengan para survivor kanker cilik itu memang mengagumkan mb. Saya sering bertemu dengan mereka saat sama.sama kemoterapi. Mereka bahkan lebih terlihat santai dan selalu tertawa saat sama sama di rawat.

  2. thank you for sharing this story Ajen… walau pas baca kl bisa stop makan gorengan dan makan instant langsung jleb… Iya, kita terlalu menikmati gaya hidup gak sehat dan berpaling ke yang sehat malah ogah krn gak nyaman. Tp sudah semestinya dimulai dari sekarang…. Semoga K tetap sehat selalu & mulai beraktivitas kembali …

  3. Bukan, bukan pipiku yang sakit karena tertampar kisah K
    Tapi hatiku, hatiku sakit sekali.
    Semangat K sangat besar. Hatinya bersih, baik dan…
    Makasih ya Mbak, sharingnya.

    RS Fatmawati juga pernah melukiskan sejarah dalam kehidupanku.
    Hiks,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *